Home Lifestyle Inilah Arti THR dan Fakta-Fakta Unik tentang THR di Indonesia

Inilah Arti THR dan Fakta-Fakta Unik tentang THR di Indonesia

125
0
Inilah Arti THR dan Fakta-Fakta Unik tentang THR
Inilah Arti THR dan Fakta-Fakta Unik tentang THR. Foto: Freepik
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s, Bagi masyarakat Indonesia, singkatan THR (Tunjangan Hari Raya) mungkin terasa lebih manis daripada sirup dingin di siang bolong. Secara sederhana, THR adalah pendapatan non-upah yang wajib dibayarkan oleh pengusaha kepada pekerja menjelang hari raya keagamaan.

Tujuannya mulia: membantu memenuhi kebutuhan ibadah dan perayaan yang biasanya memang membengkak, mulai dari beli baju baru, kue kering, sampai biaya mudik ke kampung halaman.

Sejarah Singkat: Ternyata Berawal dari PNS

Mungkin banyak yang mengira THR sudah ada sejak zaman kerajaan, tapi nyatanya tradisi ini baru dimulai pada awal era 1950-an. Begini garis besarnya:

  • Tahun 1951: Perdana Menteri Soekiman Wirjosandjojo (dari Kabinet Masyumi) pertama kali memberikan tunjangan kepada Pamong Praja (sekarang ASN/PNS). Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara.
  • Protes Buruh: Karena awalnya hanya untuk PNS, kaum buruh tidak terima. Mereka merasa tidak adil dan melakukan aksi mogok kerja massal pada tahun 1952 menuntut hak yang sama.
  • Tahun 1994: Barulah muncul aturan resmi lewat Peraturan Menteri Tenaga Kerja yang mewajibkan perusahaan memberikan THR kepada karyawan swasta setelah bekerja minimal satu tahun.
  • Sekarang: Aturannya makin fleksibel. Pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan pun sudah berhak mendapatkan THR secara proporsional.

Baca Juga:

Hal-Hal Unik Seputar THR

Selain soal uangnya, ada beberapa fakta unik yang cuma bisa kamu temukan di Indonesia:

  1. Istilah “Hilal” THR: Menjelang Lebaran, media sosial pasti penuh dengan candaan soal “Hilal THR”. Jika hilal biasanya dicari untuk menentukan 1 Syawal, “Hilal THR” dicari melalui notifikasi SMS banking atau aplikasi mobile banking.
  2. Uang Baru dan Amplop Warna-Warni: THR adalah alasan utama kenapa antrean tukar uang di bank atau di pinggir jalan jadi mengular. THR seringkali langsung “dipecah” jadi lembaran kecil untuk dibagi-bagikan ke keponakan saat tradisi sungkeman.
  3. Mendadak Jadi “Sultan”: Saat THR cair, mal dan pasar tradisional mendadak penuh sesak. Fenomena ini sering disebut sebagai momen di mana daya beli masyarakat Indonesia mencapai puncaknya dalam setahun.
  4. Nama yang Berbeda di Luar Negeri: Di luar negeri, konsep ini mirip dengan 13th-month pay atau bonus tahunan, tapi biasanya dibagikan di akhir tahun (Desember). Hanya di Indonesia istilahnya sangat kental dengan nuansa hari raya keagamaan.

Jadi, THR bukan sekadar bonus tambahan, tapi sudah menjadi bagian dari budaya dan penggerak ekonomi yang luar biasa di Indonesia. Yang terpenting, jangan sampai THR hanya “numpang lewat” di rekening ya! Pastikan kamu tetap bijak dalam mengaturnya.