Hi Urbie’s!, ada satu detail menarik dari film live action Look Back yang membuat kontribusi Kenshi Yonezu semakin layak diperhatikan. Yonezu akan berpartisipasi sebagai special guest guitar performance dengan kredit “Shark Kick Guitar”, menyumbangkan permainan gitar dalam salah satu adegan film yang diadaptasi dari manga one-shot karya Tatsuki Fujimoto.
Belum diketahui seperti apa persisnya permainan gitar tersebut, termasuk adegan yang akan menggunakannya. Namun, jika menyesuaikan karakter emosional Look Back, ada satu kemungkinan menarik: alunan gitar yang tidak dimainkan secara konvensional, melainkan diberi efek delay atau reverb sehingga setiap petikan terasa memanjang dan menggantung di udara.
Bukan Solo Gitar, Tapi Suara yang Mengambang
Ketika mendengar kata “gitar”, mungkin yang langsung terbayang adalah melodi, riff, atau solo yang menjadi pusat perhatian. Untuk Look Back, pendekatan seperti itu justru mungkin terasa terlalu dominan.
Permainan Yonezu berpotensi lebih menarik jika gitar digunakan sebagai tekstur suara. Petikan sederhana dapat diberi efek delay sehingga satu nada mengulang secara perlahan, kemudian bertemu dengan nada berikutnya dan menciptakan lapisan suara yang terasa luas.
Efek reverb juga bisa membuat gitar terdengar lebih jauh dan atmosferik. Hasilnya bukan sekadar “ada suara gitar”, melainkan semacam ruang emosional yang mengelilingi adegan.
Tentu saja, ini masih merupakan perkiraan, bukan konfirmasi mengenai teknik produksi musik yang benar-benar digunakan Yonezu dalam film.
Efek Delay Bisa Membuat Satu Nada Terasa Lebih Panjang
Secara sederhana, delay membuat suara gitar yang dimainkan kembali terdengar setelah jeda tertentu. Kalau satu nada dipetik dan delay-nya cukup panjang, penonton bisa mendengar semacam jejak suara yang perlahan menghilang sebelum akhirnya muncul lagi.
Teknik ini menarik jika diterapkan pada Look Back karena cerita Fujino dan Kyomoto banyak berbicara tentang sesuatu yang tertinggal. Sebuah nada yang terus mengulang dan kemudian menghilang bisa menjadi metafora musikal untuk kenangan, hubungan, atau momen yang tidak bisa kembali.
Jika ditambah feedback yang tidak terlalu tinggi, pengulangan nada tersebut dapat menciptakan efek seperti gema. Musiknya tidak perlu kompleks, tetapi atmosfer yang dihasilkan bisa terasa sangat kuat.
Reverb Membuat Gitar Terasa Seperti Berada di Ruang yang Lebih Besar
Sementara delay memberikan efek pengulangan, reverb memberikan kesan ruang. Gitar yang awalnya terdengar dekat dapat dibuat seolah dimainkan di ruangan luas, lorong, aula, atau ruang kosong.
Bayangkan petikan gitar clean yang sangat sederhana, lalu ekornya terdengar panjang karena reverb. Kamera memperlihatkan Fujino atau Kyomoto dalam frame yang tenang, sementara suara gitar perlahan menghilang di belakang dialog atau ambience.
Pendekatan seperti ini bisa cocok dengan gaya sinematik yang tidak terlalu memaksakan emosi. Musik tidak mengatakan kepada penonton bahwa mereka harus sedih atau terharu, tetapi menciptakan atmosfer yang membuat emosi tersebut muncul secara alami.
Kalau Yonezu Memainkan Gitar Clean…
Kalau Urbie’s! membayangkan kemungkinan sound-nya, gitar clean dengan sedikit karakter ambient mungkin menjadi pilihan yang menarik. Tidak perlu distorsi tebal atau overdrive yang agresif, karena suara yang lebih bersih akan memberikan ruang lebih besar bagi efek delay dan reverb untuk bekerja.
Petikan beberapa nada bisa dibuat jarang, dengan jeda cukup panjang di antaranya. Ketika nada pertama masih memiliki ekor delay, nada berikutnya masuk dan perlahan membentuk pola yang tidak terlalu jelas tetapi terasa emosional.
Bahkan, ada kemungkinan gitar tersebut hanya muncul sebentar. Justru karena durasinya singkat, sebuah tekstur gitar yang khas bisa meninggalkan kesan lebih kuat daripada musik yang dimainkan sepanjang adegan.
Baca juga:
- Teaser Live-Action Look Back Dirilis, Sentuhan Hirokazu Kore-eda Siap Mengoyak Emosi
- Kore-eda Hirokazu Siapkan Adaptasi Live-Action ‘Look Back’, Rilis Akhir 2026
Cocok dengan Kisah Fujino dan Kyomoto
Look Back berfokus pada Fujino dan Kyomoto, dua karakter yang dipertemukan melalui dunia menggambar. Natsuki Deguchi akan memainkan Fujino, sedangkan Aju Makita berperan sebagai Kyomoto.
Hubungan keduanya berkembang dari persaingan hingga menjadi sebuah persahabatan yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masing-masing. Cerita tersebut memiliki banyak ruang untuk emosi yang tidak selalu disampaikan lewat dialog.
Karena itu, permainan gitar yang memiliki efek gema bisa menjadi pilihan yang menarik secara sinematik. Nada yang terdengar seperti datang dari kejauhan dapat memberikan kesan nostalgia, kesunyian, atau kenangan yang sedang diputar kembali.
“Shark Kick Guitar” Jadi Detail yang Bikin Penasaran
Kredit “Shark Kick Guitar” sendiri sudah cukup unik dan membuat kontribusi Yonezu terasa berbeda. Sampai saat ini, belum diketahui secara detail apa maksud kredit tersebut maupun bagaimana permainan gitar tersebut ditempatkan dalam keseluruhan film.
Namun, keterlibatan Yonezu bukan satu-satunya hal menarik dari proyek ini. Film live action Look Back disutradarai Hirokazu Kore-eda dan diproduksi oleh K2 Pictures, dengan jajaran pemeran yang juga cukup kuat.
Fuuri Nanase akan memerankan Fujino kecil dan Rokka Okada sebagai Kyomoto kecil. Masaki Suda berperan sebagai Maeda, editor manga, sementara Kankuro Kudo menjadi Tamai, guru SD.
Ada pula Kayo Noro sebagai Akari, Ryo Ikeda sebagai Hitoshi, Miyu Sasaki sebagai Megumi, serta Maho Yamada sebagai Manabe, guru SMP.
Bisa Jadi Gitar yang Tidak Terasa Seperti “Soundtrack”
Hal paling menarik dari teori ini adalah kemungkinan gitar Yonezu tidak terdengar seperti soundtrack pada umumnya. Ia bisa saja hadir seperti bagian dari lingkungan suara film, lalu perlahan membentuk emosi tanpa membuat penonton sadar bahwa musik sedang bekerja.
Petikan gitar yang diberi delay pendek dapat menciptakan ritme, sedangkan reverb panjang memberikan ruang. Jika keduanya digunakan dengan tepat, satu nada sederhana bisa terasa seperti gema dari sebuah kenangan.
Sekali lagi, Urbie’s!, belum ada konfirmasi bahwa Yonezu benar-benar menggunakan teknik delay atau reverb tertentu dalam adegan tersebut. Tetapi sebagai perkiraan artistik, gitar clean dengan efek delay dan reverb yang panjang terasa cukup cocok dengan dunia Look Back: sederhana di permukaan, tetapi menyimpan gema emosi yang panjang.
Dan kalau nantinya teori ini benar-benar terdengar di layar, mungkin kita tidak akan mengingatnya sebagai “solo gitar Kenshi Yonezu”. Kita justru akan mengingatnya sebagai suara samar yang muncul di satu momen penting—kemudian terus terngiang setelah adegannya selesai.


















































