Home News Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 Dorong Kemandirian Bangsa

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 Dorong Kemandirian Bangsa

5
0
Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan langkah nyata dalam memperkuat pemberdayaan dan kemandirian masyarakat Indonesia. (Foto: Dok. Dompet Dhuafa)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Kemandirian bangsa tidak hanya soal seberapa kuat perekonomian, tetapi juga menyangkut kualitas manusia, kekuatan institusi, serta kemampuan masyarakat membangun kehidupan yang berkelanjutan.

Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 yang digelar pada Sabtu (29/8/2026). Mengusung tema “Satu Forum, Satu Peta Jalan Kemandirian Bangsa”, forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga filantropi, komunitas, praktisi pemberdayaan, hingga penerima manfaat.

Kongres tersebut dirancang sebagai ruang untuk bertukar gagasan sekaligus merumuskan langkah konkret dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat. Sejumlah isu strategis yang dibahas mencakup kesehatan, ketahanan sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi.

Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, mengatakan kongres ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, forum tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

“Yang pertama kami berkeinginan membuat suatu forum yang memberi kontribusi terhadap peningkatan kualitas kemerdekaan bagi bangsa ini. Karena kita perlu terus memberi sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia, perbaikan kehidupan bangsa, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia,” ujar Ahmad saat membuka Kongres Kemandirian, Sabtu (29/8/2026).

Menurut Ahmad, pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak. Karena itu, forum seperti Kongres Kemandirian diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi dapat melahirkan kolaborasi yang berdampak langsung.

Perkuat jaringan alumni penerima beasiswa

Selain membahas agenda kemandirian bangsa, Kongres Kemandirian 2026 juga menjadi momentum untuk mengonsolidasikan jaringan alumni penerima beasiswa Dompet Dhuafa.

Jaringan tersebut dinilai sebagai salah satu aset strategis yang memiliki potensi besar. Para alumni tersebar di berbagai profesi, institusi, bahkan negara, dengan kompetensi dan pengalaman yang beragam.

Sebagian dari mereka kini telah menempati posisi penting di masyarakat. Kondisi ini dinilai dapat menjadi modal sosial untuk memperkuat kontribusi terhadap pembangunan sekaligus meningkatkan kualitas program pemberdayaan Dompet Dhuafa.

“Beberapa di antaranya juga memiliki posisi-posisi penting di masyarakat, bahkan boleh kita sebut memiliki kapasitas yang sangat potensial untuk ikut memberi masukan-masukan besar terhadap pembangunan bangsa, perbaikan kualitas-kualitas program Dompet Dhuafa, dan kegiatan-kegiatan lainnya,” tutur Ahmad.

Konsolidasi alumni ini menjadi bagian penting dari agenda kongres karena pengalaman dan kompetensi mereka dapat dipertemukan dengan kebutuhan masyarakat serta program pemberdayaan yang telah berjalan.

Pendidikan hingga ekonomi jadi pembahasan

Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 berlangsung dalam dua sesi diskusi panel yang membahas tantangan kemandirian dari perspektif berbeda.

Panel pertama mengangkat tema “Strengthening Community Well-being for Sustainable Development” dengan fokus pada isu kesehatan dan sosial.

Sesi tersebut menghadirkan Salahuddin Yahya, Direktur Potensi dan Sumber Daya Sosial Kementerian Sosial RI; drg. M. Atiatul Muktadir, dentist dan influencer; serta Ivan Ahda, M.Si., Strategy & Advisory Director KTM Solution.

Sementara panel kedua membahas pendidikan dan ekonomi melalui tema “Empowered Education, Sovereign Economy”.

Diskusi ini menghadirkan Dr. Hj. Kurniasih Mufidayati, M.Si., Wakil Ketua Komisi X DPR RI; Dr. Banu Muhammad H., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia; serta Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia.

Kehadiran berbagai latar belakang tersebut diharapkan dapat mempertemukan perspektif kebijakan, akademik, praktik pemberdayaan, dan pengalaman lapangan. Dengan begitu, gagasan yang muncul dapat diterjemahkan menjadi bentuk kerja sama lanjutan.Sementara panel kedua membahas pendidikan dan ekonomi melalui tema “Empowered Education, Sovereign Economy”.

Kemandirian bangsa masih menghadapi tantangan

Pembina Yayasan Dompet Dhuafa, Yudi Latif, mengatakan upaya membangun kemandirian bangsa Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan serius.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi juga menyentuh sektor pendidikan, politik, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga:

Menurut Yudi, salah satu persoalan mendasar yang perlu diperhatikan adalah rendahnya kepercayaan dan kesadaran masyarakat terhadap kemampuan diri sendiri.

Persoalan kepercayaan terhadap kemampuan diri menjadi penting karena kemandirian pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh tersedianya sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan individu dan masyarakat untuk mengelola potensi yang dimiliki.

Karena itu, pembangunan manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda kemandirian bangsa.

Zakat produktif dinilai bisa dorong akses pendidikan

Salah satu gagasan yang muncul dalam Kongres Kemandirian adalah pemanfaatan zakat secara produktif untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia.

Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc., menegaskan pentingnya pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara terukur agar manfaatnya dapat memberikan dampak jangka panjang.

Menurut Agustino, zakat produktif dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong pemerataan pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas SDM.

Penyaluran dana filantropi melalui program pendidikan, misalnya, dapat diarahkan kepada generasi muda dari keluarga kurang mampu yang memiliki prestasi dan potensi akademik.

Dengan dukungan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi, penerima manfaat diharapkan tidak hanya keluar dari keterbatasan ekonomi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menciptakan perubahan di lingkungan masing-masing.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa filantropi tidak semata-mata diposisikan sebagai bantuan jangka pendek. Jika dikelola secara terukur dan produktif, dana zakat, infak, sedekah, serta wakaf dapat diarahkan untuk membangun kapasitas manusia.

Masyarakat ditempatkan sebagai subjek perubahan

Mulyadi Saputra menambahkan bahwa perubahan yang berkelanjutan perlu dimulai dari masyarakat yang memiliki daya dan kapasitas untuk menentukan arah perubahan.

Karena itu, model pemberdayaan yang dikembangkan Dompet Dhuafa diarahkan untuk menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subjek perubahan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kolaborasi dan memperkuat gerakan kemandirian di berbagai wilayah.

Kongres Kemandirian 2026 kemudian menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman dan sumber daya tersebut. Harapannya, gagasan yang lahir dari forum dapat berlanjut menjadi kerja sama dan program yang memberikan dampak lebih luas.

Pada akhirnya, kemandirian bangsa bukan sesuatu yang dapat dibangun oleh satu institusi saja. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, akademisi, dunia usaha, lembaga filantropi, komunitas, serta masyarakat sebagai penerima sekaligus penggerak perubahan.

Melalui Kongres Kemandirian, Dompet Dhuafa menegaskan kembali agenda pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih berdaya dan berkelanjutan.

Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara produktif pun diharapkan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas manfaat, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan hingga penguatan ekonomi masyarakat.

Dengan mempertemukan gagasan dan jejaring lintas sektor dalam satu forum, agenda kemandirian diharapkan tidak berhenti pada wacana, tetapi berkembang menjadi langkah nyata yang dapat dirasakan masyarakat.