Home Highlight Mobilitas Global Masih Jadi Privilege, 92% Warga Indonesia Belum Pernah Bepergian Internasional

Mobilitas Global Masih Jadi Privilege, 92% Warga Indonesia Belum Pernah Bepergian Internasional

6
0
Mobilitas Global Masih Jadi Privilege, 92% Warga Indonesia Belum Pernah Bepergian Internasional
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Halo Urbie’s! Bepergian ke luar negeri sering kali dianggap sebagai pengalaman yang umum di era globalisasi saat ini. Namun, sebuah survei global terbaru menunjukkan bahwa kesempatan untuk menjelajahi negara lain ternyata belum dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pew Research Center, sebanyak 92% warga Indonesia mengaku belum pernah bepergian ke luar negeri. Temuan ini menjadi salah satu hasil yang paling mencolok dalam penelitian yang melibatkan lebih dari 30.000 responden dari 24 negara di berbagai belahan dunia.

Hasil survei tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar dalam akses terhadap perjalanan internasional. Di sejumlah negara maju, bepergian ke luar negeri sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan pengalaman yang relatif mudah dijangkau. Banyak warga di negara-negara tersebut telah mengunjungi beberapa negara selama hidup mereka, baik untuk tujuan wisata, pendidikan, pekerjaan, maupun kunjungan keluarga.

Sebaliknya, kondisi yang terjadi di Indonesia menunjukkan realitas yang berbeda. Bagi sebagian besar masyarakat, perjalanan ke luar negeri masih menjadi impian atau target jangka panjang yang belum tentu dapat diwujudkan dengan mudah. Ada berbagai faktor yang memengaruhi kondisi ini, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga tantangan geografis yang unik sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Dari sisi ekonomi, biaya perjalanan internasional masih tergolong tinggi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Selain harga tiket pesawat, wisatawan juga harus mempertimbangkan biaya pengurusan dokumen perjalanan seperti paspor dan visa, akomodasi, transportasi lokal, hingga kebutuhan selama berada di negara tujuan. Tidak mengherankan jika banyak orang lebih memilih destinasi domestik yang menawarkan pengalaman menarik dengan biaya yang lebih terjangkau.

Baca Juga:

Selain faktor ekonomi, aspek geografis juga memiliki pengaruh besar. Indonesia terletak cukup jauh dari banyak destinasi populer di Eropa maupun Amerika Utara. Jarak yang panjang membuat biaya transportasi menjadi lebih mahal dibandingkan negara-negara yang berada dalam kawasan dengan konektivitas lintas batas yang lebih mudah, seperti di Eropa.

Faktor struktural dan sosial juga turut berperan. Akses terhadap informasi perjalanan, kemampuan berbahasa asing, serta kesempatan kerja dan pendidikan yang memungkinkan seseorang melakukan perjalanan internasional tidak selalu dimiliki oleh semua kalangan. Akibatnya, mobilitas global masih lebih mudah diakses oleh kelompok masyarakat tertentu.

Meski demikian, angka 92% ini tidak serta-merta menunjukkan rendahnya minat masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, tren wisata internasional dari Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan, terutama di kalangan generasi muda yang semakin terbuka terhadap pengalaman lintas budaya. Kemudahan akses informasi melalui internet dan media sosial juga membuat masyarakat semakin tertarik untuk mengeksplorasi destinasi di luar negeri.

Temuan dari Pew Research Center ini menjadi pengingat bahwa mobilitas global hingga saat ini masih belum dapat dinikmati secara merata. Di tengah dunia yang semakin terhubung, kesempatan untuk bepergian ke negara lain masih sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, geografis, dan akses terhadap berbagai sumber daya.

Bagi banyak orang, perjalanan internasional bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan simbol kesempatan, pengalaman, dan keterhubungan dengan dunia yang lebih luas. Karena itu, hasil survei ini juga membuka ruang diskusi mengenai bagaimana akses terhadap mobilitas global dapat menjadi lebih inklusif di masa depan.