Home Business Jam Kolaborasi Swatch x Audemars Piguet Sudah Rilis di Indonesia dan Langsung...

Jam Kolaborasi Swatch x Audemars Piguet Sudah Rilis di Indonesia dan Langsung Sold Out, Meski Desainnya Bikin Netizen Terbelah

4
0
Jam Kolaborasi Swatch x Audemars Piguet - sumber foto Swatch x Audemars Piguet
Jam Kolaborasi Swatch x Audemars Piguet - sumber foto Swatch x Audemars Piguet
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s! Kolaborasi antara Swatch dan Audemars Piguet akhirnya resmi dirilis dan langsung menciptakan fenomena besar di dunia watch enthusiast. Menariknya, bukan cuma hype global yang terjadi, tetapi Indonesia juga ikut terkena demam kolaborasi ini.

Beberapa hari lalu, koleksi kolaborasi tersebut sudah lebih dulu hadir di Indonesia dan langsung sold out hanya dalam waktu singkat.

Padahal sebelumnya, banyak fans jam tangan berharap kolaborasi ini akan menghadirkan versi “murah” dari model legendaris Royal Oak yang selama ini menjadi simbol status para kolektor elite dunia.

Internet bahkan sempat dipenuhi berbagai render AI dan spekulasi liar soal kemungkinan hadirnya Royal Oak versi Bioceramic ala Swatch.

Namun kenyataannya, yang dirilis justru sesuatu yang jauh lebih unik — bahkan cukup mengejutkan.

Bukan Royal Oak, Tapi Jam Saku Warna-Warni

Alih-alih menghadirkan reinterpretasi jam tangan sporty mewah Royal Oak, kolaborasi ini memperkenalkan sebuah pocket watch atau jam saku bernama Royal Pop.

Desainnya tampil sangat playful dengan warna-warna rainbow mencolok lengkap dengan lanyard yang membuatnya bisa dipakai seperti aksesori fashion.

Produk ini mulai dijual di butik Swatch dengan harga mulai sekitar 400 dolar AS, sementara versi dengan subdial detik dibanderol sekitar 420 dolar AS.

Dan meskipun desainnya memicu perdebatan besar di internet, hype terhadap produk ini ternyata tetap luar biasa.

Di berbagai negara, antrean pembeli bahkan sudah terbentuk beberapa hari sebelum perilisan resmi dimulai.

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia.

Indonesia Ikut Demam Swatch x AP

Meski desain pocket watch ini terbilang cukup niche dan berbeda dari ekspektasi publik, para kolektor dan fashion enthusiast di Indonesia tetap memburunya.

Beberapa pecinta jam tangan mengaku sudah mengantre sejak pagi demi mendapatkan unit kolaborasi langka tersebut.

Dan hasilnya? Banyak toko langsung kehabisan stok hanya dalam hitungan jam.

Fenomena sold out ini menunjukkan satu hal penting: nama Audemars Piguet masih punya daya tarik luar biasa besar, bahkan ketika dikawinkan dengan konsep eksperimental ala Swatch.

Apalagi selama ini Audemars Piguet dikenal sebagai salah satu “Holy Trinity” dalam dunia horologi bersama Patek Philippe dan Vacheron Constantin.

Buat banyak kolektor, melihat brand sekelas AP masuk ke ranah pop culture dan street fashion terasa seperti sesuatu yang hampir mustahil beberapa tahun lalu.

Baca Juga:

Hype Besar Gara-Gara Ekspektasi Royal Oak Murah

Yang membuat kolaborasi ini viral sebenarnya bukan hanya produknya, tetapi juga ekspektasi publik sebelum perilisan.

Sejak Swatch mulai memberikan teaser kolaborasi dengan AP, internet langsung heboh membayangkan versi affordable dari Royal Oak.

Wajar saja, karena sebelumnya Swatch sukses besar lewat kolaborasi bersama Omega dan Blancpain.

Model seperti MoonSwatch bahkan sempat menjadi fenomena global dan dijual kembali di resale market dengan harga berkali-kali lipat dari retail price.

Karena itu, banyak fans yakin formula serupa akan dipakai untuk Audemars Piguet.

Namun begitu desain asli dirilis, internet langsung terbelah.

Sebagian orang memuji keberanian desainnya yang playful dan artsy, sementara yang lain kecewa karena merasa tidak mendapatkan “Royal Oak murah” yang selama ini mereka impikan.

AI dan Internet Ikut Memanaskan Situasi

Menariknya lagi, sebelum produk resmi diumumkan, media sosial sempat dipenuhi gambar AI yang memperlihatkan versi keramik murah dari Royal Oak.

Banyak orang bahkan sempat percaya desain tersebut benar-benar akan dirilis.

Beberapa kolektor hardcore sampai khawatir bahwa versi murah Royal Oak akan membuat nilai koleksi jam AP asli menurun.

Padahal, harga Royal Oak sendiri di secondary market sering kali dimulai dari puluhan ribu dolar dan bisa menembus angka fantastis tergantung modelnya.

Karena itulah kolaborasi ini menjadi salah satu rilisan jam tangan paling ramai dibicarakan tahun ini.

Dari Jam Tangan Jadi Fenomena Pop Culture

Fenomena Swatch x AP juga menunjukkan bagaimana dunia jam tangan kini semakin dekat dengan budaya hype dan pop culture modern.

Dulu, jam tangan mewah identik dengan eksklusivitas dan lingkaran kolektor tertentu.

Namun sekarang, kolaborasi seperti ini berhasil menarik perhatian generasi muda, fashion enthusiast, hingga orang-orang yang sebelumnya tidak terlalu peduli soal horologi.

Bahkan banyak netizen mengaku baru tertarik membahas dunia watch collecting setelah melihat kolaborasi viral tersebut.

Dan itu sebenarnya menjadi kekuatan terbesar Swatch selama beberapa tahun terakhir.

Mereka berhasil membuat dunia luxury watches terasa lebih fun, accessible, dan dekat dengan kultur internet.

Desainnya Diperdebatkan, Tapi Tetap Diburu

Meski menuai pro dan kontra, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah kolaborasi ini sukses besar dari sisi hype.

Dari antrean panjang global hingga sold out di Indonesia, Royal Pop membuktikan bahwa kekuatan branding dan eksklusivitas masih sangat ampuh di era media sosial.

Dan mungkin justru karena desainnya nyeleneh, produk ini terasa semakin menarik.

Karena di dunia fashion dan lifestyle modern, kadang sesuatu yang paling kontroversial justru menjadi yang paling dicari.