Home Highlight Meta Tutup Horizon Worlds di VR, Rugi Rp1.200 Triliun Kini Fokus Besar...

Meta Tutup Horizon Worlds di VR, Rugi Rp1.200 Triliun Kini Fokus Besar ke AI

83
0
ilustrasi Mark Zuckerberg dan Horizon Worlds yang ditutup - sumber foto Istimewa
ilustrasi Mark Zuckerberg dan Horizon Worlds yang ditutup - sumber foto Istimewa
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s, ambisi besar dunia metaverse tampaknya mulai memasuki fase realitas baru. Meta Platforms dikabarkan resmi menghentikan platform virtual reality mereka, Horizon Worlds, setelah bertahun-tahun berinvestasi besar dalam pengembangan dunia digital berbasis VR.

Langkah ini menjadi sorotan global, mengingat Meta telah menggelontorkan dana fantastis sejak 2020 untuk membangun ekosistem metaverse. Namun, hasil yang diharapkan ternyata belum tercapai.

Kini, arah strategi perusahaan mulai berubah drastis. Meta disebut akan mengalihkan fokus utamanya ke teknologi kecerdasan buatan atau AI, yang dinilai memiliki potensi lebih besar dalam waktu dekat.

Ambisi Metaverse yang Tak Sesuai Harapan

Urbie’s, sejak pertama kali diperkenalkan, Horizon Worlds digadang-gadang sebagai masa depan interaksi digital.

Platform ini dirancang sebagai dunia virtual tempat pengguna bisa bekerja, bermain, hingga bersosialisasi menggunakan avatar di lingkungan VR. Konsep ini menjadi bagian dari visi besar Meta untuk membangun metaverse, sebuah ruang digital yang menggabungkan realitas fisik dan virtual.

Namun dalam praktiknya, Horizon Worlds tidak berhasil menarik minat pengguna secara luas. Adopsinya tergolong lambat dan belum mampu mencapai skala massal seperti yang diharapkan.

Banyak pengguna menilai pengalaman di dalam platform tersebut masih terbatas, baik dari sisi teknologi, konten, maupun kenyamanan penggunaan.

Kerugian Fantastis hingga Puluhan Miliar Dolar

Kegagalan mencapai adopsi massal ini berdampak besar pada keuangan Meta.

Divisi Reality Labs, yang bertanggung jawab atas pengembangan VR dan metaverse, dilaporkan mencatat kerugian sebesar 19,2 miliar dolar AS hanya pada tahun 2025.

Jika dihitung sejak 2020, total investasi Meta di sektor metaverse disebut telah mencapai hampir 80 miliar dolar AS, atau setara dengan lebih dari Rp1.200 triliun.

Angka ini menjadikan proyek metaverse sebagai salah satu eksperimen teknologi paling mahal dalam sejarah industri digital.

Tidak hanya soal angka, dampaknya juga terasa pada sumber daya manusia. Lebih dari 1.000 karyawan dilaporkan terdampak pemutusan hubungan kerja, sementara sejumlah studio game VR yang sebelumnya didukung Meta juga ikut ditutup.

Baca Juga:

Perubahan Strategi: Dari Metaverse ke AI

Urbie’s, di tengah tekanan tersebut, Meta kini mengambil langkah besar dengan mengalihkan fokus investasinya.

Perusahaan yang dipimpin oleh Mark Zuckerberg ini disebut telah menyiapkan anggaran hingga 135 miliar dolar AS untuk tahun 2026, dengan sebagian besar dana tersebut akan dialokasikan ke pengembangan infrastruktur AI.

Langkah ini menunjukkan perubahan arah strategi yang cukup signifikan. Jika sebelumnya Meta dikenal sebagai perusahaan yang mendorong metaverse sebagai masa depan internet, kini mereka justru melihat AI sebagai peluang yang lebih menjanjikan.

Kecerdasan buatan dinilai memiliki aplikasi yang lebih luas, mulai dari pengembangan produk digital, efisiensi operasional, hingga peningkatan pengalaman pengguna di berbagai platform.

AI Jadi Medan Pertarungan Baru

Peralihan fokus ke AI juga tidak lepas dari tren global yang saat ini sedang berkembang pesat.

Banyak perusahaan teknologi besar berlomba-lomba mengembangkan sistem AI yang lebih canggih, termasuk dalam bidang generative AI, machine learning, hingga otomatisasi.

Meta sendiri telah mulai mengintegrasikan AI ke dalam berbagai produknya, seperti media sosial dan layanan digital lainnya.

Dengan investasi besar yang direncanakan, Meta tampaknya ingin memperkuat posisinya dalam persaingan teknologi global, sekaligus mengejar ketertinggalan dari kompetitor lain yang lebih dulu unggul di bidang AI.

Pelajaran dari Metaverse

Urbie’s, keputusan untuk menghentikan Horizon Worlds bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menjadi pelajaran penting dalam dunia teknologi.

Metaverse sebelumnya dianggap sebagai masa depan internet, namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa adopsi teknologi tidak selalu berjalan sesuai prediksi.

Faktor seperti kesiapan teknologi, kebutuhan pasar, hingga pengalaman pengguna memainkan peran besar dalam menentukan keberhasilan sebuah inovasi.

Dalam kasus Meta, investasi besar tidak serta-merta menjamin kesuksesan jika produk yang ditawarkan belum mampu menjawab kebutuhan pengguna secara luas.

Masa Depan Meta di Era AI

Dengan langkah baru ini, Meta memasuki babak baru dalam perjalanan transformasinya.

Fokus pada AI membuka peluang besar bagi perusahaan untuk kembali menciptakan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

Meski metaverse belum sepenuhnya hilang dari visi jangka panjang, jelas bahwa prioritas utama Meta kini telah bergeser.

Urbie’s, di tengah cepatnya perubahan teknologi, langkah Meta ini menjadi pengingat bahwa bahkan raksasa teknologi pun harus berani beradaptasi.

Dari metaverse ke AI, perjalanan Meta menunjukkan bahwa masa depan teknologi selalu bergerak dinamis—dan hanya mereka yang mampu membaca arah yang akan bertahan.