
Hi Urbie’s! Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus menghantui kawasan gambut di Kalimantan Tengah, sebuah strategi yang terlihat sederhana justru bisa menjadi penentu apakah api berhenti atau terus merambat ke wilayah lain.
Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Yayasan Kalaweit, Chanee Kalaweit, memanfaatkan teknik sekat bakar sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan penyebaran api di kawasan hutan dan lahan gambut.
Namun ada satu catatan penting dari Chanee: sekat bakar bukan berarti boleh dibiarkan terbuka selamanya.
Justru setelah musim kemarau berakhir, sekat tersebut harus segera dikembalikan dan ditutup agar tidak berubah fungsi menjadi akses baru bagi pembukaan lahan perkebunan maupun aktivitas illegal logging.
Sekat Bakar, Cara Sederhana untuk Menghentikan Api
Sekat bakar pada dasarnya digunakan untuk memutus jalur penyebaran api.
Teknik tersebut menjadi semakin relevan ketika diterapkan di kawasan gambut, yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan biasa karena material organiknya dapat menyimpan api dan membuat kebakaran sulit dikendalikan.
Dalam kondisi darurat karhutla, sekat dibuat dengan menekan atau memadatkan bagian tertentu dari lahan gambut hingga menyatu dengan tanah.
Tujuannya sederhana: menciptakan area yang tidak mudah dilalui api.
Ketika api bertemu dengan bagian yang sudah disekat tersebut, penyebarannya dapat terhambat sehingga api tidak dengan mudah melompat atau merambat menuju area hutan berikutnya.
Dengan cara tersebut, kawasan yang berada di balik sekat memiliki peluang lebih besar untuk tetap terlindungi dari kobaran api.
Ada Harga yang Harus Dibayar
Meski terdengar seperti solusi ideal, Chanee menyadari bahwa penerapan sekat bakar bukan tanpa konsekuensi.
Pembuatan sekat tersebut pada dasarnya tetap menggunakan atau mengorbankan sebagian area hutan.
Namun dalam situasi darurat, pengorbanan sebagian kecil kawasan dinilai lebih baik dibandingkan membiarkan api menyebar dan menghanguskan wilayah hutan yang jauh lebih luas.
Di sinilah dilema konservasi muncul.
Di satu sisi, hutan harus dijaga agar tidak mengalami kerusakan tambahan.
Di sisi lain, ketika api sudah mengancam kawasan yang lebih luas, sebuah tindakan pencegahan harus dilakukan secepat mungkin meski membutuhkan konsekuensi tertentu.
Bagi Chanee, situasi darurat seperti karhutla membutuhkan pendekatan pragmatis: menyelamatkan kawasan yang lebih luas terlebih dahulu, kemudian memastikan solusi darurat tersebut tidak menciptakan persoalan baru.
Jangan Sampai Sekat Bakar Malah Jadi Jalan
Bagian paling menarik dari pendekatan Chanee justru datang setelah api berhasil dikendalikan.
Menurutnya, sekat bakar harus segera ditutup kembali ketika musim kemarau telah berakhir.
Alasannya bukan sekadar untuk mengembalikan kondisi kawasan seperti semula, tetapi juga mencegah sekat tersebut dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Jika dibiarkan terbuka, jalur yang awalnya dibuat untuk kepentingan mitigasi karhutla berpotensi berubah menjadi akses menuju kawasan hutan.
Dan ketika sebuah akses sudah tersedia, berbagai aktivitas lain bisa mengikuti.
Salah satunya adalah pembukaan lahan untuk perkebunan baru.
Ancaman lainnya adalah aktivitas illegal logging yang dapat memanfaatkan jalur tersebut untuk masuk dan keluar dari kawasan hutan.
Karena itu, fungsi sekat bakar harus dipandang sebagai infrastruktur darurat, bukan jalan permanen.
Begitu kondisi kembali normal, akses tersebut perlu dipulihkan agar tidak memberikan celah baru terhadap eksploitasi kawasan hutan.
Baca juga:
- Karhutla Kembali Melanda Gunung Semeru, Jalur Pendakian Ditutup dan 170 Pendaki Dievakuasi
- Karhutla Bromo Meluas, 176 Hektare TNBTS Terbakar: Gunung Bromo Ditutup Total Mulai 8 Agustus
Chanee Kalaweit dan Perjalanan Menjaga Hutan Kalimantan
Bicara mengenai Chanee Kalaweit berarti bicara tentang sosok yang sudah lama berkecimpung dalam upaya perlindungan satwa liar dan habitat di Kalimantan.
Sejak 1998, Chanee melalui Yayasan Kalaweit telah dikenal dengan berbagai upaya konservasi satwa liar dan perlindungan habitat.
Pengalaman panjang tersebut membuat pendekatannya terhadap persoalan lingkungan tidak berhenti pada satu masalah saja.
Kebakaran hutan, misalnya, bukan hanya soal api.
Ketika hutan terbakar, habitat satwa liar ikut terancam, sumber makanan dapat hilang, ekosistem terganggu, dan kawasan yang selama ini menjadi rumah bagi berbagai spesies dapat mengalami kerusakan.
Karena itu, mencegah api meluas menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan ekosistem.
Tetapi Chanee juga melihat bahwa solusi terhadap satu persoalan tidak boleh membuka pintu bagi persoalan lain.
Dari Sekat Api ke Pelajaran Besar soal Konservasi
Urbie’s, ada satu pelajaran menarik dari sekat bakar yang diterapkan Chanee.
Menjaga hutan ternyata bukan hanya tentang menemukan cara untuk menghentikan kerusakan, tetapi juga memikirkan apa yang terjadi setelah solusi tersebut bekerja.
Sekat bakar bisa membantu menghentikan penyebaran api saat situasi genting.
Namun setelah ancaman karhutla mereda, sekat yang sama harus ditutup agar tidak menjadi akses baru bagi aktivitas yang justru dapat merusak kawasan hutan.
Konsepnya sederhana, tetapi membutuhkan pengawasan dan konsistensi.
Sebab dalam konservasi, pekerjaan tidak selesai ketika api padam.
Justru setelah api padam, tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan yang berhasil diselamatkan tidak kembali terancam oleh aktivitas manusia.
Pemikiran Chanee ini menunjukkan bahwa perlindungan hutan membutuhkan strategi yang melihat persoalan secara menyeluruh: bagaimana menghentikan api hari ini tanpa menciptakan masalah baru untuk hutan esok hari.
Dan mungkin, Urbie’s, itulah yang membuat pendekatan seperti ini terasa begitu relevan.
Karena menyelamatkan hutan bukan cuma soal memadamkan api, tetapi juga memastikan tidak ada jalan lain yang diam-diam membuka pintu bagi kehancurannya.












































