Hi Urbie’s! Bayangkan ketika hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan perlahan berubah menjadi hamparan hitam bekas kebakaran. Bukan hanya pepohonan yang hilang, tetapi juga sumber air mengering, udara dipenuhi asap, hingga tanaman yang menjadi tumpuan ekonomi warga ikut musnah.

Situasi inilah yang dirasakan masyarakat Desa Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), upaya memulihkan lingkungan kini mulai diarahkan pada langkah jangka panjang melalui program Sedekah Pohon Konservatif yang didorong Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa.

Karhutla Bukan Sekadar Hutan yang Terbakar

Kebakaran hutan kerap meninggalkan gambaran berupa api, asap tebal, dan lahan yang hangus. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan terdampak, konsekuensinya jauh lebih panjang daripada peristiwa kebakaran itu sendiri.

Ahmad Guntur, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Awang Bangkal Timur, mengungkapkan bahwa berkurangnya kawasan hutan turut memengaruhi ketersediaan air di desanya. Sejumlah sumur mengering, sementara sumber mata air yang selama ini menopang kehidupan masyarakat semakin berkurang.

“Adanya kebakaran ini membuat sumber mata air kami berkurang. Itu sudah jadi dampak yang paling utama kami rasakan,” ujar Guntur.

Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya tutupan hutan yang berperan dalam menjaga daya serap air. Ketika kawasan hutan rusak, masyarakat pun harus menghadapi persoalan baru untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Urbanvibes article banner

Dampaknya tidak berhenti di sana. Kepulan asap akibat karhutla juga mengganggu aktivitas warga, termasuk kegiatan belajar anak-anak di sekolah. Lingkungan yang semestinya menjadi ruang hidup yang nyaman berubah menjadi kawasan yang menghadirkan berbagai tantangan bagi masyarakat.

DMC Dompet Dhuafa Desa Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan - sumber foto Dompet Dhuafa
DMC Dompet Dhuafa Desa Awang Bangkal Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan - sumber foto Dompet Dhuafa

Tanaman Produktif Hangus, Penghasilan Warga Terancam

Bagi masyarakat Awang Bangkal Timur, hutan dan lahan bukan hanya bagian dari bentang alam. Kawasan tersebut juga berkaitan erat dengan sumber penghidupan yang dibangun melalui aktivitas pertanian dan penanaman berbagai tanaman produktif.

Guntur menceritakan bahwa masyarakat bersama perangkat desa dan anggota MPA selama ini berupaya menjaga kelestarian lingkungan. Mereka menanam berbagai jenis tanaman, seperti durian, jengkol, dan petai, yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Sayangnya, kebakaran membuat sebagian tanaman tersebut musnah. Tanaman yang sebelumnya dirawat sebagai investasi jangka panjang kini tidak lagi dapat diandalkan untuk menghasilkan pendapatan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak semata-mata berkaitan dengan kerusakan ekosistem. Ada pula kerugian ekonomi yang harus ditanggung masyarakat, terutama ketika tanaman yang telah dipelihara selama bertahun-tahun tidak lagi bisa dipanen.

Baca juga:

Di tengah keterbatasan tersebut, anggota MPA tetap berupaya membantu penanganan kebakaran di sejumlah wilayah. Sepanjang 2026, mereka bergotong royong memadamkan api, termasuk di Desa Kiram, kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), hingga Awang Bangkal Barat.

Sedekah Pohon Konservatif, Langkah Memulihkan Lingkungan

Melihat kondisi tersebut, Tim Lingkungan DMC Dompet Dhuafa melakukan asesmen di Desa Awang Bangkal Timur pada 17 September 2026. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memahami kebutuhan masyarakat sekaligus memetakan kondisi lingkungan pascakarhutla.

Asesmen tersebut diarahkan untuk mendukung pemulihan kawasan melalui penghijauan kembali bersama masyarakat. Upaya ini kemudian menjadi bagian dari program Sedekah Pohon Konservatif, sebuah inisiatif yang mendorong kesadaran masyarakat dan para pemangku kepentingan terhadap konservasi lingkungan serta pengurangan risiko bencana.

Pendekatan ini penting karena penanganan karhutla tidak seharusnya berakhir ketika api berhasil dipadamkan. Pemulihan kawasan yang rusak, penanaman kembali, dan penguatan peran masyarakat dalam menjaga lingkungan juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan menghadapi risiko bencana.

DMC Dompet Dhuafa turut menyoroti pentingnya tata kelola hutan dan lahan yang tidak hanya bertumpu pada pengelolaan terpusat. Pengetahuan dan peran masyarakat yang selama ini menjaga alam perlu mendapatkan ruang dalam proses pengambilan keputusan maupun pelaksanaan program pemulihan.

Dengan demikian, penghijauan bukan sekadar menanam pohon, melainkan juga membangun keterlibatan masyarakat agar upaya menjaga lingkungan dapat berlanjut setelah kegiatan selesai.

Dompet Dhuafa Dorong Sedekah Pohon di Kalimantan Selatan - sumber foto Dompet Dhuafa
Dompet Dhuafa Dorong Sedekah Pohon di Kalimantan Selatan - sumber foto Dompet Dhuafa

Libatkan Anak Muda untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

Program Sedekah Pohon Konservatif juga direncanakan melibatkan anak muda yang tergabung dalam International Forestry Students’ Association Local Committee Universitas Lambung Mangkurat (IFSA LC ULM).

Kelompok mahasiswa ini aktif menggerakkan kegiatan edukatif di bidang kehutanan dan lingkungan, termasuk program Sekolah Mengajar di SMAN 2 Karang Intan, Kalimantan Selatan. Kegiatannya mencakup edukasi penanaman pohon sebagai bagian dari implementasi program Adiwiyata.

Kolaborasi tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan pengetahuan kehutanan dengan aksi nyata di tengah masyarakat. Anak muda tidak hanya berperan sebagai penyampai edukasi, tetapi juga dapat menjadi penggerak yang membantu menumbuhkan kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini.

Inisiatif ini sekaligus menjadi bagian dari respons DMC Dompet Dhuafa dalam memperingati Hari Keadilan Ekologis pada 20 September 2026. Pesan yang dibawa menegaskan bahwa kerusakan lingkungan memiliki konsekuensi sosial, ekonomi, dan ekologis yang perlu ditangani secara bersama-sama.

Bagi Urbie’s!, kisah Awang Bangkal Timur menjadi pengingat bahwa pemulihan alam membutuhkan lebih dari sekadar memadamkan api. Ketika hutan kembali hijau, harapannya bukan hanya pepohonan yang tumbuh, tetapi juga sumber air yang terjaga, habitat satwa yang memiliki kesempatan pulih, serta penghidupan masyarakat yang perlahan bangkit.

Sebab, menjaga hutan berarti menjaga kehidupan yang bergantung padanya. Seperti pesan yang diusung dalam inisiatif ini: Bumi Cuma Satu, Berdaya Sekarang.