Hi Urbie’s! Bayangkan secangkir cokelat hangat yang kamu nikmati sore hari. Di balik rasanya yang manis, ada perjalanan panjang dari kebun kakao, tangan-tangan petani, hingga proses fermentasi yang menentukan kualitas akhirnya. Nah, di balik rantai panjang itu, Indonesia dan Prancis kini sedang membangun masa depan baru untuk industri kakao lewat sebuah kolaborasi besar bernama IndoKAKAO.

Pada 17 Juni 2026, kedua negara resmi meluncurkan fase kedua implementasi proyek IndoKAKAO dalam rapat Steering Committee kedua yang mempertemukan para pemangku kepentingan dari Indonesia dan Prancis. Pertemuan ini bukan sekadar evaluasi, tapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam inovasi, riset ilmiah, dan pembangunan pertanian berkelanjutan.

Urbanvibes article banner

Di balik proyek ini, ada kolaborasi besar yang melibatkan Kementerian Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, lembaga riset CIRAD, serta mitra utama dari Indonesia seperti BAPPENAS. Tujuannya jelas: membangun industri kakao Indonesia yang lebih berkelanjutan, kompetitif, dan inklusif.

Dari Diplomasi ke Kebun Kakao: Kerja Sama yang Lebih Dalam

Peluncuran fase kedua IndoKAKAO ini juga menjadi bagian dari momentum besar Tahun Inovasi Prancis–Indonesia 2026. Program ini lahir dari semangat kerja sama strategis antara kedua negara di bidang pendidikan, penelitian, dan mobilitas ilmiah.

Kerja sama ini sebelumnya telah diperkuat dalam pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan di Paris pada 28 Mei 2026. Dari sana, lahir komitmen untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dalam menghadapi tantangan global seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim.

IndoKAKAO menjadi salah satu wujud nyata dari visi tersebut—menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata petani di lapangan.

Fokus Baru: Dari Riset ke Aksi Nyata di Lapangan

Memasuki fase kedua, IndoKAKAO tidak lagi hanya berfokus pada penelitian, tetapi mulai bergerak ke arah implementasi nyata yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat petani kakao.

Fokus utama program ini mencakup peningkatan teknik fermentasi kakao untuk menghasilkan kualitas biji yang lebih baik, perluasan praktik agroforestri yang ramah lingkungan, penguatan kapasitas petani dan komunitas lokal, serta penyusunan peta jalan kakao berkelanjutan, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah.

Pendekatan ini diharapkan bisa mengubah hasil riset menjadi solusi praktis yang bisa diadopsi langsung oleh petani di berbagai daerah penghasil kakao di Indonesia.

Jejak Fase Pertama: Dari Eksperimen ke Dampak Nyata

Sebelum masuk ke fase kedua, IndoKAKAO sudah mencatat sejumlah capaian penting di fase awalnya. Para peneliti dan ahli dari kedua negara telah melakukan 15 misi teknis ke berbagai wilayah di Indonesia untuk memahami langsung kondisi lapangan.

Tak hanya itu, program pelatihan terkait kualitas kakao, fermentasi, dan agroforestri juga sudah dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan petani.

Dua fasilitas fermentasi percontohan juga telah dibangun di Pendolo (Sulawesi Tengah) dan Jember (Jawa Timur). Kehadiran fasilitas ini membantu petani meningkatkan kualitas pascapanen kakao sehingga nilai jualnya ikut naik.

Baca Juga:

Selain itu, alat digital agroforestri ShadeTreeAdvice juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, membantu petani dalam mengelola tanaman naungan secara lebih efektif dan ilmiah.

Di Bali, proyek ini juga mengangkat praktik sukses koperasi Kerta Semaya Samaniya, di mana petani secara kolektif melakukan fermentasi biji kakao untuk meningkatkan kualitas produk mereka.

Dari Output ke Outcome: Transformasi Besar di Fase Kedua

Dalam evaluasi Steering Committee, proyek IndoKAKAO dinilai berhasil melewati fase konsep dan masuk ke tahap implementasi nyata dengan kolaborasi yang solid antara institusi Indonesia dan Prancis.

Namun, fase kedua membawa ambisi yang lebih besar. Fokusnya kini bergeser dari sekadar menghasilkan output (hasil kegiatan) menuju outcome (dampak jangka panjang yang terinstitusionalisasi).

Artinya, hasil riset dan model percontohan seperti agroforestri dan uji fermentasi tidak hanya berhenti di lapangan, tetapi akan diterjemahkan menjadi kebijakan publik, standar teknis nasional, hingga materi penyuluhan resmi yang bisa digunakan secara luas dalam strategi revitalisasi kakao Indonesia.

Masa Depan Kakao Indonesia di Panggung Global

Lebih dari sekadar proyek kerja sama, IndoKAKAO menjadi simbol bagaimana ilmu pengetahuan, diplomasi, dan pertanian bisa berjalan beriringan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan global terhadap sektor pangan, kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kakao utama dunia.

Melalui pertanian berkelanjutan, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi ilmiah, Indonesia dan Prancis menunjukkan bahwa masa depan industri kakao tidak hanya soal produksi, tapi juga tentang keberlanjutan, kualitas, dan kesejahteraan petani.

Dan bagi Urbie’s, ini bukan sekadar cerita tentang cokelat—ini adalah cerita tentang masa depan yang sedang dibangun dari akar tanah Indonesia hingga panggung global.

[Block type not supported: rawTool]