Home Highlight Suster Pasca Melahirkan Bisa Sampai Rp30 Juta? Tradisi Encim Ternyata Lebih Dalam...

Suster Pasca Melahirkan Bisa Sampai Rp30 Juta? Tradisi Encim Ternyata Lebih Dalam dari Sekadar Jaga Bayi

8
0
Tradisi Encim - sumber foto istimewa
Tradisi Encim - sumber foto istimewa
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s! Belakangan ini media sosial ramai membahas soal biaya “suster pasca melahirkan” atau yang sering dikenal dengan sebutan Ai Guek Lai maupun Encim. Yang bikin netizen kaget tentu saja nominalnya — mulai dari belasan hingga puluhan juta rupiah hanya untuk beberapa minggu pendampingan setelah melahirkan.

Buat sebagian orang, angka tersebut terdengar sangat fantastis. Bahkan tidak sedikit yang bertanya-tanya, “Memangnya kerjaannya apa sampai semahal itu?”

Namun di balik perdebatan soal harga, ternyata profesi ini punya sejarah panjang dan makna budaya yang jauh lebih dalam daripada sekadar babysitter atau pengasuh bayi biasa.

Bukan Sekadar Pengasuh Bayi

Dalam banyak keluarga Tionghoa di Indonesia maupun Asia, Ai Guek Lai atau Encim bukan hanya bertugas menjaga bayi baru lahir.

Mereka justru punya peran utama membantu proses pemulihan ibu setelah melahirkan. Tradisi ini sudah dijalankan turun-temurun selama ratusan tahun sebagai bagian dari budaya postpartum care atau perawatan pasca persalinan.

Di masa pemulihan tersebut, seorang ibu dianggap membutuhkan perhatian khusus secara fisik maupun emosional. Tubuh yang baru saja melewati proses melahirkan dipercaya perlu dipulihkan dengan benar agar kesehatan jangka panjang tetap terjaga.

Karena itu, Encim biasanya membantu banyak hal sekaligus. Mulai dari merawat bayi, membantu ibu beristirahat, memasakkan makanan khusus pemulihan, menjaga pola aktivitas ibu, hingga mendampingi kondisi emosional keluarga selama masa awal menjadi orang tua baru.

Tradisi Lama yang Masih Bertahan di Era Modern

Meski dunia parenting kini semakin modern dengan berbagai teknologi dan informasi digital, tradisi penggunaan suster pasca melahirkan ternyata tetap bertahan kuat.

Bahkan, demand atau permintaannya justru semakin tinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Fenomena ini terjadi karena semakin banyak keluarga urban yang merasa membutuhkan bantuan tambahan setelah melahirkan. Apalagi di kota besar, tidak semua pasangan punya support system keluarga besar seperti dulu.

Kalau zaman dahulu ibu baru biasanya dibantu nenek, tante, atau kerabat dekat di rumah, sekarang banyak pasangan muda tinggal jauh dari keluarga mereka.

Di situlah peran Encim menjadi sangat penting.

Kenapa Harganya Bisa Mahal?

Pertanyaan terbesar netizen tentu saja soal harga.

Belasan hingga puluhan juta rupiah memang terdengar sangat tinggi. Namun ternyata biaya tersebut mencerminkan beberapa faktor sekaligus.

Pertama, profesi ini membutuhkan pengalaman dan keahlian khusus. Tidak semua orang bisa menangani bayi baru lahir sekaligus memahami kebutuhan pemulihan ibu pasca persalinan.

Kedua, jam kerja mereka juga tidak ringan. Banyak suster pasca melahirkan yang bekerja hampir penuh selama 24 jam dalam periode tertentu untuk membantu keluarga.

Ketiga, jumlah tenaga kerja di bidang ini kini semakin langka. Sementara permintaan terus meningkat, jumlah Encim berpengalaman justru tidak banyak.

Kondisi itulah yang akhirnya membuat tarif mereka semakin tinggi dari tahun ke tahun.

Baca Juga:

Fokus Utamanya Justru Sang Ibu

Yang menarik, pembahasan soal suster pasca melahirkan ini juga membuka diskusi yang lebih besar tentang kesehatan mental dan fisik ibu setelah melahirkan.

Selama ini, perhatian orang sering hanya tertuju pada bayi. Padahal ibu yang baru melahirkan juga mengalami perubahan besar — mulai dari kelelahan fisik, perubahan hormon, kurang tidur, hingga tekanan emosional.

Banyak ibu baru bahkan mengalami baby blues atau postpartum depression tanpa dukungan yang cukup dari lingkungan sekitar.

Karena itu, kehadiran orang yang membantu menjaga kondisi ibu sebenarnya punya peran yang sangat penting.

Di balik semua perdebatan soal mahal atau tidaknya jasa Encim, ada satu hal yang sering terlupakan: ibu juga butuh dirawat.

Parenting Modern Mulai Mengubah Cara Pandang

Generasi muda sekarang juga mulai lebih terbuka membicarakan pentingnya postpartum care. Jika dulu banyak ibu dianggap harus “kuat sendiri”, kini semakin banyak pasangan sadar bahwa meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi orang tua.

Justru dukungan selama masa awal setelah melahirkan bisa membantu kondisi keluarga menjadi lebih sehat secara keseluruhan.

Media sosial juga ikut berperan membuat topik ini semakin ramai dibahas. Banyak ibu mulai berbagi pengalaman mereka tentang sulitnya masa pemulihan pasca persalinan — sesuatu yang sebelumnya jarang dibicarakan secara terbuka.

Dan dari situ, profesi Encim kembali menjadi sorotan publik.

Antara Tradisi, Privilege, dan Kebutuhan

Tentu saja tidak semua keluarga menggunakan jasa suster pasca melahirkan. Banyak juga ibu yang menjalani masa pemulihan dengan bantuan pasangan atau keluarga tanpa pendamping profesional.

Karena itu, topik ini sering memunculkan perdebatan antara kebutuhan, privilege, dan tradisi budaya.

Namun satu hal yang menarik, diskusi soal Encim justru memperlihatkan bahwa masyarakat mulai lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan ibu setelah melahirkan — bukan hanya fokus pada bayi semata.

Dan mungkin, itu jadi bagian paling penting dari pembahasan ini.

Karena pada akhirnya, proses melahirkan bukan hanya tentang hadirnya seorang bayi baru di dunia. Tetapi juga tentang seorang ibu yang sedang berusaha pulih, beradaptasi, dan memulai fase hidup yang benar-benar baru.

Kalau menurut Urbie’s sendiri, tradisi suster pasca melahirkan seperti Encim ini lebih cocok dianggap kebutuhan, budaya, atau justru luxury parenting modern?