Home Business September Effect: Kenapa Pasar Saham & Kripto Sering Melemah di September?

September Effect: Kenapa Pasar Saham & Kripto Sering Melemah di September?

8
0
Ilustrasi September Effect. (Foto: Dok. XM)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! September datang, dan buat trader maupun investor, ada satu istilah yang kembali ramai dibicarakan: September Effect.

Istilah ini merujuk pada kecenderungan historis pasar finansial yang menunjukkan kinerja relatif lebih lemah selama September. Pola tersebut paling sering dikaitkan dengan pasar saham Amerika Serikat, tetapi sentimen Wall Street juga bisa ikut memengaruhi pasar global dan aset berisiko lain, termasuk kripto.

Namun, jangan buru-buru menganggap September sebagai “bulan merah”. Data historis bukan ramalan pasti. Pasar tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, kebijakan bank sentral, kinerja perusahaan, hingga psikologi investor.

Lantas, apa itu September Effect, kenapa bisa terjadi, dan bagaimana cara menghadapi volatilitas pasar saham serta kripto selama September?

Apa Itu September Effect?

September Effect adalah fenomena musiman di pasar finansial ketika kinerja pasar saham cenderung lebih lemah secara historis selama September.

Berdasarkan data historis, September kerap tercatat sebagai salah satu bulan dengan performa terlemah bagi pasar saham AS. Pola serupa juga terlihat pada Bitcoin dalam data historis perdagangan kripto.

Meski begitu, penting untuk membedakan antara kecenderungan historis dan kepastian arah pasar.

Artinya, September Effect tidak otomatis berarti harga saham atau Bitcoin pasti turun. Ada banyak September ketika pasar justru menguat.

S&P 500: September Punya Rekam Jejak yang Kurang Bersahabat

Pasar saham AS sering menjadi acuan utama ketika membahas September Effect.

Berdasarkan data historis indeks S&P 500 sejak periode pasca-Perang Dunia II yang dikutip dalam laporan CFRA, September mencatat rata-rata imbal hasil sekitar -0,78%, menjadikannya salah satu bulan dengan rata-rata performa terlemah.

Karena pasar saham AS memiliki pengaruh besar terhadap sentimen investor global, pergerakan Wall Street juga dapat ikut memengaruhi pasar saham di negara lain.

Namun, angka rata-rata tersebut tidak berarti S&P 500 akan selalu ditutup negatif setiap September. Pasar tetap bisa bergerak berbeda tergantung kondisi ekonomi dan sentimen yang sedang berlangsung.

Bitcoin Juga Punya Pola Serupa

Di pasar kripto, September juga punya reputasi yang cukup berat, terutama bagi Bitcoin.

Mengutip data historis CoinGlass sejak 2013, Bitcoin mencatat rata-rata imbal hasil sekitar -3,5% pada September, menjadikannya salah satu bulan dengan performa historis terlemah.

Sepanjang periode 2013–2025, Bitcoin tercatat mengakhiri September di zona merah sebanyak delapan kali.

Ketika Bitcoin mengalami tekanan jual, dampaknya juga bisa merembet ke aset kripto lainnya. Altcoin yang umumnya memiliki volatilitas lebih tinggi berpotensi mengalami pergerakan yang lebih ekstrem.

Tetapi sekali lagi, pola historis bukan kepastian. Kondisi pasar kripto pada tahun berjalan tetap menjadi faktor yang jauh lebih penting ketika mengambil keputusan.

Kenapa September Effect Bisa Terjadi?

September Effect sebenarnya bukan sekadar cerita soal “ganti bulan”.

Menurut F.X. Sutjiharto, M.M., pakar trading dan pendiri FXSV Academy, fenomena tersebut lebih berkaitan dengan perilaku dan kebiasaan pelaku pasar.

Ada beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan munculnya September Effect.

1. Investor Kembali Aktif Setelah Liburan Musim Panas

Musim panas di Amerika Serikat dan Eropa biasanya menjadi periode ketika sebagian investor dan fund manager mengambil libur.

Ketika aktivitas pasar kembali normal, investor institusi mulai mengevaluasi strategi, melihat kembali kinerja portofolio, sekaligus melakukan rebalancing.

Proses tersebut dapat mendorong aktivitas jual-beli dalam jumlah besar. Jika banyak investor secara bersamaan mengurangi posisi pada aset tertentu, tekanan jual pun bisa meningkat.

2. Tax-Loss Selling

Faktor lain yang sering dikaitkan dengan September Effect adalah tax-loss selling.

Di AS, investor dapat menjual aset yang mengalami kerugian untuk merealisasikan capital loss. Strategi ini dapat digunakan untuk membantu mengimbangi keuntungan modal tertentu dalam perhitungan pajak.

Jika aksi tersebut dilakukan secara luas, tekanan jual pada saham-saham tertentu berpotensi meningkat.

Meski demikian, mekanisme pajak dan kalender fiskal setiap investor tidak sama. Jadi, tax-loss selling sebaiknya dipandang sebagai salah satu faktor potensial, bukan satu-satunya penyebab September Effect.

3. Efek Psikologis dan Self-Fulfilling Prophecy

Pasar bukan cuma soal angka. Psikologi investor juga punya pengaruh besar.

Ketika semakin banyak pelaku pasar percaya bahwa September adalah bulan yang buruk, mereka bisa menjadi lebih defensif. Sebagian memilih mengurangi posisi atau menjual aset lebih awal karena khawatir harga turun.

Jika keputusan serupa dilakukan oleh banyak pelaku pasar secara bersamaan, aksi jual tersebut justru bisa memperbesar tekanan di pasar.

Inilah yang sering disebut sebagai self-fulfilling prophecy: ekspektasi terhadap penurunan dapat ikut mendorong perilaku yang pada akhirnya memperkuat penurunan.

Baca Juga:

Bagaimana Cara Menghadapi September Effect?

Kalau September punya reputasi sebagai bulan yang lebih volatil, bukan berarti investor harus panik atau buru-buru keluar dari pasar.

Justru, periode seperti ini bisa menjadi pengingat untuk kembali disiplin pada strategi dan manajemen risiko.

1. Perhatikan Kecepatan Eksekusi

Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, eksekusi order menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan trader.

XM, salah satu platform trading derivatif, menyebut 99,7% order dieksekusi dalam waktu kurang dari satu detik serta menawarkan eksekusi tanpa requote dan penolakan.

Bagi trader aktif, kecepatan eksekusi dapat membantu ketika membuka maupun menutup posisi. Namun, kecepatan tetap bukan pengganti analisis dan manajemen risiko.

2. Jangan Hanya Mengandalkan Pola Musiman

September Effect adalah pola historis, bukan indikator yang menjamin harga akan turun.

Karena itu, tetap pantau faktor fundamental dan sentimen pasar, termasuk:

  • Data inflasi dan tenaga kerja.
  • Kebijakan bank sentral.
  • Suku bunga.
  • Kondisi ekonomi global.
  • Kinerja dan prospek perusahaan.
  • Arus dana di pasar.
  • Sentimen investor terhadap aset berisiko.

Dengan begitu, keputusan tidak hanya dibuat berdasarkan asumsi bahwa “September pasti merah”.

3. Perketat Manajemen Risiko

Volatilitas yang meningkat berarti pergerakan harga bisa menjadi lebih cepat dan lebar.

Trader dapat menyesuaikan ukuran posisi dengan tingkat risiko yang sanggup ditanggung. Penentuan batas kerugian dan penggunaan stop loss juga dapat membantu menjaga risiko tetap terukur.

Prinsip sederhananya: jangan mengambil posisi terlalu besar hanya karena ingin mengejar peluang ketika pasar sedang bergerak agresif.

4. Jangan Abaikan Peluang Setelah Koreksi

Koreksi tidak selalu berarti awal dari penurunan panjang.

Ketika tekanan jual mulai mereda dan sentimen kembali membaik, pasar dapat memasuki fase pemulihan. Bagi investor dengan horizon lebih panjang, kondisi tersebut justru bisa menghadirkan peluang—tentunya setelah mempertimbangkan valuasi, fundamental, dan profil risiko.

Jadi, fokusnya bukan menebak apakah September akan merah atau hijau, melainkan menyiapkan strategi untuk berbagai skenario.

September Effect Bukan Alarm Bahaya

Pada akhirnya, September Effect lebih tepat dipandang sebagai pola historis daripada sinyal pasti bahwa pasar akan jatuh.

Pasar saham dan kripto tetap dipengaruhi kombinasi faktor yang jauh lebih kompleks. Kebijakan bank sentral, kondisi ekonomi, geopolitik, laporan keuangan, likuiditas, serta sentimen investor bisa membuat performa September pada satu tahun sangat berbeda dengan tahun lainnya.

Buat trader, periode volatil bisa menjadi momentum untuk lebih disiplin terhadap rencana trading. Sementara bagi investor jangka panjang, fluktuasi bulanan sebaiknya ditempatkan dalam konteks tujuan investasi yang lebih panjang.

Yang penting, jangan membuat keputusan hanya karena kalender berganti ke September.