Hi Urbie’s! Bali kembali jadi pusat perhatian dunia seni. Bukan cuma soal pantai dan sunset estetik, tapi juga tentang bagaimana seni rupa kontemporer Indonesia berkembang semakin berani, eksperimental, dan dekat dengan realitas sosial. Tahun ini, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya menghadirkan pameran bertajuk “Lights in Frame”, sebuah ruang kreatif yang mempertemukan 23 seniman muda alumni MTN Lab 2025 dalam satu panggung besar di Bali.
Pameran ini berlangsung mulai 3 Juni hingga 12 Juli 2026 di Block 42, bagian dari kawasan kreatif Nuanu Creative City. Menariknya lagi, “Lights in Frame” menjadi bagian dari rangkaian FOTO Bali Festival 2026 yang tahun ini mengusung tema “Afterimage”.
Bukan Sekadar Pameran Foto
Urbie’s, kalau mendengar kata fotografi, mungkin yang terbayang adalah kamera, hasil jepretan estetik, atau galeri penuh foto-foto besar. Tapi “Lights in Frame” justru mengajak pengunjung melihat fotografi dengan cara yang lebih luas dan lebih dalam.
Lewat pameran ini, fotografi diposisikan bukan sekadar medium gambar, melainkan cara berpikir untuk memahami dunia. Para seniman mengeksplorasi pengalaman hidup, ruang personal, isu sosial, hingga hubungan manusia dengan lingkungan melalui berbagai medium seperti video, arsip, instalasi, objek, hingga pendekatan multimedia eksperimental.
Seluruh seniman yang terlibat sebelumnya mengikuti program residensi dan laboratorium MTN Lab di berbagai kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Denpasar, hingga Gorontalo sepanjang 2025. Dari perjalanan tersebut, mereka membawa pulang perspektif baru tentang praktik seni kontemporer yang lebih cair, terbuka, dan penuh dialog dengan masyarakat sekitar.
Setiap karya lahir dari pengalaman langsung: pengamatan terhadap lanskap, percakapan dengan komunitas lokal, hingga refleksi atas kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang membuat “Lights in Frame” terasa sangat personal sekaligus relevan dengan situasi sosial hari ini.
Performance Art yang Bikin Merinding
Salah satu momen paling ditunggu dalam pembukaan pameran pada 3 Juni 2026 adalah performance art bertajuk “Kenduri Akhir Zaman: Altar-Altar yang Terlupakan”. Karya ini dibawakan oleh Monica Hapsari, Arifa Hikmah Safura, dan DJ Rencong.
Performance ini memadukan vokal improvisatif, bunyi elektronik dan analog, material pangan, hingga unsur kosmologi Aceh, Jawa, Sunda, dan Bali. Hasilnya adalah pengalaman artistik yang bukan cuma visual, tapi juga emosional dan spiritual.
Lewat karya tersebut, para seniman mencoba mengangkat refleksi kritis tentang hubungan manusia dengan alam, perubahan sosial, hingga ingatan kolektif yang perlahan mulai terlupakan di tengah kehidupan modern.
Workshop Eksperimental untuk Anak Muda Kreatif
Nggak cuma pameran, MTN Seni Budaya juga menghadirkan berbagai workshop dan talkshow yang bisa jadi ruang belajar buat generasi muda kreatif.
Salah satu yang paling menarik adalah workshop “Alternative Photographic Print: Anthotype Workshop” yang dipandu oleh seniman M. Alfariz pada 5–6 Juni 2026.
Baca Juga:
- Rahasia Awet Muda Ringo Starr di Usia 85 Tahun? Ternyata Brokoli Jadi Kunci Utamanya!
- Ternyata Ini Pentingnya Susu untuk Semua Usia yang Sering Terlewatkan!
- Kenali Bahaya Obesitas dan Solusi Operasi Bariatrik untuk Hidup Lebih Sehat
Workshop ini mengajak peserta mengenal teknik cetak fotografi kuno menggunakan pigmen tumbuhan alami sebagai material peka cahaya. Peserta bahkan diajak mengumpulkan berbagai jenis tanaman langsung dari area sekitar pameran untuk memahami hubungan antara alam dan praktik fotografi eksperimental.
Selain itu, Managing Director Panna Photo Institute, Ng Swan Ti, juga akan memandu sesi “Photography: From Self-Expression to Visual Communication” pada 6 Juni 2026.
Lewat sesi interaktif ini, peserta diajak memahami bagaimana fotografi berkembang bukan hanya sebagai media ekspresi diri, tetapi juga alat komunikasi visual yang mampu membahas isu sosial, budaya digital, hingga realitas masyarakat modern.
Fotografi sebagai Arsip Zaman
Menjelang penutupan festival, MTN Seni Budaya menghadirkan talkshow bertajuk “Fotografi dan Arsip: Membaca Zaman” pada 11 Juli 2026. Diskusi ini menghadirkan Firman Ichsan dan Rio Helmi dengan moderator Marlowe Bandem.
Talkshow tersebut akan membahas bagaimana fotografi dan arsip menjadi alat penting untuk merekam perubahan sosial, membangun memori kolektif, serta membaca sejarah dan budaya masyarakat kontemporer.
Di era digital ketika semua serba cepat dan mudah hilang, fotografi ternyata punya peran lebih besar dari sekadar dokumentasi visual. Ia menjadi jejak zaman.

Ruang Baru Seni Rupa Indonesia
“Lights in Frame” menjadi bukti bahwa seni rupa Indonesia terus bergerak ke arah yang semakin inklusif dan eksperimental. Medium seni kini tak lagi dibatasi kanvas atau foto cetak, melainkan berkembang menjadi ruang dialog antara teknologi, manusia, lingkungan, dan identitas budaya.
Lebih dari sekadar pameran, program MTN Seni Budaya di FOTO Bali Festival 2026 juga menjadi upaya membangun ekosistem seni yang sehat bagi generasi muda. Mulai dari membuka akses pengetahuan, memperluas jejaring, hingga menghadirkan mentor-mentor berpengaruh di dunia seni rupa dan fotografi Indonesia.
Adapun 23 seniman partisipan “Lights in Frame” berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Bandung, Makassar, Jayapura, Gorontalo, hingga Bali. Keberagaman latar belakang tersebut membuat pameran ini terasa seperti potret besar tentang wajah baru seni kontemporer Indonesia yang semakin berwarna dan penuh perspektif segar.
Jadi Urbie’s, kalau kamu sedang atau berencana ke Bali dalam waktu dekat, “Lights in Frame” bisa jadi destinasi wajib buat menikmati seni dengan cara yang berbeda. Karena di sini, cahaya bukan cuma soal visual — tapi juga tentang bagaimana kita melihat, merekam, dan memahami kehidupan.














































