Hi Urbie’s! Perjalanan bukan lagi sekadar “kabur sebentar” dari rutinitas. Bagi banyak orang Indonesia—terutama generasi muda—liburan kini punya makna lebih dalam: memberi dampak, bukan sekadar pengalaman. Data terbaru dari platform perjalanan digital Agoda menunjukkan perubahan besar ini. Dalam Sustainable Travel Survey 2026, sebanyak 93% wisatawan Indonesia mengaku mempertimbangkan keberlanjutan saat merencanakan perjalanan mereka.
Angka ini bukan cuma statistik. Ini sinyal kuat bahwa cara kita melihat liburan sedang berevolusi.
Liburan yang “Punya Arti” Jadi Pilihan
Bayangkan memilih destinasi bukan hanya karena estetik untuk Instagram, tapi karena uang yang kita keluarkan benar-benar membantu masyarakat lokal. Itulah pola pikir baru yang mulai mendominasi.
Hampir setengah responden (43%) ingin memastikan pengeluaran mereka berdampak langsung pada komunitas setempat. Bukan sekadar datang, foto, lalu pulang—wisatawan kini ingin terkoneksi lebih dalam.
Sebanyak 27% lainnya mencari pengalaman yang bisa membuat mereka lebih dekat dengan budaya lokal, sementara 20% fokus pada pelestarian alam dan satwa liar.
Di titik ini, “wisata berkelanjutan” bukan lagi konsep abstrak. Ia terasa nyata, personal, dan lebih meaningful.
Dari Healing ke Contributing
Kalau dulu liburan identik dengan healing, sekarang ada upgrade: healing sambil contributing.
Sebanyak 37% wisatawan Indonesia tertarik pada program yang memungkinkan mereka ikut langsung dalam pelestarian lingkungan atau pemberdayaan komunitas. Ini jadi pilihan paling populer dalam survei tersebut.
Pilihan lainnya juga nggak kalah menarik:
- 27% memilih tur yang mendukung lingkungan dan masyarakat lokal
- 20% mempertimbangkan transportasi dengan jejak karbon rendah
- 17% mencari akomodasi dengan sertifikasi keberlanjutan
Artinya, pengalaman liburan kini dirancang bukan cuma seru, tapi juga bertanggung jawab.
Asia Bergerak, Indonesia di Posisi Teratas
Tren ini bukan cuma terjadi di Indonesia. Secara regional, 77% wisatawan Asia kini mempertimbangkan keberlanjutan saat merencanakan perjalanan—naik dari 68% tahun lalu.
Namun Indonesia menempati posisi kedua tertinggi, hanya sedikit di bawah Thailand (95%). Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan isu lingkungan dan sosial semakin kuat di kalangan wisatawan Tanah Air.
Bahkan, 97% responden Indonesia percaya bahwa wisata berkelanjutan akan menjadi semakin penting dalam tiga tahun ke depan.
Baca Juga:
- MK Hapus Pensiun Seumur Hidup DPR, Langkah Baru untuk Keadilan Anggaran?
- Bruno Mars vs Taylor Swift? Ini Fakta di Balik Drama yang Viral!
- Inilah Arti THR dan Fakta-Fakta Unik tentang THR di Indonesia
Dampak Ekonomi Jadi Nilai Tambah
Menariknya, wisatawan juga mulai melihat dampak ekonomi sebagai bagian penting dari perjalanan.
Sebanyak 67% percaya bahwa destinasi yang dikelola secara berkelanjutan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lokal—angka tertinggi dibanding negara lain dalam survei ini.
Selain itu, penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal juga menjadi perhatian utama berikutnya.
Agoda dan Misi Liburan Berdampak
Melihat perubahan ini, Agoda mencoba menjembatani kebutuhan wisatawan melalui berbagai inisiatif, salah satunya program Eco Deals.
“Masyarakat Indonesia yang mengekspresikan kecintaannya terhadap bumi melalui perjalanan memahami pentingnya menjaga lingkungan, komunitas, dan tradisi saat berwisata. Kami senang melihat kesadaran yang tinggi di seluruh Asia,” ujar Gede Gunawan, Senior Country Director Agoda untuk Indonesia.
Ia menambahkan bahwa Agoda menghadirkan program yang memungkinkan wisatawan tetap menikmati liburan terbaik sekaligus berkontribusi pada konservasi.
Liburan Masa Depan: Lebih Sadar, Lebih Bermakna
Lewat kerja sama dengan World Wide Fund for Nature, Agoda mengalokasikan pendanaan hingga USD 1,5 juta untuk proyek konservasi di berbagai negara Asia.
Konsepnya sederhana: setiap perjalanan bisa jadi kontribusi.
Diskon hotel, pengalaman seru, dan dampak positif kini berjalan beriringan. Bahkan, setiap pemesanan melalui program ini ikut menyumbang dana untuk konservasi.
Kesimpulan: Bukan Tren Sementara
Wisata berkelanjutan di 2026 bukan sekadar tren yang lewat begitu saja. Ini sudah berubah menjadi mindset baru—terutama bagi generasi muda yang lebih peduli terhadap masa depan bumi.
Liburan kini bukan cuma soal “pergi ke mana”, tapi juga “memberi apa”.
Dan dari data yang ada, satu hal jadi jelas: masa depan travel bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang dampak yang kita tinggalkan.



















































