Hi Urbie’s! Akhir Mei 2026 bakal jadi momen spesial buat para pecinta langit malam. Salah satu fenomena astronomi paling populer di dunia, Blue Moon, dijadwalkan akan muncul pada 31 Mei mendatang.
Fenomena ini bukan cuma menarik karena keindahan bulan purnamanya, tapi juga karena istilah “once in a blue moon” yang sudah lama dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang sangat jarang terjadi.
Tapi sebelum Urbie’s membayangkan bulan berubah warna jadi biru seperti karakter Smurf, ada fakta penting yang perlu diketahui: Blue Moon sebenarnya tidak membuat Bulan benar-benar berwarna biru.
Lho, terus kenapa disebut Blue Moon?
Bulan Tidak Akan Berwarna Biru
Meski namanya mengandung kata “blue”, fenomena Blue Moon hanyalah istilah astronomi untuk menyebut kemunculan bulan purnama ekstra dalam periode tertentu.
Jadi warna Bulan nantinya tetap terlihat seperti bulan purnama biasa—putih kekuningan atau sedikit oranye tergantung kondisi atmosfer dan lokasi pengamatan.
Istilah Blue Moon lebih berkaitan dengan perhitungan kalender lunar dan siklus orbit Bulan terhadap Bumi.
Bulan membutuhkan waktu sekitar 29,5 hari untuk mengelilingi Bumi. Dalam satu tahun kalender, siklus tersebut biasanya menghasilkan 12 kali bulan purnama.
Namun karena jumlah harinya tidak benar-benar pas dengan kalender matahari yang kita gunakan sehari-hari, lama-kelamaan ada “sisa waktu” yang terus menumpuk.
Akumulasi kecil inilah yang akhirnya membuat beberapa tahun memiliki bulan purnama ekstra.
Dan ketika itulah terjadi, muncullah fenomena yang disebut Blue Moon.
Kenapa Blue Moon Dianggap Langka?
Normalnya, kita hanya melihat satu bulan purnama setiap bulan kalender. Tetapi setiap dua hingga tiga tahun sekali, perbedaan antara kalender lunar dan solar menciptakan kondisi unik di mana muncul 13 bulan purnama dalam setahun.
Nah, bulan purnama tambahan inilah yang disebut Blue Moon.
Karena tidak terjadi setiap tahun, fenomena ini akhirnya identik dengan sesuatu yang langka. Dari sinilah muncul ungkapan bahasa Inggris “once in a blue moon” yang berarti kejadian yang sangat jarang terjadi.
Menariknya, Blue Moon ternyata punya dua definisi berbeda yang diakui komunitas astronomi dunia.
Baca Juga:
- Dari Timur Indonesia ke Jepang, Tabola Bale Masuk Nominasi Best Song Asia
- BLACKPINK Kuasai Met Gala 2026, Empat Member Tampil Ikonik dengan Gaya Berbeda
- Christopher Nolan Rilis Trailer “The Odyssey”, Suguhkan Petualangan Mitologi Yunani yang Spektakuler
Dua Jenis Blue Moon yang Perlu Kamu Tahu
Jenis pertama adalah Blue Moon bulanan atau monthly Blue Moon. Ini terjadi ketika ada dua bulan purnama dalam satu bulan kalender yang sama.
Fenomena pada 31 Mei 2026 nanti termasuk dalam kategori ini.
Artinya, Mei 2026 akan memiliki dua kali bulan purnama dalam satu bulan, sesuatu yang tidak terjadi setiap tahun.
Sementara jenis kedua adalah Blue Moon musiman atau seasonal Blue Moon. Fenomena ini terjadi ketika dalam satu musim terdapat empat bulan purnama, dan bulan purnama ketiga disebut sebagai Blue Moon.
Menurut jadwal astronomi, Blue Moon musiman berikutnya diperkirakan akan terjadi pada 20 Mei tahun depan.
Berdasarkan data dari Time and Date, antara tahun 1550 hingga 2650 terdapat sekitar 408 Blue Moon musiman dan 456 Blue Moon bulanan.
Artinya, salah satu jenis Blue Moon rata-rata memang hanya muncul setiap dua hingga tiga tahun sekali.
Fenomena Astronomi yang Selalu Bikin Kagum
Walaupun secara teknis Blue Moon bukan fenomena yang super langka, momen ini tetap selalu berhasil menarik perhatian publik.
Ada sesuatu tentang bulan purnama yang memang terasa magis bagi manusia sejak zaman dulu. Banyak budaya mengaitkan bulan dengan mitologi, spiritualitas, hingga cerita rakyat.
Di era modern sekarang pun, fenomena astronomi seperti Blue Moon masih sering viral di media sosial. Banyak orang berburu foto langit malam, membuat konten aesthetic, hingga mengadakan sesi stargazing bersama teman atau pasangan.
Apalagi bulan purnama biasanya terlihat lebih dramatis ketika muncul di horizon saat malam tiba.
Waktu Terbaik Menikmati Blue Moon
Buat Urbie’s yang ingin menikmati fenomena ini, kondisi cuaca tentu jadi faktor penting. Langit cerah tanpa polusi cahaya berlebih akan membuat pemandangan bulan terlihat jauh lebih indah.
Area terbuka seperti pantai, pegunungan, atau rooftop dengan minim gedung tinggi bisa jadi spot terbaik untuk menikmati Blue Moon.
Dan kabar baiknya, fenomena ini bisa dilihat tanpa alat khusus. Mata telanjang saja sudah cukup untuk menyaksikan bulan purnama ekstra yang akan menghiasi langit malam akhir Mei nanti.
Meski Bulan tidak benar-benar berubah menjadi biru, momen ini tetap jadi pengingat bahwa alam semesta selalu punya cara sederhana untuk membuat manusia kembali menatap langit dengan rasa kagum.
Jadi, jangan lupa tandai tanggalnya ya, Urbie’s. Karena Blue Moon berikutnya baru akan datang lagi beberapa tahun mendatang.
Dan ya… it happens only once in a blue moon.













































