Home News 150 Tahun Setelah Rimbaud Menjelajah Jawa, Semarang Jadi Titik Awal Perjalanan Sastra...

150 Tahun Setelah Rimbaud Menjelajah Jawa, Semarang Jadi Titik Awal Perjalanan Sastra Baru Indonesia-Prancis

12
0
Rimbaund Residency event di rumah kediaman duta besar Prancis di Indonesia - sumber foto istimewa
Rimbaund Residency event di rumah kediaman duta besar Prancis di Indonesia - sumber foto istimewa
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s!, bayangkan seorang penyair muda datang ke Jawa pada 1876, menumpang kereta dari Semarang menuju Kedungjati, Tuntang, hingga Salatiga, lalu menghilang dari catatan militer hanya beberapa hari setelah tiba. Namanya Arthur Rimbaud, penyair Prancis yang perjalanan singkatnya di Jawa ternyata meninggalkan jejak panjang dalam hubungan budaya Indonesia dan Prancis.

Kini, 150 tahun setelah kedatangannya di Jawa, perjalanan tersebut mendapatkan babak baru. Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bersama Institut français d’Indonésie (IFI), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang, meluncurkan Rimbaud Residency, program residensi sastra bilateral dan resiprokal pertama antara Prancis dan Indonesia.

Semarang dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini merupakan titik awal perjalanan Rimbaud di Jawa pada 1876, sehingga sejarah tersebut kini diubah dari sekadar memori menjadi ruang pertemuan bagi penulis, pembaca, mahasiswa, peneliti, dan komunitas sastra dari dua negara.

Dari Perjalanan Rimbaud ke Perjalanan Sastra Generasi Baru

Arthur Rimbaud (1854–1891) dikenal sebagai salah satu tokoh paling penting dalam sastra Prancis dan pelopor puisi modern. Pengaruhnya bahkan menyeberangi batas bahasa dan generasi, dari penyair Jepang Nakahara Chuya hingga Chairil Anwar yang kerap disebut sebagai “Arthur Rimbaud-nya Indonesia”.

Jejak Rimbaud juga terasa jauh di luar dunia puisi. Nama dan karyanya menginspirasi berbagai seniman serta musisi seperti Bob Dylan, Jim Morrison, Patti Smith, hingga seniman visual Jean-Michel Basquiat.

Namun kisah Rimbaud di Jawa memiliki cerita yang berbeda. Pada Juli 1876, ia tiba di Semarang setelah bergabung dengan Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger atau KNIL, terutama karena alasan finansial.

Rimbaud kemudian melakukan perjalanan menggunakan kereta melewati Kedungjati dan Tuntang sebelum mencapai Salatiga. Hanya beberapa hari kemudian, ia meninggalkan ketentaraan setelah menerima pembayaran, lalu menghilang dari catatan militer.

Hampir tidak ada dokumentasi lengkap mengenai kehidupannya selama berada di Jawa. Justru celah sejarah itulah yang membuat perjalanannya terus memunculkan rasa penasaran hingga 150 tahun kemudian.

Semarang Menghidupkan Kembali Jejak yang Hampir Hilang

Pada 6 Agustus 2026, pameran “Arthur Rimbaud: A Journey through Java” resmi dibuka di Semarang oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Fabien Penone bersama Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti.

Pembukaan pameran tersebut juga diikuti perjalanan simbolis menyusuri rute yang pernah dilewati Rimbaud, dari Semarang menuju Kedungjati, Tuntang, hingga Salatiga. Momen ini seperti mempertemukan dua waktu: Jawa yang pernah dilihat Rimbaud pada 1876 dan Jawa yang terus berubah hingga hari ini.

Namun peringatan 150 tahun tersebut tidak berhenti pada pameran. Rimbaud Residency hadir sebagai langkah berikutnya untuk mengubah perjalanan sejarah menjadi perjalanan kreatif yang benar-benar hidup.

Louis-Philippe Dalembert Jadi Penghuni Pertama

Nama pertama yang mengisi Rimbaud Residency adalah Louis-Philippe Dalembert, salah satu suara penting dalam sastra berbahasa Prancis kontemporer.

Lahir di Port-au-Prince, Haiti, dan kini berbasis di Paris, Dalembert merupakan novelis dan penyair peraih berbagai penghargaan. Karyanya ditulis dalam bahasa Prancis dan Kreol Haiti serta banyak mengeksplorasi tema memori, perjalanan, pengasingan, identitas, migrasi, dan pertemuan antarbudaya.

Tema-tema tersebut membuat kehadirannya di Semarang terasa semakin relevan. Sebab, residensi ini bukan sekadar mengajak seorang penulis Prancis datang ke kota yang pernah dilewati Rimbaud, tetapi memberikan kesempatan untuk melihat Jawa Tengah sebagai ruang budaya yang hidup.

Pada September hingga November 2026, Dalembert akan tinggal selama tiga bulan di Semarang dan menjalankan proses kreatifnya di Lawang Sewu. Selama berada di kota ini, ia juga akan bertemu dengan penulis Indonesia, mahasiswa, peneliti, serta pembaca melalui diskusi, workshop, dan berbagai pertemuan publik.

Program tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi Pemerintah Kota Semarang, Alliance Française Semarang, dan Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Bukan Mencari Pelarian, tetapi Menemukan Pertemuan

Ada perbedaan penting antara perjalanan Rimbaud pada abad ke-19 dan perjalanan Dalembert pada 2026. Jika Rimbaud datang ke Jawa dalam perjalanan hidup yang penuh pencarian dan kemudian meninggalkan jejak yang samar, Dalembert hadir untuk benar-benar membangun pertemuan dengan masyarakat dan ekosistem sastra lokal.

Semarang dan Jawa Tengah tidak diposisikan hanya sebagai latar sejarah. Wilayah ini menjadi sumber pengalaman, percakapan, riset, dan kemungkinan karya baru.

Dari pertemuan dengan komunitas hingga percakapan bersama penulis lokal, residensi ini memungkinkan sastra menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman berbeda. Perjalanan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang seorang penulis yang datang ke Indonesia, tetapi tentang bagaimana dua ekosistem sastra saling melihat dan belajar.

Baca juga:

Perjalanan Ini Akan Berbalik Arah

Yang membuat Rimbaud Residency semakin menarik adalah sifatnya yang resiprokal. Setelah tiga bulan Dalembert berada di Semarang, seorang penulis Indonesia akan mendapatkan kesempatan menjalani residensi selama tiga bulan di Prancis pada awal 2027.

Residensi tersebut akan berlangsung di Cité internationale de la langue française di Château de Villers-Cotterêts. Tempat ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan bahasa Prancis dan kini menjadi salah satu pusat bagi para kreator, peneliti, penulis, serta akademisi dari berbagai penjuru dunia.

Dengan demikian, perjalanan tidak hanya bergerak dari Prancis menuju Indonesia. Indonesia juga mendapatkan kesempatan mengirimkan suara sastranya ke Prancis.

Bab Baru Hubungan Budaya Indonesia dan Prancis

Rimbaud Residency hadir di tengah semakin eratnya hubungan budaya kedua negara. Program ini melanjutkan berbagai inisiatif yang sebelumnya telah dilakukan, termasuk Borobudur Declaration on a Joint Cultural Strategy yang diadopsi Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto pada Mei 2025.

Hubungan sastra juga semakin berkembang setelah peluncuran Choix Goncourt Indonesia pada Mei 2026 serta keterlibatan tokoh-tokoh sastra Prancis dalam Makassar International Writers Festival 2026.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa kerja sama budaya Indonesia-Prancis tidak berhenti pada pertukaran seni atau pameran. Ada upaya membangun hubungan antarmanusia melalui penulis, pembaca, institusi, mahasiswa, peneliti, dan komunitas.

Dari Rimbaud ke Penulis Masa Kini

Rimbaud Residency dirancang sebagai langkah awal menuju kerja sama sastra jangka panjang. Kedutaan Besar Prancis dan IFI juga berencana mengembangkan residensi tambahan yang berfokus pada penciptaan sastra dan penerjemahan di berbagai wilayah Indonesia sebelum Juni 2027.

Ke depan, edisi-edisi berikutnya Rimbaud Residency juga akan kembali digelar. Program tersebut melengkapi berbagai residensi multidisipliner KOTA yang telah dikembangkan bersama Cité internationale des arts di Paris.

Pada akhirnya, kisah ini seperti sebuah perjalanan yang berputar kembali ke titik awal. Pada 1876, Rimbaud datang ke Jawa untuk mencari cakrawala baru, sementara 150 tahun kemudian seorang penulis lain datang ke Semarang bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk menemukan percakapan, pertemuan, dan kemungkinan cerita baru.

Dan mungkin, Urbie’s!, warisan paling menarik dari Rimbaud bukan hanya puisi yang ia tinggalkan. Melainkan bagaimana satu perjalanan singkat di Jawa dapat menjadi alasan bagi dua negara untuk kembali berjalan bersama—kali ini melalui sastra.