Hi Urbie’s! Buat banyak orang di usia produktif, AI bukan lagi sekadar teknologi futuristik. Dari membantu merangkum dokumen, mencari ide, menyusun pekerjaan, sampai mempercepat berbagai tugas harian, kecerdasan buatan kini menjadi salah satu “teman kerja” yang bikin aktivitas terasa lebih cepat, efektif, dan efisien.
Namun, di tengah AI yang makin pintar, muncul satu pertanyaan penting: kalau teknologi bisa melakukan semakin banyak hal, apa yang tetap menjadi wilayah manusia?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu bahasan menarik yang diangkat Indosat Ooredoo Hutchison dalam kehadirannya di IdeaFest 2026. Mengusung tema “Heartware Inside Hardware”, Indosat membawa pesan bahwa secanggih apa pun teknologi, manusia tetap menjadi pusat dari setiap perkembangan dan pemanfaatannya.
Konsep heartware yang diusung Indosat merujuk pada pikiran, perasaan, kreativitas, serta nilai-nilai manusia yang memberikan arah bagi hardware atau teknologi.
Pesan tersebut kemudian dibedah lebih jauh dalam sesi talkshow “The Future is Undeniably Human” yang menghadirkan President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha, Founder Narasi Najwa Shihab, serta CEO Comika Pandji Pragiwaksono.
Digelar pada Sabtu, 5 September 2026, di Jakarta, diskusi ini membicarakan satu hal yang semakin relevan di tengah ledakan penggunaan AI: teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap harus memegang kendali.
AI Boleh Pintar, Manusia Tetap Harus Berpikir
Bagi Pandji Pragiwaksono, kekhawatiran terhadap AI sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Setiap kali inovasi teknologi besar muncul, selalu ada fase ketika manusia mempertanyakan dampaknya terhadap kehidupan dan pekerjaan.
Meski begitu, ia melihat perkembangan AI dengan cukup optimistis. Kehadiran teknologi baru tidak semestinya hanya dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai peluang untuk mengubah cara manusia bekerja dan berkarya.
Pandangan tersebut terasa relevan dengan semakin populernya AI di kalangan usia produktif. Ketika pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat dibantu teknologi dalam hitungan menit, manusia justru memiliki kesempatan untuk mengalihkan energinya ke hal-hal yang membutuhkan kreativitas, strategi, dan pemikiran yang lebih mendalam.
Di titik inilah persoalan manusia dan AI menjadi lebih menarik. Bukan lagi soal siapa yang lebih pintar, tetapi bagaimana manusia menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kemampuan berpikirnya sendiri.

Jangan Sampai AI Bikin Kita Malas Bertanya
Najwa Shihab menyoroti tantangan lain yang tak kalah penting, yaitu potensi ketergantungan manusia terhadap AI.
Kemudahan mendapatkan jawaban dalam waktu singkat memang menjadi salah satu daya tarik terbesar AI. Namun, menurut Najwa, mendapatkan jawaban dengan cepat tidak otomatis berarti seseorang benar-benar memahami persoalan.
“Sekarang kita mendapat jawaban dalam 5 detik, padahal punya jawaban dan memahami adalah dua hal berbeda. Dan kualitas percakapan bukan diukur dari jawaban pertama, tapi dari pertanyaan kedua atau follow up question. Yang berharga adalah kemampuan manusia bertanya,” ujar Najwa.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya tidak membuat manusia berhenti mengeksplorasi.
Baca juga:
- Robot Kuda Futuristik dari DEEP Robotics, Secanggih Apa Sih?
- Mirumi, Robot Imut dari Jepang yang Disebut “Labubu Hidup”, Viral karena Bisa Ngintip dari Tas
AI dapat membantu memberikan jawaban awal, tetapi manusia tetap perlu memeriksa, mempertanyakan, membandingkan, dan memahami konteks di balik jawaban tersebut.
Karena itu, Najwa menilai AI idealnya diposisikan sebagai rekan berpikir, bukan sekadar mesin penjawab. Dengan cara ini, AI justru bisa mendorong manusia untuk berpikir lebih kritis, bukan membuat kemampuan berpikir perlahan menghilang.
Lebih jauh, Najwa menegaskan ada tiga hal fundamental yang tidak semestinya diserahkan sepenuhnya kepada mesin.
“Ada tiga hal yang tidak boleh diserahkan ke mesin yaitu value, judgement dan responsibility. Hati manusia itu yang penting, kita nggak bisa salahkan mesin, karena manusia yang memutuskan apa yang dilakukan,” tegas Najwa.
Tiga hal tersebut menjadi penting ketika AI mulai masuk ke semakin banyak ruang kehidupan. Teknologi dapat membantu mengolah informasi, tetapi keputusan mengenai apa yang benar, apa yang bernilai, dan siapa yang bertanggung jawab tetap berada di tangan manusia.
AI untuk Membuka Potensi, Bukan Menggantikan Manusia
Pesan senada disampaikan Vikram Sinha. Menurutnya, perkembangan AI seharusnya membuka lebih banyak potensi manusia, bukan membuat manusia kehilangan perannya.
“AI itu cuma alat untuk membuka potensi manusia dan harus manusia yang pegang kendali bukan yang terbawa-bawa. Yang penting adalah otak dan hati nurani. Mesin bisa menyamai kecerdasan tapi mesin nggak punya hati,” katanya.
Bagi Vikram, teknologi pada dasarnya merupakan enabler yang membantu manusia melakukan lebih banyak hal. Ketika AI mampu menangani pekerjaan yang repetitif dan mempercepat proses tertentu, manusia dapat memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas, mengambil keputusan, dan menciptakan sesuatu yang memiliki makna.
Namun, manfaat tersebut seharusnya tidak hanya bisa dinikmati oleh kelompok tertentu.
Vikram juga menekankan pentingnya demokratisasi AI agar akses terhadap teknologi tidak terbatas pada kalangan tertentu saja. Dengan akses yang semakin luas, AI diharapkan dapat menjadi alat yang membantu lebih banyak orang meningkatkan produktivitas dan membuka peluang baru.
“Kita punya inisiatif lebih besar, kita punya ambisi lebih besar dan pakai teknologi sebagai enabler untuk membuka potensi dan lakukan itu dengan hati nurani,” tutup Vikram.
Heartware di Era AI: Teknologi Tetap Butuh Sentuhan Manusia
Lewat tema “Heartware Inside Hardware”, Indosat ingin mengingatkan bahwa perkembangan teknologi bukan semata-mata tentang seberapa pintar sebuah mesin.
Ada manusia di balik teknologi. Ada kreativitas yang menentukan bagaimana teknologi digunakan. Ada empati yang mempertimbangkan dampaknya. Dan ada nilai serta tanggung jawab yang menentukan ke mana teknologi tersebut diarahkan.
Di era ketika AI semakin mudah diakses dan menjadi bagian dari aktivitas kerja sehari-hari, kemampuan menggunakan teknologi dengan bijak justru menjadi semakin penting.
AI bisa membantu manusia bekerja lebih cepat. AI bisa membuat proses menjadi lebih efektif. AI juga dapat meningkatkan efisiensi dan membuka peluang baru.
Tetapi pada akhirnya, manusialah yang menentukan untuk apa teknologi digunakan dan dampak seperti apa yang ingin diciptakan.
Sebab, masa depan mungkin akan semakin dipenuhi mesin yang pintar. Namun, seperti pesan yang dibawa Indosat di IdeaFest 2026, masa depan tetap membutuhkan manusia yang punya hati, nilai, kreativitas, empati, dan keberanian untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan.


















































