
Hi Urbie’s! Ada satu fase dalam hidup anak muda urban ketika pulang kerja ternyata bukan berarti pekerjaan selesai.
Sampai rumah, masih ada kamar yang berantakan. Cucian belum dibereskan. Makan malam belum terpikirkan. Belum lagi pekerjaan kantor yang kadang masih nyangkut di kepala.
Kelihatannya memang cuma urusan kecil. Tapi kalau terjadi setiap hari, hal-hal domestik tersebut bisa ikut menggerus waktu yang seharusnya dipakai untuk istirahat.
Di tengah rutinitas seperti ini, muncul perubahan cara pandang di kalangan profesional muda. Mereka mulai tidak terlalu terobsesi dengan hidup yang serba hustle dan perlahan mencari ritme yang terasa lebih ringan.
Salah satu istilah yang ikut mencuri perhatian adalah tren soft living.
Soft Living, Saat Hidup Nggak Harus Selalu Ngebut
Soft living bisa dibilang sebagai respons terhadap hustle culture yang selama ini membuat kesibukan identik dengan produktivitas.
Bedanya dengan slow living yang lebih menekankan pada memperlambat ritme kehidupan, soft living berangkat dari kebutuhan untuk menjalani hidup dengan lebih nyaman dan minim stres tanpa harus meninggalkan produktivitas.
Buat pekerja urban, konsep ini terasa cukup relate.
Apalagi sejak pola kerja hybrid dan remote semakin membuat rumah sekaligus menjadi kantor, tempat meeting, ruang makan, hingga area istirahat. Batas antara “lagi kerja” dan “sudah selesai kerja” pun makin samar.
Karena itu, definisi hunian ideal ikut berubah.
Tempat tinggal tidak lagi cukup hanya punya kasur nyaman dan kamar yang enak dilihat. Hunian juga diharapkan bisa membuat rutinitas sehari-hari terasa lebih simpel.
Dengan kata lain, rumah mulai diposisikan sebagai safe haven—tempat untuk melepas penat, mengisi ulang energi, sekaligus mengambil jeda dari hiruk-pikuk kehidupan kota.

Anak Muda Mulai Menghitung Harga dengan Cara Berbeda
Menariknya, perubahan ini juga membuat sebagian profesional muda melihat biaya hunian dari perspektif yang berbeda.
Bukan hanya soal berapa harga sewanya, tetapi apa yang didapat sebagai imbalannya.
Waktu yang bisa dihemat, akses menuju transportasi publik, fasilitas yang tersedia, sampai berkurangnya pekerjaan domestik menjadi bagian dari pertimbangan.
Logikanya sederhana: kalau hunian bisa memangkas sebagian kerepotan sehari-hari, waktu yang tersisa bisa dipakai untuk hal yang lebih personal.
Mulai dari olahraga, membaca buku, memasak, hangout, sampai sekadar rebahan tanpa merasa masih punya daftar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Melihat kebutuhan tersebut, Rukita menghadirkan Rukita Deluxe, lini hunian coliving eksklusif dengan konsep fully furnished yang dirancang menyerupai apartemen modern.
Baca Juga:
- Warganet Ramai Mengadu soal Pemerintahan Lewat Doa, dari Kabah hingga Katedral Jakarta
- KFC dan Oreo Bikin Burger Ayam dengan Rasa Biskuit, Berani Coba?
- Intimate Banget! Cuma Undang 15 Fans, Fatin Shidqia Rilis Single Tidur Siang
“Di tengah tuntutan mobilitas yang cepat, bentuk soft living paling sederhana adalah memiliki tempat tinggal yang membuat seseorang tidak perlu memikirkan rumitnya urusan domestik setelah lelah bekerja. Rukita Deluxe hadir memastikan para penghuni bisa menikmati hidup yang lebih berkualitas lewat fasilitas yang terintegrasi dan personal,” ujar Lika Aprilia Samiadi, VP Marketing Rukita.
Bukan Cuma Kamar, Tapi Ada Ruang Buat Recharge
Konsep hunian modern juga mulai bergeser dari sekadar menyediakan ruang privat.
Bagaimana penghuni menggunakan waktu setelah bekerja ikut menjadi perhatian.
Rukita Deluxe, misalnya, menghadirkan sejumlah area yang dibuat untuk kebutuhan berbeda. Ada Introvert Corner dengan koleksi buku yang bisa menjadi tempat melipir sejenak dari keramaian.
Buat penghuni yang justru mendapatkan energi dari interaksi sosial, tersedia Extrovert Zone dengan berbagai board game untuk menghabiskan waktu bersama.
Ada pula Soul Kitchen yang dilengkapi peralatan masak premium. Area ini bisa digunakan untuk memasak sekaligus menjadi ruang berkumpul.

Sementara itu, Healing Space dilengkapi fasilitas olahraga seperti matras yoga dan tenis meja untuk mereka yang ingin bergerak atau sekadar recharge setelah menjalani hari yang padat.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan hunian sekarang tidak selalu berarti ruang yang semakin besar. Yang lebih penting adalah seberapa relevan ruang tersebut dengan gaya hidup penghuninya.
“Para profesional muda menyadari bahwa nilai sewa hunian berspesifikasi tinggi sangat sebanding dengan efisiensi waktu, ketenangan pikiran, dan aksesibilitas yang didapat. Ketika urusan domestik dan ruang berekspresi sudah terakomodasi, mereka memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati hidup,” tambah Lika.
Lokasi Juga Jadi Bagian dari Gaya Hidup
Hunian nyaman akan terasa kurang praktis kalau setiap hari harus menghadapi perjalanan panjang menuju kantor atau pusat aktivitas.
Karena itu, lokasi menjadi faktor penting dalam gaya hidup urban.
Hunian yang dekat dengan transportasi publik, seperti MRT, serta area komersial bisa membantu membuat mobilitas harian lebih efisien.
Rukita Deluxe hadir di sejumlah lokasi strategis di Jakarta. Pilihannya antara lain Rukita Deluxe Nismara Abdul Majid di kawasan Cipete dan Rukita Deluxe Familia Cilandak di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.
Ada juga Rukita Deluxe Harmoni di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat, yang menawarkan akses menuju area bisnis Thamrin-Sudirman.
Bagi generasi yang terbiasa menghitung waktu dengan ketat, lokasi semacam ini tentu menjadi bagian dari pertimbangan ketika memilih tempat tinggal.
Soft Living Bukan Berarti Malas
Pada akhirnya, tren soft living bukan tentang mengajak anak muda berhenti mengejar mimpi.
Justru ada perubahan cara dalam melihat produktivitas.
Kalau dulu bekerja keras sering diterjemahkan sebagai terus sibuk, kini semakin banyak orang mulai mempertimbangkan pentingnya punya waktu untuk berhenti sejenak.
Hunian pun ikut mengambil peran dalam perubahan tersebut.
Tempat tinggal yang nyaman, praktis, punya fasilitas yang sesuai kebutuhan, serta berada di lokasi strategis dapat membantu mengurangi sebagian “noise” dalam keseharian.
Jadi, kalau belakangan ini kamu mulai merasa bahwa hidup tidak harus selalu penuh agenda, mungkin bukan berarti kamu kehilangan ambisi.
Bisa jadi, kamu hanya mulai paham bahwa energi juga perlu dikelola.
Dan dalam kehidupan urban yang serba cepat, punya tempat untuk benar-benar pulang dan recharge bisa menjadi bentuk soft living yang paling sederhana.














































