Home Highlight Syifa Hadju Punya Kebiasaan Sederhana Selamatkan Bumi, Dari Tumbler hingga Pembalut Ramah...

Syifa Hadju Punya Kebiasaan Sederhana Selamatkan Bumi, Dari Tumbler hingga Pembalut Ramah Lingkungan

22
0
Syifa Hadju. (Foto: Dok. Unicharm)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Membawa tumbler sendiri, memakai tote bag saat berbelanja, hingga mengurangi penggunaan kertas ternyata menjadi kebiasaan sederhana yang kini selalu diusahakan oleh aktris muda Syifa Hadju. Di tengah jadwal syuting dan aktivitas yang padat, ia percaya perubahan besar bagi bumi justru lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Kepedulian itulah yang membuat Syifa turut mengajak generasi muda untuk lebih sadar terhadap dampak pilihan hidup sehari-hari terhadap lingkungan. Menurutnya, gaya hidup ramah lingkungan tidak harus dimulai dari sesuatu yang rumit.

“Di sela-sela kesibukan yang padat, aku selalu usahakan bawa tumbler dan tote bag sendiri buat mengurangi plastik sekali pakai. Selain itu, aku juga mulai mengurangi penggunaan kertas dengan beralih ke skrip digital, misalnya menggunakan tablet daripada harus mencetak dokumen yang tebal. Untuk urusan pemilihan produk, aku juga sebisa mungkin memilih produk yang ramah lingkungan, salah satunya Charm yang sudah bertahun-tahun menghadirkan pembalut ramah lingkungan. Aku percaya perubahan besar buat bumi bisa dimulai dari keseharian kita,” ujar Syifa Hadju.

Pentingnya Perubahan Perilaku Masyarakat untuk Atasi Sampah

Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika persoalan sampah di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah nasional pada 2025 telah mencapai lebih dari 30 juta ton. Angka tersebut menunjukkan pentingnya perubahan perilaku masyarakat melalui kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mendaur ulang atau menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Berangkat dari kondisi tersebut, Charm bersama PT Uni-Charm Indonesia Tbk menghadirkan program edukasi “School to School Extra Maxi” sejak April 2026. Program ini menjangkau lebih dari 2.000 siswi SMP dan SMA di Jakarta melalui berbagai sesi edukasi interaktif mengenai kesehatan menstruasi sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, para siswi tidak hanya memperoleh informasi mengenai pemilihan pembalut yang sesuai kebutuhan, tetapi juga diajak memahami bagaimana kebiasaan konsumsi sehari-hari dapat memberikan dampak terhadap kelestarian lingkungan. Mereka diperkenalkan pada penerapan prinsip 3R yang dapat dilakukan mulai dari rumah maupun sekolah.

Program edukasi ‘School to School Extra Maxi’ hadir bukan sebatas memberikan pemahaman bagi siswi SMP dan SMA dalam memilih pembalut yang tepat sesuai kebutuhan. (Foto: Dok. Unicharm)

Pembalut Ramah Lingkungan

Semangat tersebut kemudian diwujudkan Charm melalui peluncuran produk edisi terbatas Charm Extra Maxi Bio Materials Eco Friendly Package berukuran 23 cm sebagai bagian dari peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Inovasi ini lahir dari hasil riset internal Unicharm pada 2025 terhadap siswi SMP yang menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan. Hampir 30 persen responden mengaku bersedia membayar lebih untuk pembalut yang lebih ramah lingkungan, sementara sekitar 25 persen menjadikan aspek ramah lingkungan sebagai salah satu pertimbangan utama ketika memilih pembalut untuk penggunaan siang hari.

Baca Juga:

Menjawab kebutuhan tersebut, Charm menghadirkan sejumlah inovasi yang mengedepankan prinsip keberlanjutan. Lapisan pembalut yang bersentuhan langsung dengan kulit memanfaatkan bio material yang berasal dari organic cotton, botanical oil, serta tanaman tebu. Sementara itu, kemasannya menggunakan bahan kertas yang lebih mudah terurai sekaligus dapat didaur ulang.

Menariknya, desain kemasan juga dibuat agar memiliki fungsi kedua. Dengan ilustrasi karakter Chaca dan desain penutup yang dapat ditegakkan, kemasan dapat dimanfaatkan kembali sebagai tempat menyimpan pembalut maupun berbagai perlengkapan kecil lainnya sehingga tidak langsung menjadi sampah.

Edukasi Melalui Program School to School Extra Maxi

Tidak berhenti di sana, Charm juga mulai memanfaatkan material Empty Fruit Bunch (EFB) atau limbah tandan kosong kelapa sawit pada sebagian material karton luar (outer box) sebagai upaya mengurangi limbah sekaligus menghemat penggunaan sumber daya alam dalam proses distribusi produk.

Presiden Direktur PT Uni-Charm Indonesia Tbk, Yasutaka Nishioka, mengatakan bahwa edukasi yang diberikan melalui program School to School Extra Maxi memiliki misi yang lebih besar daripada sekadar memperkenalkan produk.

“Program edukasi ‘School to School Extra Maxi’ hadir bukan sebatas memberikan pemahaman bagi siswi SMP dan SMA dalam memilih pembalut yang tepat sesuai kebutuhan. Kami membawa misi yang lebih besar, yaitu menginspirasi generasi muda untuk membiasakan gaya hidup ramah lingkungan sejak dini demi melestarikan masa depan bumi,” ujar Yasutaka Nishioka.

Ia menambahkan, melalui inisiatif tersebut Charm ingin menjadi bagian dari perubahan menuju pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

“Melalui inisiatif ini, Charm berharap dapat menjadi pelopor tren konsumsi yang ramah lingkungan atau ethical. Kehadiran logo ‘Ethical Living for SDGs’ pada kemasan Charm Extra Maxi Bio Materials Eco Friendly Package diharapkan mampu membangun kesadaran sekaligus rasa bangga bahwa setiap pilihan konsumen dapat memberikan dampak positif bagi bumi, sekaligus mendukung pencapaian SDGs Nomor 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDGs Nomor 14 mengenai Ekosistem Lautan, serta SDGs Nomor 15 mengenai Ekosistem Daratan,” jelasnya.

Melalui edukasi di sekolah hingga inovasi produk yang lebih ramah lingkungan, Charm berupaya menunjukkan bahwa kepedulian terhadap bumi tidak selalu dimulai dari langkah besar. Seperti yang dilakukan Syifa Hadju, perubahan bisa dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari—karena pilihan kecil yang dilakukan jutaan orang pada akhirnya dapat memberi dampak besar bagi masa depan lingkungan.