Urbie’s, kalau mendengar kata agama, mungkin yang langsung terbayang adalah ajaran spiritual, ritual, tempat ibadah, atau aturan tertentu yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Namun, Jepang punya sebuah konsep yang cukup unik dan nyeleneh bernama MtoP atau Motohiro to People. Menariknya, “agama” ini justru punya ajaran yang cukup relate dengan kehidupan para pekerja, terutama soal keberanian untuk menolak lembur yang sebenarnya tidak diperlukan.
MtoP merupakan proyek seni media yang dibuat oleh Motohiro Hisano pada 2018. Sejak awal, MtoP memang tidak dirancang sebagai agama dalam pengertian konvensional. Konsep tersebut menjadi salah satu bentuk sindiran terhadap berbagai tuntutan sosial dan budaya kerja yang berkembang di Jepang.
Salah satu pesan utama MtoP terdengar sederhana, tetapi bisa terasa cukup menantang bagi sebagian pekerja jepang: seseorang berhak mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan.
Mengajak Pekerja Berani Mengatakan Tidak
Budaya kerja Jepang selama ini kerap dikaitkan dengan etos kerja tinggi, kedisiplinan, serta tuntutan untuk memberikan kontribusi maksimal kepada perusahaan. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut bisa membuat seseorang merasa harus terus bekerja meskipun sebenarnya sudah kelelahan.
Di sinilah MtoP hadir dengan pendekatan satir. “Ajaran” yang dibawa tidak hanya berkaitan dengan lembur, tetapi juga berbagai situasi ketika seseorang merasa terpaksa mengikuti keinginan atau ekspektasi orang lain.
MtoP mendorong orang untuk lebih berani menggunakan haknya, termasuk mengambil cuti berbayar, memanfaatkan cuti melahirkan, menjaga kesehatan, hingga menolak ajakan atau tekanan yang dianggap tidak masuk akal.
Dengan kata lain, konsep ini seperti memberikan pembenaran sosial bagi seseorang untuk berkata, “Gue nggak mau melakukan ini,” ketika memang tidak ada alasan yang masuk akal untuk memaksakan diri.
Baca juga:
- Work From Hotel: Kenapa Gen Z Mulai Pilih Hotel Ketimbang Kafe untuk Bekerja?
- Fashion Tite Kubo Makin Keren! BLEACH: Thousand-Year Blood War Sukses Bikin Tajir
Bukan Soal Kekuatan Supranatural
Meski menggunakan konsep dan istilah yang menyerupai agama, Motohiro Hisano tidak mengklaim memiliki kekuatan supranatural. Ia juga tidak meminta orang-orang yang mengikuti konsep MtoP untuk memberikan penghormatan atau pujian kepadanya.
Hal tersebut justru menjadi bagian penting dari pesan MtoP. Konsep ini menggunakan bahasa dan simbol yang menyerupai agama sebagai medium untuk menyampaikan kritik terhadap kebiasaan sosial yang membuat seseorang terlalu sering mengorbankan dirinya demi memenuhi tuntutan orang lain.
Jadi, MtoP lebih tepat dipahami sebagai proyek seni sekaligus kritik sosial daripada agama dalam pengertian yang sebenarnya.
Pesannya Relate dengan Dunia Kerja Modern
Walaupun lahir dari konteks sosial Jepang, pesan yang dibawa MtoP terasa cukup universal. Di banyak tempat, pekerja masih menghadapi situasi ketika sulit menolak pekerjaan tambahan, merasa tidak enak mengambil cuti, atau takut dianggap kurang berdedikasi ketika memilih beristirahat.
Padahal, menjaga kesehatan fisik dan mental juga menjadi bagian penting dari kehidupan seorang pekerja. Bekerja keras tentu bukan sesuatu yang salah, tetapi terus memaksakan diri tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh dan kebutuhan pribadi juga bukan pilihan yang ideal.
Karena itu, MtoP menawarkan sebuah perspektif yang cukup menarik: tidak semua permintaan harus diterima dan tidak semua lembur harus dianggap sebagai bentuk loyalitas.
Konsep “agama” satir ini pada akhirnya bukan sekadar soal menolak lembur. Lebih jauh, MtoP mengajak orang mempertanyakan kembali kebiasaan untuk selalu mengatakan “iya” hanya karena takut mengecewakan orang lain.
Urbie’s, mungkin kita nggak perlu sampai mendirikan agama baru untuk belajar mengatakan tidak. Namun, pesan MtoP cukup menarik untuk direnungkan, terutama di tengah dunia kerja yang semakin menuntut produktivitas. Kadang-kadang, mengatakan “nggak” bukan berarti malas atau tidak bertanggung jawab. Bisa jadi, itu adalah cara seseorang menjaga batasan, kesehatan, dan kehidupannya sendiri.










































