Hi Urbie’s!, media sosial belakangan ramai membahas istilah 4B Movement atau “Four Nos”, sebuah gerakan feminisme asal South Korea yang kembali menjadi perbincangan global setelah viral di berbagai platform digital internasional.
Gerakan ini menarik perhatian karena memiliki prinsip yang cukup ekstrem dan berbeda dibanding gerakan feminisme pada umumnya. Nama “4B” sendiri berasal dari empat prinsip utama yang semuanya diawali kata “bi” dalam bahasa Korea, yang berarti “tidak” atau “non”.
Empat prinsip tersebut adalah tidak berkencan dengan pria, tidak menikah dengan pria, tidak berhubungan seksual dengan pria, dan tidak memiliki anak dengan pria.
Bagi sebagian orang, gerakan ini dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan sosial dan budaya patriarki di Korea Selatan. Namun di sisi lain, gerakan ini juga menuai kritik dan kontroversi karena dianggap terlalu radikal hingga memicu konflik gender.
Berawal dari Internet dan Komunitas Online
Gerakan 4B mulai muncul sekitar tahun 2017 hingga 2019 di media sosial seperti Twitter dan forum online Korea Selatan.
Salah satu komunitas yang paling sering dikaitkan dengan gerakan ini adalah WOMAD, forum online feminis radikal yang cukup kontroversial di Korea Selatan.
Di internet, banyak perempuan muda Korea mulai membagikan pengalaman mereka terkait tekanan sosial yang mereka hadapi, mulai dari ekspektasi pernikahan, standar kecantikan ekstrem, diskriminasi di dunia kerja, hingga budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat.
Dari situ muncul gagasan untuk “menolak” sistem yang dianggap merugikan perempuan melalui empat prinsip utama gerakan 4B.
Urbie’s, fenomena ini tidak muncul begitu saja. Korea Selatan sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan tekanan sosial yang sangat tinggi, terutama terhadap perempuan.
Banyak perempuan di sana menghadapi tuntutan untuk menikah, memiliki anak, tetap tampil sempurna, sekaligus sukses secara karier dalam lingkungan sosial yang kompetitif.
Arti “4B” dan Empat Prinsip Utamanya
Nama “4B” berasal dari kata “bi” dalam bahasa Korea yang memiliki arti “tidak” atau “non”. Karena pengucapannya terdengar seperti huruf “B” dalam bahasa Inggris, istilah tersebut akhirnya menjadi identitas gerakan ini.
Empat prinsip utama 4B terdiri dari:
- Tidak berkencan dengan pria
- Tidak menikah dengan pria
- Tidak melakukan hubungan seksual dengan pria
- Tidak memiliki anak dengan pria
Para pendukung gerakan ini percaya bahwa dengan menolak hubungan tradisional dengan laki-laki, perempuan bisa lebih bebas menentukan hidup mereka sendiri tanpa tekanan sosial.
Sebagian melihatnya sebagai bentuk protes terhadap struktur sosial yang dianggap masih tidak adil bagi perempuan.
Namun tentu saja, pendekatan tersebut juga memicu banyak perdebatan di masyarakat.
Baca Juga:
- Joe Taslim ‘Jatuh Cinta’ pada Karakter Navin di Film The Furious, Ternyata Ini Alasannya
- Cerita Dion Wiyoko Saat Alami Gusi Bengkak
- Ternyata Ini Pentingnya Susu untuk Semua Usia yang Sering Terlewatkan!
Jadi Perdebatan Besar di Korea Selatan
Sejak kemunculannya, gerakan 4B langsung memancing respons besar di Korea Selatan.
Pendukungnya menganggap gerakan ini sebagai simbol perlawanan terhadap budaya patriarki dan ekspektasi tradisional yang membebani perempuan.
Tetapi pihak konservatif justru melihat 4B sebagai gerakan anti-keluarga yang dianggap bisa memperburuk konflik gender.
Beberapa kritik bahkan menyebut gerakan ini sebagai bentuk misandry atau kebencian terhadap laki-laki.
Komunitas WOMAD yang sering dikaitkan dengan 4B juga beberapa kali menuai kontroversi karena dianggap menyebarkan konten provokatif dan ekstrem di internet.
Karena itulah, gerakan 4B sering mendapat label sebagai gerakan fringe atau gerakan pinggiran di Korea Selatan, bukan representasi mayoritas perempuan di sana.
Viral Kembali Setelah Pemilu Amerika Serikat 2024
Meski dianggap tidak terlalu besar di Korea Selatan, istilah 4B kembali viral secara internasional setelah Pemilu Presiden Amerika Serikat 2024.
Banyak pengguna media sosial di luar Korea mulai membahas gerakan ini sebagai bentuk protes terhadap isu hak perempuan, politik, dan ketidaksetaraan gender.
Fenomena tersebut membuat istilah 4B semakin dikenal generasi muda global, terutama di TikTok, X, dan berbagai forum internet.
Namun penyebaran tren ini juga memunculkan banyak miskonsepsi. Tidak sedikit orang yang hanya mengenal gerakan 4B lewat potongan konten viral tanpa memahami konteks sosial Korea Selatan yang melatarbelakanginya.
Mengapa Banyak Anak Muda Tertarik Membahasnya?
Urbie’s!, salah satu alasan gerakan seperti 4B cepat viral adalah karena generasi muda saat ini semakin terbuka membahas isu kesehatan mental, tekanan sosial, relasi, dan hak individu.
Di banyak negara, termasuk Korea Selatan, semakin banyak perempuan muda yang memilih menunda pernikahan atau tidak ingin memiliki anak karena alasan ekonomi, karier, hingga gaya hidup.
Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Korea, tetapi juga di Jepang, China, hingga berbagai negara Barat.
Karena itu, 4B sering dianggap sebagai simbol dari perubahan cara pandang generasi muda terhadap hubungan, keluarga, dan kehidupan personal.
Meski begitu, penting untuk memahami bahwa tidak semua perempuan Korea mendukung gerakan ini, dan tidak semua feminisme di Korea Selatan identik dengan 4B.
Fenomena Sosial yang Mencerminkan Perubahan Zaman
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, gerakan 4B menunjukkan bagaimana media sosial kini mampu mengubah diskusi sosial menjadi fenomena global.
Apa yang awalnya muncul dari forum online lokal di Korea Selatan kini bisa menjadi topik internasional yang dibahas jutaan orang di berbagai negara.
Bagi sebagian orang, 4B adalah bentuk kebebasan menentukan pilihan hidup. Bagi yang lain, gerakan ini dianggap terlalu ekstrem.
Namun satu hal yang jelas, fenomena ini memperlihatkan bagaimana isu gender, relasi, dan tekanan sosial kini menjadi bagian besar dari percakapan generasi muda modern.












































