
Hi Urbie’s! Musim Serie A 2025/2026 resmi ditutup dengan drama luar biasa yang bikin dunia sepak bola heboh. Bukan cuma soal perebutan tiket Eropa, tetapi juga lahirnya salah satu kisah underdog paling gila musim ini. Tim kecil yang baru dua musim kembali ke kasta tertinggi Italia, Como 1907, sukses mencetak sejarah setelah memastikan diri lolos ke UEFA Champions League untuk pertama kalinya.
Dan sosok di balik keajaiban itu? Tidak lain adalah legenda sepak bola dunia, Cesc Fabregas.
Como memastikan tiket Liga Champions usai menghancurkan Cremonese dengan skor telak 4-1 pada pekan terakhir Serie A. Kemenangan tersebut terasa semakin dramatis karena di waktu bersamaan AC Milan justru tumbang 2-1 dari Cagliari.
Hasil itu membuat Como resmi finis di posisi empat klasemen dan menyalip AC Milan yang musim depan justru gagal tampil di Liga Champions.
Dari Tim Promosi Jadi Penakluk Raksasa Italia
Kalau ada yang bilang sepak bola modern sudah kehilangan cerita dongeng, musim Como ini mungkin jadi bantahan paling sempurna.
Bayangkan saja Urbie’s, Como baru kembali ke Serie A dua musim lalu. Klub yang dulu lebih sering dianggap tim kecil itu kini justru berhasil mengamankan tempat di kompetisi paling elite Eropa.
Lebih gila lagi, mereka melakukannya di bawah tangan dingin Fabregas yang baru berusia 39 tahun.
Mantan gelandang Arsenal, Chelsea, dan FC Barcelona itu mengaku pencapaian ini terasa sangat emosional karena dibangun bersama skuad muda.
“Ini sejajar dengan semua pencapaian terbesar saya karena bagaimana kami melakukannya dan bersama siapa kami melakukannya. Hampir semua pemain kami berusia di bawah 23 tahun. Itu luar biasa,” ujar Fabregas usai pertandingan.
Dan ya, ucapan itu memang masuk akal.
Di tengah era klub-klub besar yang dipenuhi pemain mahal, Como justru hadir sebagai tim muda dengan energi nekat dan sepak bola menyerang yang bikin banyak orang jatuh cinta.
Drama Panas dan Tiga Kartu Merah
Pertandingan melawan Cremonese sendiri berlangsung panas sejak awal.
Gol dari Jesus Rodriguez dan Tasos Douvikas membuat Como unggul nyaman sebelum situasi mulai memanas di babak kedua.
Cremonese sempat mendapat harapan setelah Jamie Vardy dilanggar di kotak penalti dan Federico Bonazzoli sukses memperkecil skor.
Namun titik paling kontroversial terjadi sekitar 20 menit sebelum laga selesai ketika Como mendapatkan penalti yang memicu keributan besar.
Gelandang Cremonese, Alberto Grassi, langsung mendapat kartu merah karena protes keras kepada wasit.
Keributan makin chaos setelah dua pemain cadangan Cremonese, Milan Djuric dan David Okereke, juga ikut diusir keluar lapangan.
Situasi tersebut praktis menghancurkan mental Cremonese sebelum Lucas da Cunha menambah gol keempat Como dan mengunci malam bersejarah klub tersebut.
Baca Juga:
- Stroke Bisa Menyerang Tanpa Gejala, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Bagikan Pengalaman Mengejutkan
- Urat Tangan Terlihat Menonjol Saat Nyetir? Ternyata Bisa Jadi Tanda Tubuh Sedang Bekerja dengan Baik
- Dark Chocolate Ternyata Bisa Bantu Regenerasi Tubuh? Ini Fakta Ilmiahnya, Urbie’s!
AC Milan dan Juventus Jadi Korban Drama Serie A
Kesuksesan Como otomatis menjadi mimpi buruk bagi beberapa raksasa Italia.
Yang paling terpukul tentu AC Milan.
Klub tujuh kali juara Liga Champions itu sebenarnya hanya perlu menghindari kekalahan untuk menjaga posisi empat besar. Namun kekalahan dari Cagliari membuat mereka tersalip Como di detik-detik terakhir musim.
Sementara itu AS Roma berhasil mengamankan posisi ketiga usai menang atas Hellas Verona.
Dan korban terbesar lainnya? Tidak lain adalah Juventus.
Klub raksasa Turin itu memulai hari di posisi keenam dan membutuhkan kemenangan plus hasil buruk dari dua tim di atas mereka.
Namun bahkan sebelum pertandingan derby melawan Torino selesai, Juventus sudah tahu nasib mereka tamat.
Kemenangan Roma dan Como otomatis memastikan Juventus gagal lolos ke Liga Champions dan harus puas bermain di Europa League musim depan.
Derby Turin Sempat Tertunda karena Kericuhan Fans
Drama Juventus ternyata tidak berhenti di klasemen saja.
Laga derby melawan Torino bahkan sempat tertunda selama satu jam karena alasan keamanan publik.
Laporan menyebut seorang fans Juventus harus dilarikan ke rumah sakit setelah terjadi bentrokan dengan pendukung Torino sebelum pertandingan.
Situasi panas itu terasa seperti simbol sempurna dari musim Juventus yang penuh kekacauan.
Padahal mereka sempat unggul dua gol lewat Dusan Vlahovic.
Namun Torino berhasil bangkit lewat gol Cesare Casadei dan Che Adams sehingga laga berakhir imbang 2-2.
Hasil tersebut menjadi penutup pahit musim Juventus.
Fabregas Kini Jadi Sensasi Baru Dunia Kepelatihan
Keberhasilan Como juga membuat nama Cesc Fabregas kini mulai dianggap sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Eropa.
Selama ini banyak mantan pemain hebat gagal saat masuk dunia kepelatihan. Namun Fabregas justru menunjukkan visi sepak bola modern yang matang.
Ia sukses membangun tim muda agresif dengan mentalitas tanpa takut menghadapi klub besar.
Tidak heran setelah keberhasilan ini mulai muncul rumor beberapa klub besar Eropa tertarik memantau perkembangan karier kepelatihannya.
Namun untuk sekarang, Fabregas tampaknya masih ingin menikmati kisah ajaib bersama Como.
Dan jujur saja Urbie’s, melihat klub kecil Italia yang tiba-tiba lolos Liga Champions terasa seperti nostalgia sepak bola era lama yang penuh kejutan.
Di saat uang dan superstar mendominasi sepak bola modern, Como hadir mengingatkan bahwa mimpi kecil kadang masih bisa mengalahkan raksasa.











































