Home Highlight Viral! Polemik LCC Empat Pilar MPR RI di Kalbar Tuai Kritik, Jawaban...

Viral! Polemik LCC Empat Pilar MPR RI di Kalbar Tuai Kritik, Jawaban Sama Tapi Nilainya Beda

17
0
Polemik LCC Empat Pilar MPR RI - sumber foto Youtube/ MPRGOID
Polemik LCC Empat Pilar MPR RI - sumber foto Youtube/ MPRGOID
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s! Ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang seharusnya menjadi ruang edukasi dan kompetisi sehat antarpelajar, justru berubah menjadi sorotan publik. Bukan karena sengitnya persaingan antar sekolah, melainkan karena polemik penilaian yang dianggap tidak konsisten saat babak final berlangsung.

Insiden ini langsung viral di media sosial setelah muncul dugaan ketidakadilan terhadap salah satu peserta, yakni SMAN 1 Pontianak. Banyak netizen mempertanyakan profesionalitas dewan juri usai jawaban yang dianggap salah oleh satu regu, justru dinilai benar ketika diucapkan regu lain dalam sesi berbeda.

Final LCC Empat Pilar MPR RI 2026 sendiri digelar di Pontianak pada Sabtu, 9 Mei 2026. Kompetisi tersebut diikuti oleh sembilan sekolah menengah atas dari berbagai daerah di Kalimantan Barat. Setelah melalui tahapan penyisihan, tiga sekolah berhasil melaju ke babak final, yaitu SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau.

Namun suasana kompetitif berubah tegang ketika memasuki sesi rebutan jawaban.

Jawaban Sama, Nilai Berbeda

Polemik bermula saat peserta mendapat pertanyaan mengenai lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Dalam sesi tersebut, regu dari SMAN 1 Pontianak memberikan jawaban yang kemudian dinyatakan salah oleh dewan juri. Akibatnya, tim tersebut mendapat pengurangan nilai sebesar 5 poin.

Yang membuat publik heboh, jawaban serupa kemudian diucapkan oleh regu dari SMAN 1 Sambas dan justru dinyatakan benar dengan tambahan nilai 10 poin.

Momen itu langsung memicu protes dari peserta maupun penonton yang hadir di lokasi. Video potongan kejadian tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memancing reaksi warganet.

Banyak yang menilai keputusan juri tidak objektif dan merugikan peserta dari SMAN 1 Pontianak. Tidak sedikit pula yang mempertanyakan mekanisme penilaian dalam lomba berskala nasional tersebut.

MPR RI Minta Maaf

Menanggapi polemik yang berkembang, Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman akhirnya buka suara dan menyampaikan permohonan maaf secara resmi.

Dalam keterangannya pada Senin, 11 Mei 2026, Akbar mengakui adanya kelalaian dari dewan juri maupun panitia pelaksana.

“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujar Akbar.

Ia juga menegaskan bahwa MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlombaan LCC Empat Pilar, termasuk kinerja dewan juri, mekanisme penilaian, hingga aspek teknis selama kompetisi berlangsung.

Menurut Akbar, kejadian ini menjadi catatan penting agar pelaksanaan lomba di masa mendatang bisa berlangsung lebih profesional dan transparan.

Baca Juga:

Soroti Sistem Tata Suara dan Mekanisme Banding

Tak hanya soal penilaian, Akbar juga menyoroti persoalan teknis yang dianggap turut memicu kontroversi, terutama terkait sistem tata suara di arena lomba.

Salah satu juri, Indri Wahyuni, menyebut jawaban dari peserta SMAN 1 Pontianak sebenarnya kurang terdengar jelas sehingga dianggap tidak lengkap.

Pernyataan itu justru memicu perdebatan baru di tengah masyarakat. Banyak pihak menilai kualitas audio dalam perlombaan seharusnya menjadi tanggung jawab panitia, bukan menjadi faktor yang merugikan peserta.

Akbar juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat mendengar adanya kejadian serupa dalam pelaksanaan LCC tahun sebelumnya di provinsi lain.

“Saya melihat, Lomba Cerdas Cermat ini perlu dievaluasi supaya lebih baik. Jangan ada lagi kejadian seperti ini,” katanya.

Selain tata suara, mekanisme banding juga menjadi sorotan. Banyak pihak menilai peserta seharusnya memiliki ruang untuk mengajukan keberatan secara resmi ketika terjadi keputusan kontroversial dari juri.

Kritik dari Sekda Kalbar

Kritik juga datang dari Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson. Ia menilai ajang sebesar LCC Empat Pilar MPR RI semestinya sudah dilengkapi sistem perekam digital untuk memverifikasi jawaban peserta.

Menurutnya, teknologi rekaman audio bisa menjadi solusi objektif ketika muncul protes atau sengketa penilaian di lapangan.

Pernyataan tersebut mendapat dukungan luas dari masyarakat. Banyak netizen menilai penggunaan sistem replay audio atau video sudah menjadi standar dalam berbagai kompetisi modern, termasuk lomba edukasi.

Di media sosial, sebagian warganet bahkan menyebut insiden ini sebagai tamparan bagi kualitas penyelenggaraan lomba akademik nasional.

Jadi Pelajaran Penting

Terlepas dari kontroversi yang terjadi, banyak pihak berharap kejadian ini bisa menjadi momentum evaluasi besar bagi penyelenggaraan LCC Empat Pilar MPR RI ke depan.

Kompetisi edukatif seperti ini sejatinya memiliki peran penting dalam membangun wawasan kebangsaan generasi muda. Karena itu, transparansi, profesionalitas, dan keadilan dalam penilaian menjadi hal yang mutlak dijaga.

Urbie’s, dunia pendidikan dan kompetisi akademik bukan cuma soal siapa yang menang atau kalah. Tapi juga tentang bagaimana nilai sportivitas dan kepercayaan terhadap sistem bisa tetap terjaga.

Kalau menurut kamu, apakah penggunaan teknologi replay audio dan video wajib diterapkan di semua lomba cerdas cermat nasional?