Hi Urbie’s! Bayangkan berjalan melewati lorong gelap yang dipenuhi karakter aneh, ilustrasi berlekuk khas gothic, serta potongan dunia dari film-film Tim Burton yang selama ini hanya bisa Urbie’s nikmati lewat layar. Pengalaman tersebut akan menjadi nyata lewat Tim Burton’s Labyrinth, immersive maze yang akan hadir di CREVIA BASE Tokyo mulai 25 November 2026 hingga 21 Februari 2027.
Bukan sekadar pameran yang mengajak pengunjung melihat karya dari balik kaca, Tim Burton’s Labyrinth dirancang sebagai perjalanan visual yang membuat pengunjung seolah masuk langsung ke dalam kepala sang sutradara. Lorong demi lorong membawa pengunjung melewati atmosfer khas Burton yang gelap, whimsical, sedikit menyeramkan, tetapi tetap menyimpan sisi emosional yang membuat karya-karyanya begitu mudah dikenali.
Bukan Labirin Biasa, Ini Dunia Tim Burton
Nama Tim Burton sudah lama identik dengan dunia yang tidak biasa. Dari karakter bermata besar, makhluk aneh, rumah bergaya gothic, hingga tokoh-tokoh yang terasa seperti outsider, Burton memiliki bahasa visual yang hampir mustahil tertukar dengan sutradara lain.
Konsep itulah yang menjadi nyawa utama Tim Burton’s Labyrinth. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat koleksi, tetapi diajak mengikuti sebuah rute seperti sedang berada dalam sebuah cerita yang belum selesai.
Setiap belokan menjadi bagian dari pengalaman. Tidak ada jaminan Urbie’s akan tahu apa yang menunggu di balik lorong berikutnya, karena konsep labirin memang dirancang untuk memberikan rasa penasaran sekaligus kejutan.
Menyusuri Dunia The Nightmare Before Christmas hingga Big Fish
Salah satu daya tarik utama pengalaman ini adalah kemunculan dunia dari sejumlah karya ikonik Tim Burton. Beberapa di antaranya termasuk The Nightmare Before Christmas dan Big Fish, dua karya yang memperlihatkan sisi berbeda dari imajinasi sang kreator.
The Nightmare Before Christmas membawa pengunjung ke atmosfer Halloween Town yang gelap sekaligus playful. Dunia tersebut memperlihatkan bagaimana sesuatu yang menyeramkan bisa dikemas menjadi visual yang indah dan memiliki karakter kuat.
Sementara itu, Big Fish menawarkan nuansa yang lebih emosional dan fantastis. Film tersebut dikenal melalui kisah tentang hubungan ayah dan anak, ingatan, serta cerita-cerita fantastis yang berada di antara kenyataan dan imajinasi.
Memasukkan berbagai dunia tersebut ke dalam sebuah labirin membuat pengalaman Tim Burton’s Labyrinth terasa seperti perjalanan melewati berbagai halaman dalam buku visual raksasa.

Lebih dari 200 Sketsa Asli Tim Burton
Kalau Urbie’s adalah penggemar berat Tim Burton, bagian ini mungkin yang paling bikin penasaran.
Tim Burton’s Labyrinth akan menampilkan lebih dari 200 sketsa asli hasil gambar tangan Tim Burton. Koleksi tersebut menjadi semacam peta visual yang memperlihatkan bagaimana imajinasi sang seniman berkembang sebelum berubah menjadi karakter dan dunia yang kita kenal di layar.
Sketsa tangan memiliki daya tarik yang berbeda dari hasil akhir sebuah film. Garis yang belum sempurna, bentuk karakter yang masih kasar, hingga ekspresi wajah yang terlihat spontan justru bisa memperlihatkan sisi paling personal dari proses kreatif seorang seniman.
Lewat ratusan sketsa tersebut, pengunjung bisa melihat bagaimana dunia Burton tidak muncul begitu saja. Ada proses menggambar, mencoba bentuk, menemukan karakter, lalu mengembangkannya menjadi bagian dari sebuah cerita.
Baca juga:
- Lady Gaga Rilis Video Musik “The Dead Dance” Disutradarai Tim Burton, Tampilkan Nuansa Mistis Pulau Boneka
- First Look ‘Wednesday’ Season 3: Jenna Ortega Muncul di Paris, Misi Baru Dimulai
Gothic, Gelap, Tapi Tetap Punya Sisi Playful
Salah satu alasan karya Tim Burton begitu mudah dikenali adalah kemampuannya memainkan dua dunia yang berlawanan. Visualnya sering terlihat gelap dan gothic, tetapi karakter serta ceritanya justru bisa terasa lucu, absurd, bahkan menyentuh.
Atmosfer tersebut akan menjadi bagian penting dari Tim Burton’s Labyrinth. Pengunjung akan dibawa masuk ke estetika gothic khas Burton melalui desain ruang, karakter, ilustrasi, dan berbagai elemen visual yang membuat pengalaman terasa berbeda dari pameran seni konvensional.
Jadi, jangan membayangkan labirin ini hanya sebagai tempat untuk mencari jalan keluar. Yang lebih penting justru perjalanan di sepanjang jalan tersebut.
Tokyo Jadi Panggung untuk Pengalaman Musim Dingin
Tim Burton’s Labyrinth akan berlangsung di CREVIA BASE Tokyo mulai 25 November 2026 sampai 21 Februari 2027. Periode tersebut membuat pengalaman ini hadir tepat ketika Tokyo memasuki musim dingin, sebuah waktu yang terasa cocok dengan atmosfer gothic dan sedikit spooky yang menjadi ciri khas karya Burton.
Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Tokyo pada akhir 2026 hingga awal 2027, pengalaman ini bisa menjadi alternatif aktivitas selain mengunjungi destinasi populer kota tersebut. Terlebih bagi penggemar film, ilustrasi, desain, dan pop culture, konsep immersive seperti ini menawarkan cara berbeda untuk menikmati karya seorang kreator.
Kalau Berani, Masuklah ke Labirinnya
Ada sesuatu yang menarik dari karya Tim Burton: ia selalu membuat dunia yang terasa asing, tetapi pada saat yang sama terasa familiar.
Karakter-karakternya mungkin aneh. Rumah-rumahnya mungkin terlalu gelap. Ceritanya terkadang terasa seperti mimpi yang sedikit menyeramkan. Namun, justru di sanalah daya tariknya.
Tim Burton’s Labyrinth mencoba membawa seluruh perasaan tersebut keluar dari layar dan menjadikannya ruang yang bisa dijelajahi langsung. Lebih dari 200 sketsa asli akan menjadi petunjuk visual, sementara dunia dari film seperti The Nightmare Before Christmas dan Big Fish menjadi bagian dari perjalanan.
Jadi, Urbie’s, kalau suatu hari nanti berada di Tokyo dan melihat sebuah labirin dengan dunia gothic yang terasa seperti keluar dari mimpi Tim Burton, jangan buru-buru mencari jalan keluar.
Mungkin justru tersesat di dalamnya adalah bagian terbaik dari pengalaman tersebut.

















































