
Hi Urbie’s! Ada satu kebiasaan soal kesehatan gigi yang masih sering dilakukan banyak orang: baru pergi ke dokter gigi ketika rasa sakit sudah tidak tertahankan. Padahal, pemeriksaan rutin justru penting dilakukan sebelum lubang kecil, plak, atau masalah gusi berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
Kondisi ini menjadi perhatian dalam peringatan Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) 2026 yang mengusung tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat” dengan subtema “Periksa, Tindaklanjuti, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut.” Momentum tersebut kembali mengingatkan bahwa menjaga kesehatan gigi bukan hanya tentang memiliki senyum yang terlihat bersih, tetapi juga menjaga ekosistem di dalam rongga mulut.
4 dari 10 Anak Indonesia Masih Mengalami Gigi Berlubang
Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., menyampaikan kabar yang cukup menjadi perhatian dalam peresmian Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang disampaikannya, sekitar 4 dari 10 anak Indonesia yang berada di sekolah mengalami gigi berlubang.
Masalah tersebut bukan sekadar perkara gigi yang terlihat hitam atau berlubang. Ketika dibiarkan, kondisi gigi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari anak dan berpotensi memengaruhi kenyamanan mereka ketika makan, belajar, maupun menjalani kegiatan lainnya.
Karena itu, pemeriksaan gigi tidak seharusnya menunggu sampai rasa sakit muncul. Dante mendorong pemeriksaan secara rutin setidaknya setiap enam bulan, sehingga persoalan gigi dapat ditemukan dan ditangani lebih awal.
Menariknya, ia juga mengajak lingkungan sekolah ikut mengambil peran dalam mendeteksi masalah gigi. Unit Kesehatan Sekolah (UKS), misalnya, dapat menjadi bagian dari upaya mengenali tanda-tanda awal gigi bermasalah melalui edukasi dan perhatian terhadap kesehatan gigi teman sebaya.
Gigi Sehat Ternyata Bukan Berarti Semua Bakteri Harus Hilang
Selama ini, mungkin masih banyak yang menganggap bahwa semakin sedikit bakteri di dalam mulut, semakin sehat kondisi gigi. Padahal, rongga mulut memiliki ekosistem mikroorganisme yang kompleks dan tidak seluruh bakteri di dalamnya bersifat merugikan.
Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., Ketua Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), menjelaskan bahwa rongga mulut merupakan salah satu komunitas mikroba terbesar dalam tubuh manusia. Di dalamnya terdapat lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang membentuk apa yang dikenal sebagai microbiome mulut.
Microbiome tersebut terdiri dari bakteri yang memiliki fungsi berbeda, termasuk bakteri yang mendukung keseimbangan lingkungan mulut serta bakteri yang berpotensi menyebabkan masalah. Karena itu, pendekatan perawatan gigi modern tidak hanya berfokus pada menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, tetapi juga menjaga agar ekosistem tersebut tetap seimbang.
Ketika keseimbangan tersebut terganggu atau mengalami dysbiosis, kelompok bakteri yang berpotensi merugikan dapat berkembang lebih dominan. Kondisi inilah yang kemudian dapat berkontribusi terhadap munculnya berbagai persoalan kesehatan gigi dan mulut.
Dari Plak, Gigi Berlubang hingga Bau Mulut
Salah satu persoalan yang berkaitan dengan perubahan lingkungan mikrobiome adalah pembentukan plak. Ketika plak terus menumpuk dan kondisi di dalamnya berubah, lingkungan tersebut dapat mendukung pertumbuhan kelompok bakteri tertentu.
Pada kasus gigi berlubang, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah frekuensi konsumsi gula. Ketika gula terlalu sering masuk ke dalam rongga mulut, bakteri dapat menghasilkan asam secara berulang sehingga lingkungan mulut menjadi lebih asam dan proses demineralisasi enamel dapat terjadi.
Jika proses tersebut berlangsung terus-menerus tanpa penanganan yang tepat, kerusakan enamel dapat berkembang hingga akhirnya membentuk karies. Inilah salah satu alasan mengapa pola makan dan kebiasaan sehari-hari punya peran penting dalam menjaga kesehatan gigi.
Masalah juga dapat muncul di sekitar garis gusi ketika komunitas bakteri mengalami perubahan. Respons inflamasi yang muncul kemudian dapat berkembang menjadi masalah seperti gingivitis hingga periodontitis apabila tidak ditangani dengan baik.
Bahkan, bau mulut juga tidak selalu sekadar persoalan makanan yang baru dikonsumsi. Aktivitas bakteri di rongga mulut dapat menghasilkan senyawa sulfur volatil yang berkontribusi terhadap munculnya aroma tidak sedap.
Baca juga:
- Sudah Tidur 8 Jam Tapi Tetap Capek? Jangan-Jangan Cuaca Panas Diam-Diam Merusak Kualitas Tidurmu
- Kenapa Lagu Galau Selalu Laris? Ternyata Ini Penjelasan Psikolog
Kebiasaan Harian Indonesia Masih Jadi Tantangan
Persoalan kesehatan gigi tidak hanya berkaitan dengan kurangnya pengetahuan, tetapi juga kebiasaan sehari-hari. Data yang disampaikan dalam BKGN 2026 menunjukkan bahwa 47,5 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari.
Di sisi lain, sebanyak 95,6 persen masyarakat tercatat menyikat gigi setiap hari, tetapi hanya 6,2 persen yang melakukannya pada waktu yang tepat. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menyikat gigi memang sudah cukup umum, tetapi waktu dan cara melakukannya tetap menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Persoalan berikutnya adalah kebiasaan memeriksakan gigi. Saat mengalami masalah gigi dan mulut, hanya 11,2 persen masyarakat yang mencari tenaga medis gigi dalam satu tahun terakhir.
Berbagai faktor tersebut ikut menjadi tantangan ketika 57 persen penduduk Indonesia berusia tiga tahun ke atas masih mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dikutip dalam materi BKGN 2026.
Jangan Tunggu Sakit untuk ke Dokter Gigi
Bagi sebagian orang, kunjungan ke dokter gigi masih identik dengan satu kondisi: sakit gigi. Padahal, pemeriksaan rutin justru memiliki fungsi preventif karena dokter dapat menemukan persoalan yang mungkin belum menimbulkan rasa sakit.
Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), Ketua Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI), menyarankan masyarakat menjaga kebersihan gigi dan mulut, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat, serta mencukupi kebutuhan cairan. Menghindari rokok, mengelola stres, mencukupi waktu tidur, dan melakukan konsultasi ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan rongga mulut.
Air liur sendiri memiliki peran penting sebagai salah satu pertahanan alami rongga mulut. Karena itu, menjaga kecukupan cairan bukan hanya berkaitan dengan rasa haus, tetapi juga mendukung fungsi alami mulut dalam mempertahankan lingkungan yang sehat.
Akses Pemeriksaan Gigi Juga Masih Menjadi Persoalan
Masalah kesehatan gigi di Indonesia ternyata tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat. Akses terhadap layanan kesehatan gigi juga menjadi tantangan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, pegunungan, dan daerah terpencil.
Data yang disampaikan Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia menunjukkan bahwa 63,4 persen masyarakat Jawa Barat mengalami permasalahan gigi dan mulut, sementara 89,9 persen dari kelompok tersebut tidak mengunjungi dokter gigi selama satu tahun terakhir. Di Nusa Tenggara Timur, 55,6 persen masyarakat mengalami masalah gigi dan mulut, sedangkan di Papua angkanya mencapai 49,4 persen.
Jarak menuju fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, waktu tempuh, serta distribusi dokter gigi yang belum merata menjadi beberapa hambatan yang disebutkan. Karena itu, edukasi saja tidak cukup apabila masyarakat masih kesulitan mendapatkan akses pemeriksaan profesional.
BKGN 2026 Perluas Edukasi dan Pemeriksaan
Berangkat dari persoalan tersebut, Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 yang digelar Unilever Indonesia melalui Pepsodent bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia, dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia kembali membawa agenda edukasi serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Program yang telah berlangsung sejak 2010 tersebut tahun ini berfokus pada pemahaman mengenai keseimbangan microbiome mulut.
Rangkaian kegiatan BKGN 2026 berlangsung pada Oktober hingga Desember di fakultas kedokteran gigi serta rumah sakit gigi dan mulut pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut juga menjangkau pesantren, komunitas ibu, serta sejumlah wilayah yang membutuhkan perhatian lebih terhadap akses edukasi kesehatan gigi.
Pada peresmian BKGN 2026 di SDN Menteng 01 Jakarta, sebanyak 384 siswa mengikuti edukasi serta mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dari tenaga medis gigi. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk mengenalkan bahwa pemeriksaan gigi seharusnya menjadi bagian dari kebiasaan kesehatan anak sejak usia sekolah.
Kesehatan Gigi Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Urbie’s, menjaga kesehatan gigi sebenarnya bukan proyek yang baru dimulai ketika gigi sudah terasa sakit. Ada banyak kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari, mulai dari menjaga kebersihan mulut, membatasi frekuensi konsumsi gula, memenuhi kebutuhan cairan, hingga tidak melewatkan pemeriksaan rutin.
Yang tidak kalah penting, pemahaman tentang microbiome membuat kita melihat kesehatan gigi dengan perspektif yang sedikit berbeda. Mulut bukan ruang steril yang harus dibersihkan dari seluruh bakteri, melainkan ekosistem yang perlu dijaga keseimbangannya.
Pada akhirnya, senyum sehat bukan cuma perkara estetika. Di balik gigi yang terawat terdapat kebiasaan, pemeriksaan, pola makan, serta perhatian terhadap kesehatan mulut yang jika dilakukan konsisten dapat menjadi investasi kesehatan untuk jangka panjang.
Jadi, kalau selama ini agenda ke dokter gigi baru muncul setelah sakit, mungkin sudah waktunya mengubah kebiasaan tersebut. Periksa, tindaklanjuti, lalu jaga—karena mencegah selalu lebih baik daripada menunggu gigi memberikan alarm lewat rasa sakit.












































