Home Lifestyle Dari Bandung ke Jakarta, SEDASA “Rhapsody Summit” Perkuat Ekosistem Modest Fashion Indonesia

Dari Bandung ke Jakarta, SEDASA “Rhapsody Summit” Perkuat Ekosistem Modest Fashion Indonesia

7
0
Dari Bandung ke Jakarta, SEDASA “Rhapsody Summit” Perkuat Ekosistem Modest Fashion Indonesia
Founder & Designer SEDASA “Rhapsody Summit”. Foto: Endah/urbanvibes
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s,

Industri modest fashion Indonesia kembali menunjukkan geliatnya lewat kehadiran SEDASA Volume 3 yang resmi digelar di Jakarta pada 1 Mei 2026. Setelah sebelumnya lahir di Bandung pada masa pandemi tahun 2020, SEDASA kini melangkah lebih jauh dengan skala yang lebih besar dan visi yang semakin kuat.

Awalnya hadir sebagai solusi kreatif di tengah keterbatasan pandemi Covid-19, SEDASA sukses menjadi wadah bagi para pelaku modest fashion untuk tetap berkarya melalui fashion show virtual. Platform ini bahkan mampu menjangkau audiens hingga mancanegara, membuka peluang baru bagi brand lokal untuk dikenal lebih luas.

Memasuki tahun ketiganya, SEDASA tampil dengan konsep yang lebih matang melalui tema “Rhapsody Summit”. Untuk pertama kalinya, event ini digelar di Jakarta, tepatnya di InterContinental Hotel Jakarta Pondok Indah. Perpindahan lokasi ini bukan tanpa alasan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat posisi SEDASA sebagai event fashion berskala nasional sekaligus memperluas jaringan industri.

Baca Juga:

Urbie’s, SEDASA 2026 menghadirkan panggung kolaboratif yang mempertemukan desainer visioner, brand lokal, hingga talenta baru. Sebanyak 14 desainer dan brand modest fashion Indonesia turut ambil bagian, termasuk kehadiran desainer ternama Ivan Gunawan sebagai Guest Designer.

Dalam dua sesi peragaan busana, berbagai koleksi ditampilkan dengan karakter dan identitas yang kuat. Nama-nama seperti Mandhja by Ivan Gunawan, Nabila Misha Fashion, Padushi by Novitasari, hingga Shadec ikut meramaikan runway. Tak hanya itu, suasana semakin meriah dengan penampilan spesial dari Krisdayanti dan Titi DJ yang memberikan sentuhan hiburan berkelas.

Namun lebih dari sekadar fashion show, SEDASA membawa misi yang lebih besar. Event ini menjadi ruang pertemuan antara kreativitas dan peluang bisnis nyata. Kehadiran reseller dari berbagai daerah menjadi elemen penting dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, di mana interaksi langsung antara desainer dan pasar dapat terjadi.

Rya Baraba, Founder SEDASA. Foto: Endah/urbanvibes

Founder SEDASA, Rya Baraba, menegaskan bahwa tujuan utama dari perhelatan ini adalah mendorong daya beli masyarakat terhadap produk fashion lokal sekaligus merangkul pelaku industri untuk tumbuh bersama. Dengan konsep yang inklusif, SEDASA membuka peluang bagi semua lini, dari desainer mapan hingga talenta muda yang sedang berkembang.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi di industri, SEDASA juga memberikan penghargaan kepada sosok inspiratif. Ivan Gunawan dianugerahi “The Modest Visionary Award” atas konsistensinya dalam membangun lanskap modest fashion modern di Indonesia. Sementara itu, penghargaan “Young Visionary Award” diberikan kepada Nabila Misha, desainer muda yang dinilai memiliki potensi besar dan keberanian dalam mengekspresikan kreativitasnya.

Pemberian Penghargaan Kepada Ivan Gunawan & Nabila Misha

Penyelenggaraan SEDASA 2026 yang didukung oleh Kementerian/Badan EKRAF dan resmi dibuka oleh sambutan Menteri/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (EKRAF), Teuku Riefky Harsya semakin memperkuat posisi SEDASA sebagai bagian dari penggerak industri kreatif nasional. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari institusi pemerintah hingga brand dan sponsor ternama, turut menjadi bukti bahwa modest fashion Indonesia memiliki masa depan yang cerah.

Perjalanan SEDASA dari Bandung ke Jakarta bukan sekadar perpindahan lokasi, melainkan simbol pertumbuhan dan keberanian untuk berkembang. Di balik setiap koleksi yang ditampilkan, tersimpan semangat kolaborasi, identitas budaya, dan visi besar untuk membawa modest fashion Indonesia ke level yang lebih tinggi.

Karena pada akhirnya, Urbie’s, modest fashion bukan hanya soal gaya—tetapi juga tentang cerita, peluang, dan masa depan industri kreatif tanah air.