
Hi Urbie’s! Di era ketika masyarakat semakin sadar pentingnya kesehatan, kebutuhan akan tenaga apoteker yang tidak hanya memahami obat tetapi juga mampu menjadi edukator kesehatan semakin meningkat. Apoteker kini dituntut hadir lebih dekat dengan pasien, membantu memberikan pemahaman tentang penggunaan obat yang aman, tepat, dan sesuai kebutuhan. Perubahan peran ini membuat dunia pendidikan farmasi perlu bergerak lebih adaptif agar lulusan yang dihasilkan benar-benar siap menghadapi tantangan nyata di lapangan.
Melihat kebutuhan itu, P&G Health Indonesia menghadirkan langkah baru yang menyasar generasi calon apoteker muda. Bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, perusahaan ini menggandeng dua institusi pendidikan farmasi ternama di Indonesia, Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya dan Universitas Padjadjaran (Unpad), melalui Program Studi Profesi Apoteker.
Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama akademik biasa. P&G Health Indonesia ingin membangun ekosistem pembelajaran yang lebih dekat dengan realita dunia kesehatan, mulai dari edukasi, riset, hingga pengabdian masyarakat.
Menjawab Tantangan Dunia Kesehatan yang Terus Berkembang
Dalam praktik sehari-hari, apoteker menjadi salah satu tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Mereka kerap menjadi tempat pertama pasien bertanya soal penggunaan obat, gejala penyakit ringan, hingga konsultasi kesehatan dasar.
Karena itu, P&G Health Indonesia menilai penting bagi mahasiswa farmasi untuk memahami kondisi yang umum terjadi di masyarakat seperti anemia, rhinitis akut, hingga neuropati perifer. Tidak hanya memahami teori, tetapi juga bagaimana menangani pasien secara langsung dengan pendekatan yang tepat.
“Di P&G Health, kami percaya bahwa apoteker memiliki peran penting dalam memastikan pasien mendapatkan pengetahuan pengobatan yang tepat sekaligus edukasi yang dibutuhkan. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menjembatani pembelajaran akademik dengan praktik nyata,” ujar Caroline Herlina, Brand Director Health Care P&G Indonesia.
Menurut Caroline, kerja sama ini dibangun di atas tiga pilar utama yakni edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Fokus utamanya adalah menciptakan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan kondisi nyata di lapangan.
Belajar Farmasi Tak Lagi Sekadar Duduk di Kelas
Salah satu hal menarik dari kolaborasi ini adalah pendekatan pembelajarannya yang dibuat lebih modern dan fleksibel. Bersama Unika Atma Jaya, P&G Health menghadirkan modul e-learning, video edukasi, e-book, hingga buku cetak yang dirancang lebih aplikatif.
Program e-learning tersebut ditargetkan menjangkau lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026. Tak hanya mahasiswa aktif, alumni yang sedang menjalani profesi apoteker juga dapat mengikuti program ini.
Pendekatan digital dinilai menjadi solusi agar akses pembelajaran semakin luas dan bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Dekan Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Unika Atma Jaya, Dr. dr. Felicia Kurniawan, M.Kes mengatakan metode pembelajaran seperti ini membuat mahasiswa lebih mudah memahami penerapan ilmu farmasi dalam situasi nyata.
“Kolaborasi ini menghadirkan pendekatan yang lebih aplikatif dalam pembelajaran kami. Melalui berbagai format seperti e-learning, video edukasi, serta modul terstruktur, mahasiswa dapat memahami bagaimana ilmu yang dipelajari dapat diterapkan langsung dalam situasi nyata bersama pasien,” jelasnya.
Baca Juga:
- Live-Action Solo Leveling Resmi Mulai Syuting, Fans Mulai Khawatir Soal CGI dan Atmosfer Dungeon
- Instagram Mendadak Kehilangan Followers, Netizen Panik, Baru Tadi 10K, Sekarang Tinggal 9,2K!
- Ushiko dan Dunia Kucing di Ghibli: Inspirasi Hangat di Balik Layar Animasi Legendaris
Fokus pada Konseling Pasien dan Penggunaan Obat Rasional
Sementara itu, Universitas Padjadjaran memulai kolaborasi dengan fokus pada peningkatan kompetensi mahasiswa dalam konseling pasien dan penggunaan obat secara rasional, khususnya Oxymetazoline untuk penanganan rhinitis akut.
Program ini menyasar seluruh mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker dan menjadi tahap awal dari pengembangan kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.
Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. apt. Auliya A. Suwantika, MBA., PhD menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini penting untuk membangun kualitas tenaga kesehatan masa depan.
“Kami melihat kolaborasi ini sebagai langkah awal yang penting dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam aspek konseling pasien dan penggunaan obat yang rasional,” ujarnya.
Ia berharap kerja sama tersebut nantinya berkembang ke bidang riset dan edukasi kesehatan masyarakat secara lebih luas.
Peran Apoteker Kini Semakin Strategis
Transformasi peran apoteker juga mendapat perhatian dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Ketua Umum IAI, apt. Noffrendi Roestam, S.Si menyebut kebutuhan layanan kesehatan modern membuat apoteker harus memiliki kompetensi yang lebih adaptif.
Menurutnya, apoteker saat ini tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia obat, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat dalam memahami penggunaan obat yang aman dan tepat.
Karena itu, pembelajaran yang lebih aplikatif dinilai menjadi kebutuhan penting agar lulusan farmasi siap menghadapi tantangan di dunia pelayanan kesehatan.
Dukungan BPOM untuk Kolaborasi Lintas Sektor
Apresiasi juga datang dari Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D. Ia menilai sinergi antara industri, akademisi, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem kesehatan berbasis riset di Indonesia.
“Setiap inovasi kesehatan dan inisiatif edukasi perlu memiliki dasar ilmiah yang kuat, relevan dengan kebutuhan masyarakat terkini, serta tetap mengedepankan aspek keamanan, mutu, manfaat, dan kepatuhan terhadap regulasi,” katanya.
Kolaborasi seperti ini diharapkan tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan, tetapi juga ikut meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Menyiapkan Generasi Apoteker Masa Depan
Melalui program ini, P&G Health Indonesia ingin mendorong lahirnya generasi apoteker yang lebih siap menghadapi kebutuhan masyarakat modern. Tidak hanya memahami ilmu farmasi, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, edukasi pasien, dan pemahaman praktik kesehatan yang lebih komprehensif.
Ke depan, P&G Health berencana memperluas program melalui pengembangan modul lanjutan, kolaborasi riset, hingga inisiatif edukasi kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, kehadiran apoteker yang kompeten dan adaptif menjadi salah satu kunci penting dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih baik di Indonesia.












































