Hi Urbie’s! Kalau selama ini nama keluarga Hartono lebih sering dikaitkan dengan industri rokok, perbankan, teknologi, dan berbagai bisnis besar lainnya, peta permainannya kini semakin menarik karena media digital ikut menjadi bagian dari ekspansi tersebut. Setelah mengambil alih Kumparan, Grup Djarum melalui kendaraan investasinya kembali mengambil posisi strategis di industri media dengan mengakuisisi perusahaan yang menaungi Narasi milik Najwa Shihab.
Pengambilalihan tersebut dilakukan melalui PT Global Digital International (GDI), entitas pendanaan dan kendaraan investasi yang berada di bawah GDP Venture milik Grup Djarum. Informasi ini membuat aksi korporasi tersebut bukan sekadar cerita tentang pergantian pemilik sebuah media, tetapi juga menjadi bagian dari strategi lebih besar Grup Djarum dalam membangun portofolio bisnis digital dan media.
Narasi Resmi Berpindah Kendali ke GDI
PT Narasi Citra Sahwahita merupakan perusahaan yang menaungi media digital Narasi dan didirikan pada 2018 oleh Dahlia Citra, Najwa Shihab, serta Catharina Davy. Narasi kemudian tercatat dan diverifikasi oleh Dewan Pers pada 29 November 2019, menjadikannya salah satu pemain media digital yang sudah memiliki perjalanan cukup panjang di Indonesia.
Pengumuman pengambilalihan tersebut disampaikan melalui informasi perusahaan dan telah memperoleh persetujuan dari seluruh pemegang saham. Perubahan pengendali itu juga telah disetujui serta diberitahukan kepada Menteri Hukum Republik Indonesia pada 2 September 2026.
Namun, Urbie’s perlu mencatat satu hal penting, yaitu nilai transaksi akuisisi dan jumlah saham yang dialihkan tidak dicantumkan dalam pengumuman tersebut. Artinya, angka berapa yang harus dikeluarkan Grup Djarum untuk mengambil alih Narasi belum menjadi informasi publik dalam pengumuman awal aksi korporasi ini.
Bukan Pertama Kali Djarum Masuk ke Narasi
Menariknya, hubungan Grup Djarum dengan Narasi sebenarnya bukan baru dimulai pada 2026. Melalui GDP Venture, Grup Djarum telah menjadi investor Narasi sejak seed round pada November 2018 bersama Go-Ventures, tidak lama setelah media tersebut berdiri.
Dengan demikian, transaksi terbaru ini bisa dilihat sebagai perubahan posisi yang cukup signifikan dari sekadar investor menjadi pihak yang mengendalikan perusahaan. Dari perspektif bisnis, langkah tersebut menunjukkan bagaimana investasi awal di perusahaan media digital dapat berkembang menjadi kepemilikan strategis ketika bisnisnya semakin matang.
GDI sendiri memang digunakan sebagai salah satu kendaraan investasi Grup Djarum dalam mengembangkan portofolio digital dan media. Sebelum mengambil alih Narasi, kendaraan investasi tersebut juga dikaitkan dengan pengambilalihan Kumparan, sehingga dua nama media digital besar kini berada dalam orbit bisnis Grup Djarum.
Baca juga:
- Jakarta Dinobatkan PBB sebagai Kota Megapolitan Terpadat di Dunia, Geser Tokyo dan Dhaka!
- PBB Prediksi Lapisan Ozon Dunia Mulai Pulih dan Bakal Sempurna pada 2066
Dari Kumparan ke Narasi, Media Digital Jadi Area Permainan
Kalau dua transaksi tersebut dilihat secara bersamaan, ada pola yang lebih besar daripada sekadar akuisisi perusahaan media satu per satu. Grup Djarum tampaknya semakin serius menempatkan media digital sebagai bagian dari portofolio bisnisnya, terutama melalui struktur investasi GDP Venture dan GDI.
Hal ini menjadi menarik karena media digital bukan hanya menjual konten, tetapi juga memiliki ekosistem yang berkaitan dengan komunitas, kreator, teknologi, advertising, data, hingga distribusi informasi. Ketika sebuah grup bisnis besar masuk ke sektor tersebut, nilai strategisnya tentu tidak berhenti pada jumlah pembaca atau penonton, tetapi juga pada bagaimana aset digital tersebut dapat berkembang dalam ekosistem yang lebih luas.
Seberapa Besar Kepemilikan GDI di Narasi?
Dalam laporan mengenai dokumen korporasi, GDI tercatat memiliki 6.910 dari 6.911 saham Narasi Citra Sahwahita, atau sekitar 99,99 persen kepemilikan, sementara satu saham tersisa berada di PT Merah Cipta Media, perusahaan yang juga memiliki keterkaitan dengan Grup Djarum. Data tersebut memberikan gambaran bahwa pengendalian Narasi memang nyaris sepenuhnya berada di tangan entitas Grup Djarum.
Struktur tersebut membuat istilah “menguasai penuh” menjadi relevan secara pengendalian, meskipun secara teknis terdapat satu saham yang tercatat pada entitas lainnya. Yang jelas, kendali perusahaan telah berpindah kepada GDI setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dan proses administratif kepada Kementerian Hukum.
Lalu, Apa Artinya untuk Narasi?
Pertanyaan berikutnya tentu bukan lagi siapa pemilik Narasi, melainkan seperti apa perjalanan media tersebut setelah perubahan pengendali. Sebab, Narasi memiliki identitas yang kuat sebagai media digital yang dibangun dari nama dan reputasi Najwa Shihab bersama para pendirinya.
Untuk saat ini, informasi publik mengenai akuisisi tersebut belum menjelaskan secara detail bagaimana arah bisnis, strategi redaksi, struktur manajemen, maupun positioning Narasi setelah perubahan kepemilikan. Karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan apakah akan ada perubahan besar dalam wajah Narasi setelah transaksi ini.
Bagi Urbie’s yang mengikuti perkembangan industri media, satu hal yang jelas adalah peta kepemilikan media digital Indonesia sedang bergerak. Masuknya Narasi ke bawah kendali Grup Djarum setelah Kumparan memperlihatkan bahwa bisnis media kini semakin sulit dipisahkan dari perkembangan ekosistem teknologi, investasi, dan konglomerasi digital.
Dan ketika nama-nama media digital besar mulai terkumpul dalam portofolio grup bisnis yang sama, pertanyaan yang lebih menarik justru baru dimulai: seberapa jauh ekspansi Grup Djarum di industri media digital akan berlanjut?














































