Home Health Studi Terbaru: Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Picu Penumpukan Lemak di Otot Paha

Studi Terbaru: Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Picu Penumpukan Lemak di Otot Paha

102
0
Studi Terbaru: Konsumsi Makanan Ultra-Olahan Picu Penumpukan Lemak di Otot Paha
Foto ilustrasi: chatgptAI
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s, ada temuan baru yang cukup bikin mikir ulang soal pola makan sehari-hari, terutama buat kamu yang masih sering konsumsi makanan instan atau ultra-olahan. Sebuah studi terbaru di Amerika Serikat mengungkap bahwa semakin tinggi konsumsi makanan ultra-olahan, semakin besar pula penumpukan lemak tersembunyi di dalam otot, khususnya di bagian paha.

Penelitian ini jadi sorotan setelah muncul gambar MRI yang cukup mengejutkan. Dalam hasil pemindaian tersebut, terlihat paha seorang wanita berusia 62 tahun dengan tampilan menyerupai daging steak berlemak atau “marbling”. Uniknya, kondisi ini bukan karena faktor genetik semata, melainkan berkaitan erat dengan pola makan. Diketahui bahwa sekitar 87% asupan kalorinya berasal dari makanan ultra-olahan seperti sereal manis, cokelat, permen, hingga minuman bersoda.

Peneliti dari Universitas California, Zella Akkaya, menjelaskan bahwa lemak yang tersimpan di antara dan di dalam serat otot ini disebut sebagai lemak intramuskular. Meski tidak selalu terlihat dari luar, jenis lemak ini bisa menjadi tanda awal berbagai masalah kesehatan serius.

Dalam studi yang dipublikasikan di Journal of Radiology pada 14 April tersebut, tim peneliti menganalisis 615 peserta berusia rata-rata 60 tahun. Menariknya, seluruh peserta belum menunjukkan tanda-tanda osteoartritis lutut saat dilakukan pemindaian MRI. Namun, hasilnya menunjukkan adanya korelasi kuat antara konsumsi makanan ultra-olahan dan peningkatan lemak intramuskular.

Baca Juga:

Sebagai perbandingan, seorang wanita lain dalam studi yang hanya mengonsumsi sekitar 29% makanan ultra-olahan tetap menunjukkan adanya “marbling”, tetapi dalam tingkat yang jauh lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah kalori yang berpengaruh, tetapi juga kualitas makanan yang dikonsumsi.

Thomas Link, penulis utama penelitian ini, menegaskan bahwa peningkatan lemak dalam otot tidak selalu berkaitan langsung dengan indeks massa tubuh (BMI). Bahkan, seseorang dengan BMI yang lebih rendah bisa memiliki kondisi otot yang lebih buruk jika pola makannya didominasi oleh makanan ultra-olahan.

Temuan ini memperkuat kekhawatiran yang selama ini sudah banyak dibahas. Makanan ultra-olahan memang telah dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga depresi. Bahkan, menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 50% asupan kalori orang dewasa di Amerika berasal dari jenis makanan ini. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 62% pada anak-anak.

Meski begitu, Urbie’s nggak perlu langsung panik. Para ahli menegaskan bahwa kondisi ini masih bisa diperbaiki. Miriam Bredera dari Universitas New York menyebutkan bahwa perubahan gaya hidup seperti rutin berolahraga dan memperbaiki pola makan dapat membantu mengurangi lemak dalam otot dan meningkatkan kualitasnya.

Namun, satu hal yang perlu diingat, semakin cepat perubahan dilakukan, semakin besar peluang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Karena seiring bertambahnya usia, proses pemulihan tubuh juga akan semakin lambat.

Jadi, mulai sekarang coba deh lebih mindful dengan apa yang kamu konsumsi. Sesekali menikmati makanan instan memang nggak masalah, tapi kalau jadi kebiasaan, efeknya bisa lebih dalam dari yang kita bayangkan—bahkan sampai ke dalam otot.