Home Highlight Kenapa Brand Besar Tiba-Tiba Jadi Imut? Dari Apple Sampai Microsoft Kini Pakai...

Kenapa Brand Besar Tiba-Tiba Jadi Imut? Dari Apple Sampai Microsoft Kini Pakai Maskot Lucu untuk Dekati Gen Z

16
0
Apple Sampai Microsoft Kini Pakai Maskot Lucu - sumber foto Microsoft/Apple
Apple Sampai Microsoft Kini Pakai Maskot Lucu - sumber foto Microsoft/Apple
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s! Dunia yang dulu dipenuhi logo minimalis dingin dan tampilan futuristik kini mulai dipenuhi karakter kartun lucu dengan kepala besar, mata bulat, dan ekspresi menggemaskan. Mulai dari Apple, Microsoft, hingga aplikasi belajar bahasa Duolingo, semuanya seperti berlomba menghadirkan maskot yang terasa lebih hangat dan “manusiawi.”

Dan ternyata, ini bukan sekadar strategi lucu-lucuan biasa. Di balik karakter menggemaskan tersebut, ada perang branding besar yang sedang terjadi di era digital modern.

Apple dan Microsoft Kini Punya “Wajah Baru”

Salah satu yang paling ramai dibicarakan adalah karakter baru milik Apple yang dijuluki netizen sebagai “Little Finder Guy.”

Karakter berwarna biru-putih dengan kepala oversized itu pertama kali muncul dalam video promosi laptop terbaru Apple pada Maret lalu. Meski belum menjadi maskot resmi perusahaan, desainnya langsung menarik perhatian internet karena tampil sangat berbeda dari image Apple yang biasanya elegan dan minimalis.

Sementara itu, Microsoft juga melakukan langkah serupa.

Perusahaan yang dulu sempat terkenal dengan asisten virtual kontroversial berbentuk paperclip bernama Clippy kini memperkenalkan karakter baru untuk AI assistant Copilot mereka.

Karakter bernama “Mico” itu tampil seperti blob kecil dengan wajah tersenyum.

Menurut Microsoft, Mico bukan maskot resmi, melainkan “visual identity” opsional untuk membuat percakapan AI terasa lebih natural, hangat, dan personal.

Dan ternyata, pendekatan seperti ini memang sengaja dirancang untuk membangun hubungan emosional dengan pengguna.

Kenapa Brand Besar Mendadak Ingin Terlihat Lucu?

Menurut banyak pakar marketing, maskot bukan cuma soal visual menarik.

Karakter lucu sebenarnya adalah alat branding yang sangat kuat.

Profesor marketing dari Lancaster University Management School, Anthony Patterson, menjelaskan bahwa maskot membantu perusahaan besar terlihat lebih ramah dan tidak terasa dingin.

Karena bagi banyak orang, perusahaan teknologi raksasa sering dianggap terlalu korporat, terlalu besar, dan terlalu impersonal.

Maskot memberi “wajah” pada perusahaan.

Memberi suara, ekspresi, bahkan kepribadian.

Dan hasilnya ternyata cukup efektif.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2019 menunjukkan bahwa bisnis yang menggunakan maskot dalam strategi marketing memiliki kemungkinan 37% lebih besar untuk meningkatkan market share dibanding brand tanpa maskot.

Era Ketika Orang Mulai Tidak Percaya Big Tech

Namun fenomena ini juga memunculkan diskusi yang lebih dalam.

Penulis dan pakar psikologi teknologi Nathalie Nahai menyebut kebangkitan maskot lucu ini muncul bersamaan dengan meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap perusahaan teknologi besar.

Banyak orang mulai lelah dengan image “tech overlord” — perusahaan teknologi yang terasa terlalu dominan dan mengontrol kehidupan digital manusia.

Dan di tengah situasi itu, karakter lucu dianggap sebagai cara paling cepat untuk melunakkan image perusahaan.

Dengan kata lain, maskot menggemaskan bisa menjadi alat untuk membuat perusahaan besar terasa lebih dekat dan tidak mengintimidasi.

Namun di sinilah muncul sisi yang agak menyeramkan.

Ketika AI dan Maskot Digabungkan

Baik Patterson maupun Nahai mengaku cukup khawatir dengan kombinasi AI dan karakter maskot digital.

Karena di masa depan, maskot bukan lagi sekadar gambar lucu.

Mereka bisa berbicara langsung dengan pengguna secara personal lewat AI.

Bayangkan karakter digital yang mengenal kebiasaanmu, berbicara seperti teman, lalu secara halus mempengaruhi keputusanmu sebagai konsumen.

Baca Juga:

“It’s a bit creepy, isn’t it?” kata Patterson.

Dan memang, konsep ini terdengar seperti sesuatu yang datang langsung dari episode dystopian sci-fi.

Namun dari sisi branding, strategi tersebut sangat masuk akal.

Karena semakin personal interaksi sebuah brand dengan pengguna, semakin besar kemungkinan orang membangun emotional attachment dengan brand tersebut.

Duo Duolingo Jadi Bukti Maskot Bisa Viral Besar

Kalau bicara soal maskot modern paling sukses, banyak orang langsung teringat pada burung hantu hijau milik Duolingo, yaitu Duo.

Karakter bermata besar itu kini jauh melampaui status maskot biasa.

Duo sudah berubah menjadi internet personality.

Lewat meme absurd, video TikTok kocak, hingga interaksi liar di media sosial, Duo berhasil membantu Duolingo mendapatkan lebih dari 20 juta followers di TikTok dan Instagram.

Menurut Head of Brand Marketing Duolingo, Kat Chan, orang kini bukan cuma menggunakan aplikasinya, tetapi juga benar-benar “peduli” terhadap karakter Duo.

Dan itulah kekuatan maskot modern.

Mereka bukan hanya alat promosi, tetapi karakter digital yang hidup di internet culture.

Manusia Memang Secara Alami Suka Hal Imut

Nahai juga menjelaskan bahwa manusia memang secara biologis tertarik pada sesuatu yang memiliki kepala besar dan mata besar — fitur yang identik dengan bayi.

Karena itulah banyak maskot sengaja dibuat super cute.

Otak manusia secara otomatis merespons karakter seperti itu dengan rasa hangat dan nyaman.

Dan perusahaan jelas memahami psikologi tersebut.

Strategi Lama yang Kembali Viral

Sebenarnya, penggunaan maskot bukan hal baru.

Tim olahraga sudah memakai maskot sejak abad ke-19, sementara brand komersial mulai mempopulerkannya sejak era 1960-an.

Namun karena terlalu banyak digunakan, orang sempat bosan dan maskot perlahan menghilang dari branding modern.

Sekarang, tren itu kembali bangkit.

Bahkan penerbit buku legendaris Penguin Books baru saja menghidupkan kembali karakter penguinnya dengan ilustrasi baru yang lebih hangat dan playful.

Dan sepertinya, di era AI serta media sosial seperti sekarang, maskot justru menjadi lebih relevan dibanding sebelumnya.

Karena di tengah dunia digital yang terasa dingin dan penuh algoritma, manusia ternyata masih mudah jatuh hati pada karakter lucu yang terasa “hidup.”