
Hi Urbie’s! Ketika mendengar pertanyaan What’s for Dinner?, sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan menu makan malam yang akan tersaji di meja. Namun, bagaimana jika pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan makna yang jauh lebih dalam tentang kehidupan, hubungan manusia, hingga perjalanan menjadi dewasa?
Inilah yang coba dihadirkan melalui pameran seni terbaru bertajuk “What’s for Dinner?” yang digelar di ARTSPACE, ARTOTEL Sanur Bali. Berlangsung mulai 8 Juni hingga 8 Agustus 2026, pameran ini menghadirkan karya-karya dari tiga perupa perempuan Bali, yakni Dyah Ayu Wulandari, Mira El Amir, dan Sandat Wangi.
Lebih dari sekadar memamerkan karya seni, pameran ini menjadi ruang refleksi yang mengangkat pengalaman perempuan dalam kehidupan sehari-hari melalui sesuatu yang begitu dekat dengan semua orang: makanan.
Ketika Makanan Menjadi Cerita Kehidupan
Di tengah semakin banyaknya diskusi mengenai perempuan, peran gender, dan pengalaman hidup modern, ketiga seniman ini memilih pendekatan yang sangat personal.
Alih-alih berbicara melalui isu besar yang kompleks, mereka mengajak pengunjung melihat kembali aktivitas sehari-hari yang sering dianggap biasa. Mulai dari memasak, menyajikan makanan, hingga momen makan bersama keluarga.
Melalui tema “What’s for Dinner?”, mereka mengeksplorasi bagaimana makanan ternyata memiliki makna yang jauh melampaui fungsi dasarnya sebagai kebutuhan tubuh.
Dalam kehidupan sehari-hari, makanan menjadi medium untuk merawat, mencintai, berbagi, dan membangun hubungan dengan orang lain. Bahkan, proses menyiapkannya sering kali menyimpan cerita emosional yang tidak terlihat di permukaan.
Perspektif tersebut juga dituangkan dalam karya kolaboratif berjudul “Saling Sulang”, sebuah karya yang merayakan pentingnya saling mengisi, saling menguatkan, dan memberikan nutrisi satu sama lain dalam kebersamaan.
Adulting dan Makan Malam yang Tidak Sesederhana Kelihatannya
Menariknya, tema yang diangkat dalam pameran ini juga berkaitan erat dengan fenomena yang sangat dekat dengan generasi muda saat ini, yaitu adulting atau proses menjadi dewasa.
Bagi banyak orang, menjadi dewasa bukan hanya soal bekerja, membayar tagihan, atau mencapai target hidup tertentu. Menjadi dewasa juga berarti belajar merawat diri sendiri dan orang-orang di sekitar.
Melalui karya-karya yang dipamerkan, ketiga seniman menunjukkan bagaimana aktivitas sederhana seperti mempersiapkan makan malam ternyata bisa menjadi simbol perjalanan tersebut.
Ada proses memilih, mempertimbangkan, mengambil keputusan, hingga bertanggung jawab atas hasil yang akan dinikmati bersama.
Di balik sepiring makanan, terdapat berbagai emosi, harapan, dan perhatian yang sering kali tidak disadari.
Makanan Sebagai Sumber Kekuatan
Bagi Sandat Wangi, makanan adalah sumber energi yang memungkinkan manusia menjalani kehidupannya.
Dalam perspektifnya, makanan bukan sekadar sesuatu yang mengenyangkan perut. Nutrisi yang terkandung di dalamnya menjadi fondasi bagi tubuh untuk bekerja dengan baik, mendukung berbagai aktivitas, serta membantu seseorang menghadapi tantangan hidup.
Melalui karya-karyanya, Sandat mengajak audiens untuk melihat makanan sebagai bagian penting dari perjalanan manusia dalam mencapai tujuan hidup dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi sangat relevan di tengah gaya hidup modern yang sering kali membuat banyak orang mengabaikan pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri.
Dapur Sebagai Ruang Refleksi Diri
Sementara itu, Dyah Ayu Wulandari menawarkan sudut pandang yang berbeda.
Baginya, proses memasak dan menyiapkan makan malam merupakan ruang dialog yang intim dengan diri sendiri.
Baca Juga:
- Bisa Sambil Rebahan, Ini Cara Baru Bangun Bisnis Afiliasi yang Cuan Ngalir Terus Tanpa Harus Kerja Sendirian!
- Sudah Dibuka! Yuk, Berburu Beasiswa Riset Indofood Riset Nugraha 2026-2027
- Jamu Lifestyle Modern: Dari Gendong ke Kafe, Ramuan Leluhur yang Kini Naik Kelas
Saat memilih bahan, mengolah, hingga menyusun hidangan, terdapat proses berpikir yang mencerminkan bagaimana seseorang membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah makanan yang disajikan akan sesuai harapan? Apakah hasil akhirnya akan memuaskan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan berbagai keputusan yang harus diambil dalam kehidupan.
Melalui pendekatan ini, Dyah memperlihatkan bahwa memasak bukan sekadar aktivitas domestik, melainkan proses refleksi yang menggambarkan bagaimana seseorang mengelola ekspektasi dan berusaha memberikan yang terbaik bagi dirinya maupun orang lain.
Makanan yang Menyatukan Keluarga
Berbeda lagi dengan Mira El Amir yang memandang makanan sebagai urat nadi kehidupan keluarga.
Menurutnya, makanan memiliki kekuatan untuk menjaga hubungan antar anggota keluarga tetap hangat dan dekat.
Di tengah kesibukan kehidupan modern, momen makan bersama sering kali menjadi satu-satunya kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul dan berbagi cerita.
Karena itu, makanan bukan hanya kebutuhan fisik, tetapi juga sarana untuk mempererat ikatan emosional.
Melalui karya-karyanya, Mira mengajak audiens untuk kembali menghargai momen-momen sederhana yang sering terlewatkan dalam rutinitas sehari-hari.
Seni yang Merayakan Kepedulian dan Solidaritas
Secara keseluruhan, pameran “What’s for Dinner?” menghadirkan pemaknaan baru terhadap aktivitas memberi makan dan menyajikan makanan.
Ketiga seniman menunjukkan bahwa tindakan tersebut bukan hanya pekerjaan rumah tangga semata, tetapi juga bentuk perhatian, kasih sayang, dan solidaritas yang terus tumbuh dalam kehidupan manusia.
Makanan menjadi metafora tentang bagaimana manusia merawat diri sendiri, mendukung sesama, dan membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitarnya.
General Manager ARTOTEL Sanur Bali, Agus Ade Surya Wirawan, mengatakan pihaknya bangga dapat berkolaborasi dengan para seniman perempuan Bali dalam menghadirkan pameran ini.
Menurutnya, keberagaman perspektif yang dibawa ketiga perupa berhasil menciptakan harmoni yang indah dan dapat dinikmati oleh para tamu hotel maupun masyarakat umum.
Bagi Urbie’s yang sedang atau berencana berlibur ke Bali dalam waktu dekat, pameran ini bisa menjadi destinasi menarik untuk menikmati seni kontemporer dengan perspektif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pameran “What’s for Dinner?” berlangsung di ARTSPACE, ARTOTEL Sanur Bali hingga 8 Agustus 2026 dan terbuka untuk umum.












































