Di tengah ramainya perbincangan soal kisruh beasiswa LPDP yang menyita perhatian publik, banyak tokoh memilih untuk berkomentar atau menyampaikan kritik. Namun berbeda dengan kebanyakan figur publik lainnya, Cinta Laura justru mengambil langkah yang lebih sunyi tapi berdampak. Alih-alih ikut menyalahkan salah satu pihak, ia memilih menghadirkan solusi nyata untuk mengatasi ketimpangan pendidikan yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia.
Urbie’s tentu sepakat bahwa pendidikan tinggi masih menjadi mimpi yang belum sepenuhnya bisa diakses semua kalangan. Banyak pemuda memiliki semangat dan kemampuan akademik yang mumpuni, tetapi harus menghentikan studi karena kendala biaya. Realita ini yang kemudian mendorong Cinta Laura untuk bergerak melalui yayasannya, Cinta Laura Foundation, lewat gerakan bertajuk Act of Love.
Melalui program tersebut, Cinta menyatakan komitmennya untuk membantu membiayai UKT atau SPP sejumlah mahasiswa yang terancam putus kuliah akibat kesulitan finansial. Bantuan ini tidak bersifat simbolis, melainkan akan diberikan hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan studinya. Sebuah langkah konkret yang langsung menyasar akar persoalan.
Dalam pernyataannya, Cinta menegaskan bahwa ia ingin fokus pada solusi. Baginya, energi lebih baik digunakan untuk menciptakan perubahan ketimbang terjebak dalam perdebatan panjang tanpa ujung. Ia melihat sendiri bagaimana ketimpangan sosial dan ekonomi kerap menjadi penghalang terbesar bagi generasi muda untuk meraih pendidikan yang layak.
Baca Juga:
- Bebas Visa ke Korea Selatan Resmi Dibuka untuk WNI, Simak Aturannya
- Tetap Fit Saat Puasa: Waktu Terbaik Olahraga dan Tips Aman dari Dokter
- Yuk, Belajar Trading Saat Ngabuburit!
Program Act of Love ini tentu memiliki sejumlah kriteria agar bantuan tepat sasaran. Penerima manfaat harus merupakan Warga Negara Indonesia dan berstatus mahasiswa aktif jenjang S1 atau D4 yang berada di tahun akhir, dengan maksimal empat semester menuju kelulusan. Artinya, program ini memang diprioritaskan bagi mereka yang sudah berada di garis akhir perjuangan akademik, namun terancam gagal lulus karena faktor biaya.
Selain itu, calon penerima wajib memiliki rekam jejak akademik yang konsisten dengan IPK minimal 3.00. Hal ini menunjukkan bahwa bantuan diberikan kepada mahasiswa yang memang serius dan berkomitmen terhadap studinya. Mereka juga harus benar-benar mengalami kendala finansial nyata dan berasal dari keluarga dengan latar belakang sosial ekonomi rendah. Syarat lainnya, tidak sedang menerima beasiswa lain dan berdomisili di wilayah Jabodetabek.
Langkah ini menjadi refleksi bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, aksi personal yang konsisten justru mampu memberi dampak langsung dan terasa. Di tengah polemik yang berkembang, Cinta Laura memperlihatkan bahwa empati bisa diwujudkan dalam bentuk keberpihakan yang konkret.
Bagi Urbie’s yang mungkin sedang berjuang menyelesaikan studi atau mengenal teman dengan kondisi serupa, program ini bisa menjadi secercah harapan. Lebih dari sekadar bantuan finansial, inisiatif ini membawa pesan bahwa masih ada ruang solidaritas dan kepedulian di tengah dinamika sosial yang kompleks.
Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang satu figur publik, melainkan tentang bagaimana setiap individu memiliki pilihan dalam merespons situasi. Dan Cinta Laura memilih untuk menjawabnya dengan aksi nyata.















































