Home News Kekeringan Melanda Sungai Ciliwung, Cipamingkis, dan Ciherang, Warga Jabodetabek Terancam Kekurangan Air

Kekeringan Melanda Sungai Ciliwung, Cipamingkis, dan Ciherang, Warga Jabodetabek Terancam Kekurangan Air

11
0
Kekeringan Parah Melanda Hulu Sungai Bogor, Warga Jabodetabek Terancam Krisis Air Bersih
Ilustrasi foto: magnific
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Halo, urbie’s! Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino mulai memberikan dampak serius terhadap ketersediaan air di kawasan Bogor dan sekitarnya. Kondisi kekeringan parah terjadi di sejumlah wilayah hulu sungai yang menjadi sumber penting bagi kebutuhan air masyarakat, termasuk Sungai Ciliwung, Cipamingkis, dan Ciherang.

Situasi ini menjadi perhatian karena kawasan hulu sungai tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air bagi wilayah hilir, termasuk kawasan Jabodetabek. Jika kondisi kekeringan terus berlangsung, pasokan air bersih untuk masyarakat berpotensi ikut terganggu.

Salah satu kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di Sungai Ciliwung. Sungai tersebut tercatat mengalami kekeringan selama lebih dari satu bulan. Bahkan, tinggi muka air di Bendungan Katulampa dilaporkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter.

Penurunan debit air tersebut turut berdampak pada kapasitas produksi air baku Perumda Tirta Pakuan. Perusahaan daerah tersebut selama ini melayani kebutuhan air bersih sekitar 35.492 pelanggan yang tersebar di wilayah Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor.

Dengan jumlah pelanggan yang cukup besar, berkurangnya ketersediaan air baku tentu menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan cuaca dan fenomena iklim dapat memberikan dampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Kekeringan Tidak Hanya Disebabkan Faktor Cuaca

Meski kemarau panjang dan El Nino menjadi faktor yang memperparah kondisi kekeringan, persoalan tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan perubahan cuaca. Faktor lingkungan di kawasan hulu juga disebut memiliki pengaruh terhadap kemampuan wilayah dalam menyimpan dan menyediakan air.

Pengkampanye Walhi Nasional, Wahyu Eka Styawan, menilai persoalan kekeringan di kawasan Bogor memiliki kaitan dengan perubahan fungsi lahan yang terjadi dalam jangka panjang.

Baca Juga:

Menurutnya, alih fungsi lahan di kawasan Puncak dan Bogor untuk pembangunan properti serta permukiman telah mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air. Kondisi tersebut menjadi semakin terasa ketika musim kemarau berlangsung panjang.

“Kekeringan ini bukan semata akibat El Nino, melainkan persoalan struktural alih fungsi lahan di kawasan Puncak dan Bogor.”

Kawasan tangkapan air atau catchment area di bagian hulu memiliki fungsi penting dalam menjaga siklus air. Ketika kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan berubah menjadi area terbangun, kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air dapat ikut berkurang.

Dampaknya tidak hanya dirasakan ketika hujan turun dengan intensitas tinggi melalui meningkatnya potensi limpasan air, tetapi juga ketika musim kemarau tiba. Minimnya kemampuan kawasan dalam menyimpan cadangan air dapat membuat debit sungai lebih cepat menurun.

Ancaman bagi Pasokan Air Bersih

Kondisi Sungai Ciliwung yang mengering selama lebih dari sebulan menjadi gambaran serius mengenai tekanan terhadap sumber daya air di wilayah Bogor. Apalagi, sungai dan kawasan tangkapan air di sekitar Bogor memiliki keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat di wilayah yang lebih luas.

Bagi masyarakat, persoalan ini bukan sekadar mengenai sungai yang mengalami penyusutan debit. Berkurangnya air baku dapat berpengaruh terhadap proses produksi dan distribusi air bersih yang digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.

Karena itu, persoalan kekeringan di Bogor perlu dilihat dari dua sisi. Fenomena iklim seperti kemarau panjang dan El Nino memang dapat memperburuk ketersediaan air. Namun, kondisi lingkungan dan tata kelola kawasan hulu juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sumber air.

Upaya menjaga kawasan resapan, mengendalikan alih fungsi lahan, serta mempertahankan kawasan tangkapan air menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kekeringan di masa mendatang.

Buat urbie’s yang tinggal di wilayah Bogor dan Jabodetabek, kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketersediaan air bersih sangat bergantung pada kesehatan ekosistem di kawasan hulu. Menjaga sungai dan kawasan resapan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan kebutuhan air masyarakat.