Hi Urbie’s! Pulang dari Vietnam, Miss Indonesia 2025 Audrey Bianca tidak hanya membawa kabar soal pencapaiannya di Miss World 2026, tetapi juga sebuah cerita tentang bagaimana budaya Indonesia bisa mencuri perhatian di panggung internasional. Di antara puluhan kontestan dari berbagai negara, atribut kuda dalam penampilan Kuda Lumping justru membuat Audrey memiliki identitas yang mudah dikenali selama rangkaian kompetisi berlangsung.
Audrey berhasil membawa Indonesia masuk jajaran 40 besar Miss World 2026 sekaligus tampil dalam agenda Dances of the World. Lewat kesempatan tersebut, ia memperkenalkan salah satu kekayaan tradisi Indonesia dengan membawakan Kuda Lumping, tarian yang secara visual langsung menghadirkan karakter kuat dari budaya Nusantara.
30 Hari yang Jadi Pengalaman Sekali Seumur Hidup
Sesampainya di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Audrey menceritakan bagaimana perjalanan selama Miss World 2026 menjadi pengalaman yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi kecantikan. Selama kurang lebih 30 hari berada di Vietnam, ia bertemu dengan kontestan dari berbagai latar belakang dan mendapatkan kesempatan untuk membawa identitas Indonesia ke ruang internasional.
“Aku selama di Miss World, I spent 30 days there dan jujur it’s been a once in a lifetime experience. It’s really unforgettable,” kata Audrey Bianca saat ditemui setelah kepulangannya.
Bagi Audrey, satu bulan tersebut menjadi perjalanan yang tidak hanya menguji kemampuan sebagai seorang beauty queen, tetapi juga membuatnya semakin memahami bagaimana identitas sebuah negara bisa diperkenalkan melalui hal-hal yang terlihat sederhana. Mulai dari pakaian, makanan, hingga perilaku sehari-hari, semuanya menjadi bagian dari cara Audrey membawa Indonesia selama berada di Vietnam.
Kuda Lumping Jadi Penanda Audrey di Antara Kontestan
Ada satu elemen yang ternyata meninggalkan kesan cukup kuat selama Audrey menjalani rangkaian Miss World 2026. Atribut kuda yang digunakan dalam penampilan Kuda Lumping membuat sosok Audrey relatif mudah dikenali oleh kontestan lain maupun pihak penyelenggara.
Visual tersebut memang menjadi salah satu karakter paling ikonik dari Kuda Lumping. Ketika dibawa ke panggung internasional, properti berbentuk kuda tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari koreografi, tetapi juga menjadi semacam simbol visual yang langsung mengarahkan perhatian kepada budaya Indonesia.
Hal ini membuat penampilan Audrey memiliki cerita tersendiri. Di tengah berbagai tarian tradisional dari negara lain yang juga ditampilkan dalam Dances of the World, Kuda Lumping membawa bentuk, gerakan, dan identitas visual yang berbeda.
Baca juga:
- Ivanka Wu: Fashion Stylist di Balik Project no na hingga Rich Brian
- Billy Tjong Hadirkan Fuchsia, Koleksi JF3 2026 yang Rayakan 25 Tahun Perjalanan Fashion
Bukan Sekadar Menari, Tapi Membawa Akar Indonesia
Audrey mengaku senang karena mendapat kesempatan untuk memperkenalkan budaya Indonesia melalui berbagai aspek selama berada di Miss World. Baginya, representasi budaya tidak berhenti ketika dirinya berada di atas panggung dan mengenakan kostum tradisional.
“Aku learned a lot dan senang bisa mewakili budaya Indonesia dan akar Indonesia melalui pakaian, makanan, dan perilaku aku,” sambung Audrey. Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana ia melihat tugas sebagai perwakilan Indonesia secara lebih luas, bukan hanya melalui kompetisi di atas panggung.
Pakaian menjadi cara pertama untuk memperlihatkan identitas, makanan menjadi pintu untuk mengenalkan cita rasa Nusantara, sementara perilaku menjadi representasi yang dibawa Audrey dalam setiap interaksi. Dengan begitu, keberadaan Audrey selama 30 hari di Vietnam menjadi semacam perjalanan diplomasi budaya dalam skala personal.
Indonesia Masuk 40 Besar, Tapi Ceritanya Lebih dari Placement
Pencapaian Audrey Bianca di jajaran 40 besar tentu menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia di Miss World 2026. Namun, jika hanya melihat hasil kompetisi, ada bagian menarik lain yang bisa terlewat, yaitu bagaimana budaya Indonesia mendapatkan ruang untuk tampil di hadapan audiens internasional.
Dances of the World memberikan kesempatan kepada para kontestan untuk membawa budaya asal mereka melalui seni pertunjukan. Audrey kemudian memilih Kuda Lumping sebagai salah satu cara untuk menunjukkan bahwa budaya Indonesia tidak hanya identik dengan batik, kebaya, atau destinasi tropis.
Kuda Lumping membawa energi yang berbeda. Dengan properti kuda yang khas dan gerakan yang memiliki karakter kuat, tarian tersebut menciptakan visual yang cukup memorable bahkan setelah penampilannya selesai.
Ketika Budaya Jadi Kenangan yang Dibawa Pulang
Menariknya, dampak penampilan Audrey ternyata tidak hanya dirasakan oleh penonton. Atribut kuda yang digunakan dalam Kuda Lumping disebut begitu membekas di benak para kontestan hingga panitia Miss World, membuat Audrey tetap mudah dikenali sepanjang rangkaian kegiatan.
Di titik inilah penampilan budaya menjadi lebih dari sekadar satu segmen acara. Sebuah tarian bisa selesai dalam hitungan menit, tetapi elemen visual dan cerita di baliknya dapat menjadi memori yang bertahan jauh lebih lama.
Urbie’s, mungkin inilah salah satu bagian paling menarik dari perjalanan Audrey Bianca di Miss World 2026. Ia memang pulang membawa pencapaian masuk 40 besar, tetapi ia juga meninggalkan satu “signature” yang membuat orang-orang di sana mengingat Indonesia melalui sosok perempuan, sebuah atribut kuda, dan tarian tradisional bernama Kuda Lumping.
Pada akhirnya, membawa nama Indonesia ke panggung dunia tidak selalu harus dilakukan dengan sesuatu yang besar dan rumit. Kadang, cukup dengan berani menunjukkan akar budaya sendiri, lalu membiarkan orang lain bertanya, mengenal, dan mengingat dari mana budaya tersebut berasal.


















































