Hi Urbie’s! Kalau dengar nama Xiaomi, pasti yang langsung terlintas di kepala kamu adalah smartphone, smart home, atau gadget canggih dengan harga terjangkau. Tapi, siapa sangka brand teknologi asal China ini justru bikin gebrakan baru dengan terjun ke dunia F&B—dan bukan sekadar coba-coba, tapi langsung jualan… es krim!
Yup, kamu nggak salah baca. Xiaomi kini menghadirkan produk es krim dengan konsep yang super unik dan tentunya sangat “Xiaomi banget”.
Dari Smartphone ke Es Krim: Branding yang Out of the Box
Langkah Xiaomi ini memang terdengar nyeleneh, tapi justru di situlah letak daya tariknya. Brand ini dikenal dengan pendekatan inovatif dan dekat dengan komunitasnya, terutama para Mi Fans.
Alih-alih membuat es krim biasa, Xiaomi justru mengadaptasi strategi produk mereka di dunia teknologi ke dalam bentuk dessert. Hasilnya? Es krim dengan varian nama yang pasti sudah familiar di telinga: Standard, Pro, dan Max.
Mirip seperti lini smartphone mereka, kan?
Tiga Varian, Tiga Level “Performa”
Urbie’s, yang bikin konsep ini makin menarik adalah bagaimana Xiaomi menerjemahkan istilah teknologi ke dalam pengalaman kuliner.
1. Standard Edition
Untuk kamu yang suka simpel, varian ini menawarkan es krim polos dengan harga super ramah di kantong, yaitu sekitar 5,99 yuan atau setara Rp15.000. Minimalis, tapi tetap satisfying.
2. Pro Edition
Naik satu level, versi Pro hadir dengan “upgrade performa”—alias tambahan satu keping biskuit. Harganya pun sedikit lebih tinggi, yaitu 6,99 yuan (sekitar Rp18.000). Cocok buat kamu yang ingin sedikit ekstra tanpa berlebihan.
3. Max Edition
Nah, ini dia varian paling “overpowered”. Dengan harga 8,99 yuan (sekitar Rp22.000), kamu akan mendapatkan es krim dengan tiga keping biskuit sebagai topping. Manisnya maksimal, cocok buat para dessert lovers sejati.
Konsep tiering seperti ini bukan hanya gimmick, tapi juga strategi branding yang kuat—karena langsung menghubungkan produk baru dengan identitas Xiaomi yang sudah dikenal luas.
Racikan Unik dari Chef Internal Xiaomi
Di balik ide unik ini, ada sosok kreatif bernama Bing Jiabao, seorang chef dari kantin internal Xiaomi.
Chef Bing mengungkapkan bahwa inspirasi awal es krim ini berasal dari dessert berbahan dasar tofu. Namun, untuk memberikan sentuhan khas Xiaomi, ia menggunakan millet atau jawawut sebagai bahan utama.
Buat yang belum tahu, millet adalah sejenis biji-bijian kecil yang sering digunakan dalam makanan tradisional Asia. Selain unik, bahan ini juga memberikan tekstur dan rasa yang berbeda dari es krim pada umumnya.
Jadi, ini bukan cuma soal branding—tapi juga eksperimen rasa yang cukup berani.
Baca Juga:
- Kisah Lama Terungkap! “Hunger Games: Sunrise on the Reaping” Tampilkan First Look Penuh Bintang
- Jakarta Jadi Kota Teraman Nomor 2 di Asia Tenggara Versi Global Residence
- Makan Siang Sepuasnya di BW Express Jakarta, Ada Promo Pay 5 Get 1 Free
Strategi Lifestyle Brand yang Semakin Kuat
Urbie’s, langkah Xiaomi ini sebenarnya mencerminkan tren yang lebih besar: pergeseran brand teknologi menjadi lifestyle brand.
Saat ini, banyak perusahaan teknologi tidak lagi hanya fokus pada produk utama mereka, tetapi juga mencoba masuk ke berbagai aspek kehidupan sehari-hari konsumennya—mulai dari fashion, home living, hingga F&B.
Dengan menghadirkan es krim, Xiaomi seolah ingin mengatakan bahwa mereka bukan sekadar brand gadget, tapi juga bagian dari gaya hidup.
Dan jujur saja, strategi seperti ini cukup efektif untuk memperkuat emotional connection dengan konsumen.
Gimmick atau Inovasi?
Pertanyaannya, apakah ini hanya sekadar gimmick marketing?
Bisa jadi iya, tapi bukan berarti tidak berhasil. Justru di era sekarang, kreativitas dalam branding menjadi kunci untuk tetap relevan di tengah persaingan yang ketat.
Es krim Xiaomi mungkin bukan produk yang akan mengubah industri F&B secara drastis, tapi ia berhasil mencuri perhatian—dan itu sudah menjadi kemenangan tersendiri.
Apalagi dengan konsep yang relatable bagi para Mi Fans, produk ini punya potensi besar untuk viral.
Reaksi Publik: Antara Kaget dan Penasaran
Sejak pertama kali diumumkan, banyak netizen yang langsung bereaksi dengan campuran antara kaget, penasaran, dan tentu saja… lapar.
Banyak yang menganggap ini sebagai langkah “random tapi genius”, sementara yang lain melihatnya sebagai bukti bahwa Xiaomi memang berani keluar dari zona nyaman.
Yang jelas, satu hal yang pasti: semua orang jadi membicarakannya.
Masa Depan Brand Hybrid
Urbie’s, fenomena seperti ini mungkin akan semakin sering kita lihat ke depannya. Brand tidak lagi dibatasi oleh satu industri, tapi justru berkembang menjadi entitas yang fleksibel dan multidimensional.
Xiaomi hanyalah salah satu contoh bagaimana sebuah perusahaan bisa bereksperimen dengan identitasnya—dan tetap relevan di mata generasi muda.
Jadi, kalau suatu hari nanti ada brand fashion jualan kopi, atau brand makanan bikin gadget… jangan kaget lagi ya.
Karena di dunia sekarang, batas antar industri semakin blur.
Dan mungkin, justru di situlah letak keseruannya.












































