
Hi Urbie’s! Musim kemarau yang berlangsung lebih lama dari biasanya membuat banyak sumur warga di Kabupaten Bekasi mulai mengering. Aktivitas sederhana seperti mandi, mencuci, memasak, hingga memberi minum ternak kini menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat, terutama di wilayah yang setiap tahun langganan mengalami krisis air bersih.
Di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, misalnya, warga harus mencari berbagai cara agar kebutuhan air sehari-hari tetap terpenuhi. Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Bekasi menjadi harapan yang dinantikan.
Pada Sabtu (18/7/2026), PMI Kabupaten Bekasi kembali mengirimkan 20.000 liter air bersih ke Desa Ridogalih. Pasokan air yang berasal dari PDAM Tirta Bhagasasi itu akan didistribusikan ke empat hingga lima kampung yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari layanan kemanusiaan yang telah berjalan sejak 24 Juni 2026. Hingga 17 Juli 2026, PMI Kabupaten Bekasi tercatat telah menyalurkan sebanyak 250.000 liter air bersih kepada 17.490 jiwa yang terdampak kekeringan di Kecamatan Cibarusah dan Bojongmangu.
Ketua PMI Kabupaten Bekasi, Akhmad Kosasih, mengatakan pelayanan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan bantuan.
“Pelayanan distribusi air bersih telah kami lakukan sejak 24 Juni 2026. Hingga 17 Juli, PMI Kabupaten Bekasi telah menyalurkan 250.000 liter air bersih kepada 17.490 jiwa. Kami akan terus berupaya memastikan masyarakat yang terdampak kekeringan tetap memperoleh akses terhadap air bersih,” ujarnya.
Kekeringan Berdampak pada Ribuan Kepala Keluarga
Kebutuhan air bersih meningkat seiring meluasnya dampak musim kemarau di Kabupaten Bekasi. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, terdapat tiga kecamatan yang terdampak kekeringan, yakni Bojongmangu, Cibarusah, dan Cikarang Pusat.
Secara keseluruhan, sebanyak 2.416 kepala keluarga terdampak kondisi tersebut.
Untuk menjangkau masyarakat, PMI Kabupaten Bekasi telah membuka 20 titik distribusi air bersih berdasarkan hasil asesmen dan permintaan pemerintah desa maupun warga. Lokasi penyaluran meliputi Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah, Desa Nagasari di Kecamatan Serang Baru, serta Desa Sukamukti, Sukabungah, Medal Krisna, dan Karang Indah di Kecamatan Bojongmangu.

Peran Relawan Jadi Kunci Distribusi Tepat Sasaran
Di balik cepatnya distribusi air bersih, terdapat peran relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) yang terus memantau kondisi di lapangan.
Menurut Akhmad Kosasih, koordinasi antara PMI, pemerintah desa, dan relawan menjadi faktor penting agar bantuan dapat segera disalurkan ketika persediaan air masyarakat mulai menipis.
Baca Juga:
- Indonesia Masuki Era Aging Population, Pakar Ungkap 5 Cara Cegah Luka Dekubitus pada Lansia yang Sering Terabaikan
- Bikin Bangga! Tari Kipas Ajer Antar Svadara Raih Gold Medal Asia Arts Festival 2026 Singapura
- Debit Air Bendung Katulampa Capai 0 Sentimeter, Apa Dampaknya bagi Jakarta dan Musim Kemarau Tahun Ini?
“Relawan SIBAT di desa sangat aktif memantau kebutuhan air di masyarakat. Ketika persediaan air mulai menipis, mereka segera menghubungi kami sehingga distribusi air bersih dapat dilakukan dengan cepat dan tepat sasaran,” jelasnya.
Distribusi air bersih tersebut juga dilakukan berdasarkan Keputusan Bupati Bekasi Nomor 100.3.3.2/Kep.477-BPBD/2026 tentang Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan, yang berlaku hingga 30 September 2026.
Mengapa Desa Ridogalih Selalu Menjadi Prioritas?
Kepala Markas PMI Kabupaten Bekasi, Meyliany, menjelaskan Desa Ridogalih hampir setiap tahun menjadi salah satu wilayah prioritas penyaluran air bersih.
Menurutnya, kondisi geografis dan terbatasnya sumber air membuat wilayah tersebut rentan mengalami krisis air saat musim kemarau.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh curah hujan yang rendah, cadangan air tanah yang terbatas, karakteristik tanah yang sulit menyimpan air, serta belum meratanya jaringan perpipaan air bersih. Wilayah Kecamatan Bojongmangu juga menghadapi tantangan serupa akibat kondisi geografis yang menyebabkan ketersediaan air tanah menurun saat musim kemarau,” katanya.

Saat Sumur Mengering, Bantuan Air Menjadi Penyelamat
Bagi warga, distribusi air bersih bukan sekadar bantuan, melainkan penopang aktivitas sehari-hari.
Neim Susanto, warga Desa Ridogalih, mengaku kemarau tahun ini membuat sumur di sekitar rumahnya mengering.
“Kemarau tahun ini cukup panjang sehingga kami kesulitan mendapatkan air. Biasanya sepulang kerja kami mengambil air dari sumur, tetapi sekarang sumurnya mengering. Bantuan air bersih ini sangat kami butuhkan,” tuturnya.
Cerita serupa datang dari Iyas. Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, air bersih juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan ternak yang membantu aktivitas pertanian keluarganya.
“Air ini sangat membantu, bukan hanya untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk minum sapi ternak kami yang digunakan untuk membantu pekerjaan di ladang,” ujarnya.
Distribusi Air Bersih Terus Dilanjutkan
PMI Kabupaten Bekasi memastikan layanan distribusi air bersih akan terus berlangsung selama Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan masih berlaku.
Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dan segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Langkah tersebut diharapkan mempercepat proses asesmen sehingga bantuan dapat segera disalurkan kepada warga yang membutuhkan.











































