Home Lifestyle Viral Beijing Bikini, Tren Angkat Baju Saat Panas Ternyata Mirip Kebiasaan Orang...

Viral Beijing Bikini, Tren Angkat Baju Saat Panas Ternyata Mirip Kebiasaan Orang Indonesia

6
0
ilustrasi Beijing Bikini viral - sumber foto Istimewa
ilustrasi Beijing Bikini viral - sumber foto Istimewa
Iklan Top Ad

Hi Urbie’s! Kalau kamu pernah jalan-jalan ke daerah panas di Indonesia lalu melihat bapak-bapak nongkrong sambil menggulung kaus sampai perut terlihat, ternyata kebiasaan itu bukan cuma ada di sini. Di China, tren serupa bahkan punya nama sendiri dan sedang viral di media sosial dunia: Beijing Bikini.

Meski terdengar seperti fashion item atau gaya pantai, Beijing Bikini sebenarnya adalah kebiasaan sederhana para pria menggulung baju mereka hingga bagian perut terbuka demi mengurangi rasa panas saat musim panas ekstrem melanda. Saat suhu di beberapa wilayah China mencapai angka di atas 35 derajat Celsius, gaya ini kembali ramai diperbincangkan dan memancing berbagai reaksi netizen internasional.

Menariknya, tren ini terasa sangat dekat dengan budaya keseharian masyarakat Indonesia. Dari warung kopi di kampung, pos ronda, tukang becak, nelayan, sampai bapak-bapak yang duduk santai di teras rumah saat siang bolong, kebiasaan “angkat baju” demi mencari angin segar sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari realitas tropis di Asia.

Beijing Bikini, Cara Sederhana Lawan Panas Ekstrem

Fenomena Beijing Bikini kembali mencuat ketika sejumlah foto dan video pria-pria di China berjalan di jalanan dengan kaus tergulung viral di platform media sosial. Banyak orang luar negeri menganggap penampilan tersebut unik, lucu, bahkan aneh. Namun bagi warga lokal, itu hanyalah solusi praktis menghadapi cuaca panas yang menyengat.

Istilah Beijing Bikini sendiri sudah dikenal sejak lama. Kebiasaan ini identik dengan para pria paruh baya yang menggulung kaus mereka sampai dada agar bagian perut terkena udara langsung. Mereka percaya tubuh akan terasa lebih sejuk ketika panas keluar dari area perut.

Fenomena tersebut sebenarnya sempat menjadi kontroversi beberapa tahun lalu ketika pemerintah kota di China mulai mendorong kampanye “perilaku beradab” di ruang publik. Beberapa kota bahkan sempat mengimbau warga untuk tidak lagi memakai gaya Beijing Bikini karena dianggap kurang sopan dan tidak mencerminkan citra kota modern.

Namun di tengah gelombang panas yang makin ekstrem akibat perubahan iklim, kebiasaan lama itu justru kembali muncul. Banyak warga menganggap kenyamanan lebih penting dibanding penilaian fashion.

Indonesia Ternyata Punya “Versi Lokal”

Kalau dipikir-pikir, Urbie’s pasti sadar bahwa kebiasaan seperti ini sebenarnya sangat familiar di Indonesia. Di berbagai daerah, terutama kawasan dengan cuaca panas dan lembap, menggulung baju atau membuka bagian atas pakaian sudah jadi pemandangan biasa.

Di Jakarta, misalnya, pemandangan abang ojek atau pekerja bangunan menggulung baju saat siang hari bukan hal baru. Di pesisir Jawa dan Sumatra, nelayan juga sering melakukan hal serupa saat bekerja di bawah matahari terik. Bahkan di kampung-kampung, bapak-bapak yang duduk santai sambil “mengangkat kaus” saat ngobrol malam hari sudah menjadi budaya sehari-hari.

Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia sebenarnya punya cara alami untuk beradaptasi dengan lingkungan panas. Ketika suhu meningkat, tubuh mencari cara tercepat untuk merasa lebih nyaman, bahkan jika caranya terlihat sederhana.

Bedanya, di Indonesia kebiasaan itu belum pernah punya istilah viral seperti Beijing Bikini. Namun secara budaya, praktiknya sudah ada sejak lama dan diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat tropis.

Baca Juga:

Cuaca Panas Global Semakin Ekstrem

Tren Beijing Bikini juga kembali relevan karena dunia memang sedang menghadapi suhu global yang makin tinggi. Gelombang panas ekstrem terjadi di banyak negara Asia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk China, India, Thailand, hingga Indonesia.

Di sejumlah kota besar, suhu panas bukan hanya membuat tidak nyaman, tetapi juga berdampak pada kesehatan. Risiko dehidrasi, heatstroke, dan kelelahan meningkat drastis ketika temperatur terlalu tinggi.

Karena itu, banyak orang mulai mencari berbagai cara sederhana untuk bertahan dari panas. Mulai dari penggunaan kipas portable, pakaian berbahan tipis, minuman dingin, sampai gaya “angkat baju” ala Beijing Bikini.

Menariknya, internet kemudian mengubah kebiasaan lokal menjadi fenomena global. Apa yang dulunya dianggap biasa kini berubah jadi bahan meme, diskusi budaya, bahkan konten viral TikTok.

Antara Fashion, Budaya, dan Kenyamanan

Di satu sisi, banyak netizen luar Asia menganggap Beijing Bikini sebagai sesuatu yang nyeleneh. Namun di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana standar fashion dan kenyamanan berbeda di tiap budaya.

Bagi masyarakat tropis dan subtropis, bertahan dari panas sering kali lebih penting daripada tampil rapi sepanjang waktu. Apalagi ketika cuaca sudah terlalu ekstrem, kenyamanan fisik menjadi prioritas utama.

Fenomena ini juga mengingatkan bahwa tidak semua tren harus lahir dari runway atau brand mahal. Kadang, sesuatu yang viral justru berasal dari kebiasaan paling sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Dan siapa sangka, gaya yang selama ini mungkin sering kita lihat di warung kopi atau gang kompleks ternyata kini menjadi perbincangan internasional.

Beijing Bikini dan Realita Kehidupan Tropis

Pada akhirnya, Beijing Bikini bukan sekadar tren lucu di internet. Fenomena ini adalah refleksi bagaimana manusia beradaptasi dengan perubahan cuaca yang makin panas.

Bagi masyarakat Asia, termasuk Indonesia, kebiasaan seperti ini sebenarnya terasa sangat dekat. Saat suhu naik dan udara terasa pengap, solusi paling sederhana sering kali jadi yang paling efektif.

Jadi lain kali kamu melihat bapak-bapak menggulung bajunya saat cuaca panas, mungkin itu bukan sekadar kebiasaan santai. Bisa jadi, mereka tanpa sadar sedang mengikuti “tren global” yang kini dikenal dunia sebagai Beijing Bikini.