Hi Urbie’s! Gaya hidup aktif yang kini menjadi tren di masyarakat urban ternyata rentan menimbulkan keluhan, seperti nyeri otot dan sendi. Latihan fisik seperti gym, lari pagi, hingga olahraga sosial seperti padel yang makin populer dan menjadi pilihan untuk menjaga kesehatan sekaligus bersosialisasi bisa memicu keluhan yang sering muncul: nyeri otot dan sendi setelah aktivitas fisik.
Banyak orang menganggap rasa pegal atau nyeri otot dan sendi setelah olahraga sebagai hal wajar. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, nyeri otot dan sendi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan meningkatkan risiko cedera.
Oleh karena itu, pemanasan, pendinginan, hingga proses pemulihan menjadi bagian penting dari rutinitas olahraga yang sering kali justru diabaikan.
Sebuah review ilmiah yang dipublikasikan pada 2025 melalui ResearchGate menegaskan bahwa pemanasan sebelum olahraga dapat membantu menurunkan risiko cedera, sementara pendinginan berperan penting dalam mempercepat proses pemulihan otot serta mengurangi rasa nyeri setelah aktivitas fisik.
Tren gaya hidup aktif ini juga membuat kebutuhan akan solusi pemulihan tubuh yang praktis semakin meningkat.
“Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup aktif terus meningkat, dan kami melihat kebutuhan terhadap solusi pemulihan yang praktis serta berbasis teknologi juga semakin besar. Kami ingin berkontribusi tidak hanya melalui perangkat kesehatan, tetapi juga dengan mendorong pemahaman bahwa pemulihan merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan jangka panjang,” ujar Tomoaki Watanabe, Director OMRON Healthcare Indonesia di acara peluncuran Teknologi Terapi Listrik untuk pemulihan nyeri, TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Nyeri Otot Jadi Masalah Global
Masalah nyeri otot dan sendi sebenarnya bukan hal kecil. Secara global, gangguan muskuloskeletal masih menjadi salah satu penyebab utama disabilitas.
Menurut laporan WHO Guideline on Chronic Low Back Pain (2023) dari Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 619 juta orang di dunia mengalami nyeri punggung bawah pada 2020, dan jumlah ini diproyeksikan terus meningkat seiring perubahan gaya hidup serta penuaan populasi.
Risiko cedera juga semakin meningkat seiring bertambahnya aktivitas olahraga masyarakat. Studi epidemiologi olahraga global yang dipublikasikan di ScienceDirect pada 2023 menunjukkan bahwa cedera cukup umum terjadi dalam aktivitas fisik, terutama pada lutut dan pergelangan kaki akibat gerakan repetitif.
Fenomena ini juga terlihat pada olahraga sosial yang sedang naik daun seperti padel. Permainan ini menggabungkan gerakan cepat, perubahan arah mendadak, serta aktivitas raket yang intens—kombinasi yang bisa meningkatkan tekanan pada otot dan sendi jika tidak diimbangi dengan pemulihan yang tepat.

Kenapa Nyeri Otot Sering Terjadi Setelah Olahraga?
Menurut Dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K, spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Heisei Rehabilitation Clinic, nyeri pasca aktivitas fisik sering muncul karena beberapa faktor.
“Nyeri setelah olahraga bisa terjadi akibat peningkatan intensitas latihan secara mendadak, teknik gerakan yang kurang tepat, atau minimnya pemanasan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan non-obat kini semakin banyak dipilih untuk membantu pemulihan otot.
“Pendekatan non-farmakologis seperti stimulasi saraf listrik dapat membantu mengurangi persepsi nyeri dan mendukung relaksasi otot, sehingga proses pemulihan menjadi lebih optimal jika digunakan sesuai anjuran,” ujarnya.
Terapi TENS: Teknologi Pemulihan Otot yang Bisa Dipakai di Rumah
Salah satu teknologi yang semakin populer dalam manajemen nyeri adalah TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation). Terapi ini bekerja dengan memberikan stimulasi listrik ringan pada saraf melalui bantalan yang ditempelkan di kulit.
Stimulasi tersebut membantu mengurangi sinyal nyeri yang dikirim ke otak sekaligus memicu pelepasan endorfin—zat alami tubuh yang berfungsi sebagai pereda nyeri.
Teknologi ini sebelumnya banyak digunakan dalam terapi rehabilitasi medis. Kini, perangkat TENS hadir dalam bentuk yang lebih praktis sehingga bisa digunakan secara mandiri di rumah sebagai bagian dari rutinitas pemulihan setelah aktivitas.

Perangkat Terapi Nyeri yang Semakin Personal
Menjawab kebutuhan masyarakat aktif, OMRON Healthcare Indonesia memperkenalkan dua perangkat terapi TENS terbaru yang dirancang untuk membantu mengelola nyeri otot dan sendi secara praktis.
Perangkat pertama, Sport TENS HV-F030, dirancang khusus untuk membantu pemulihan setelah aktivitas fisik atau olahraga rutin. Perangkat ini memiliki konfigurasi unik berupa satu bantalan otot dan dua bantalan sendi sehingga pengguna dapat menyesuaikan pemasangan sesuai bagian tubuh yang terasa nyeri.
Fitur lainnya meliputi:
- 5 mode terapi
- 15 tingkat intensitas
- sesi terapi otomatis selama 15 menit
Desainnya yang ringkas dan portabel membuat perangkat ini mudah digunakan setelah berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan harian hingga olahraga dengan intensitas tinggi.
Baca Juga:
- Britney Spears Dikabarkan Ditangkap di California, Fans Heboh Saat Instagramnya Tiba-tiba Menghilang
- NIKI Catat Sejarah! Jadi Musisi Indonesia Pertama Tembus 6 Miliar Streaming Global
- THR 2026 Tetap Kena Pajak, Begini Cara Perhitungan Potongan PPh 21
Sementara itu, perangkat kedua yaitu TENS HV-F230 menawarkan opsi terapi yang lebih luas. Perangkat buatan Jepang ini dilengkapi stimulasi hingga 1200 Hz, sehingga mampu memberikan penetrasi terapi yang lebih dalam.
Perangkat ini memiliki:
- 12 mode terapi utama
- 4 mode tambahan
- 20 tingkat intensitas
Dengan tingkat kustomisasi yang lebih tinggi, perangkat ini dinilai cocok untuk pengguna dengan kebutuhan terapi nyeri yang lebih kompleks, termasuk pada usia lanjut yang mengalami keluhan nyeri kronis.

Teknologi Kesehatan yang Semakin Mudah Diakses
Selain menghadirkan inovasi produk, perusahaan juga terus mendorong literasi kesehatan masyarakat terkait penggunaan perangkat medis rumahan.
Melalui jaringan Omron Experience Center di berbagai kota di Indonesia, masyarakat dapat memperoleh edukasi produk, konsultasi, serta layanan purna jual yang memudahkan penggunaan teknologi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semakin mudahnya akses terhadap solusi terapi nyeri berbasis teknologi, masyarakat diharapkan dapat mengelola nyeri otot secara lebih praktis tanpa harus mengorbankan gaya hidup aktif.
Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan bukan hanya soal rajin berolahraga—tetapi juga memahami kapan tubuh perlu beristirahat dan pulih dengan cara yang tepat.






