
Hi Urbie’s! Kalau dulu hotel identik dengan kemewahan lobby besar, chandelier megah, atau bangunan super formal, sekarang cara generasi muda memilih hotel ternyata sudah berubah drastis. Buat Gen Z, hotel bukan lagi sekadar tempat tidur saat liburan. Hotel sekarang menjadi bagian dari experience, lifestyle, bahkan konten media sosial.
Mulai dari desain kamar yang aesthetic, hidden spot yang Instagramable, breakfast yang unik, sampai ambience yang bisa masuk TikTok — semuanya kini jadi pertimbangan penting sebelum booking hotel. Fenomena inilah yang mulai dibaca serius oleh banyak brand hospitality global, termasuk Best Western Hotels & Resorts.
Menurut Rio Haryono, Regional General Manager of Operations Indonesia, Gen Z saat ini menjadi market masa depan yang sangat potensial untuk industri hotel. Dan menariknya, karakter Gen Z dalam memilih hotel ternyata sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Gen Z Tidak Lagi Mengejar Kemewahan Semata
Rio menjelaskan bahwa traveler generasi sebelumnya cenderung melihat hotel dari sisi kemewahan fisik. Semakin megah bangunan, semakin mewah interior, semakin tinggi value sebuah hotel di mata mereka.
Namun Gen Z punya cara pandang yang berbeda.
“Mereka mencari value. Pengalaman yang unik, punya cerita, terhubung dengan budaya lokal, lalu bisa diposting di media sosial,” ujar Rio. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menggambarkan perubahan besar dalam industri hospitality global.
Karena sekarang, pengalaman lebih penting dibanding kemewahan semata. Gen Z tidak terlalu peduli apakah sebuah hotel punya chandelier besar atau marmer mahal di lobby.
Yang mereka cari adalah vibe.
Hotel Sekarang Harus Punya “Cerita”
Buat Gen Z, hotel yang menarik adalah hotel yang terasa personal dan punya identitas kuat. Mereka suka hotel dengan desain unik, konsep artistik, budaya lokal yang terasa autentik, hingga sudut-sudut hidden gem yang menarik untuk difoto.
Karena bagi generasi digital ini, traveling bukan cuma soal pergi ke tempat baru.
Traveling adalah pengalaman yang ingin dibagikan.
Mulai dari Instagram Story, TikTok vlog, carousel foto, sampai aesthetic reels — semuanya menjadi bagian dari cara Gen Z menikmati perjalanan mereka. Itulah kenapa sekarang banyak hotel mulai berubah.
Bukan hanya menjual kamar, tetapi menjual experience.
TikTok dan Instagram Jadi “Etalase Baru” Industri Hotel
Rio bahkan menyebut bahwa TikTok dan Instagram kini sudah menjadi etalase utama dunia hospitality modern. Sebelum booking hotel, Gen Z biasanya akan mencari video review di TikTok terlebih dahulu.
Mereka ingin melihat ambience asli hotel, pencahayaan kamar, view rooftop, kualitas breakfast, hingga spot mirror selfie yang aesthetic. Bahkan terkadang keputusan memilih hotel bisa berubah hanya karena satu video TikTok viral.
Fenomena ini membuat media sosial menjadi faktor yang sangat penting dalam industri hotel saat ini. Karena sekarang tamu tidak hanya menginap, tetapi juga “mempromosikan” hotel lewat konten mereka sendiri.
Dan buat brand hotel, exposure organik seperti ini punya dampak yang sangat besar.
Baca Juga:
- Stroke Bisa Menyerang Tanpa Gejala, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Bagikan Pengalaman Mengejutkan
- Urat Tangan Terlihat Menonjol Saat Nyetir? Ternyata Bisa Jadi Tanda Tubuh Sedang Bekerja dengan Baik
- Dark Chocolate Ternyata Bisa Bantu Regenerasi Tubuh? Ini Fakta Ilmiahnya, Urbie’s!
Best Western Mulai Menyesuaikan Diri dengan Gen Z
Melihat perubahan tersebut, Best Western Indonesia mulai melakukan banyak penyesuaian agar tetap relevan dengan pasar muda. Rio mengatakan bahwa hotel-hotel mereka kini mulai melakukan renovasi dan pembaruan experience agar terasa lebih modern dan sesuai dengan gaya hidup digital.
Karena menurutnya, Gen Z sangat sensitif terhadap visual.
“Kalau terlalu jadul, mereka langsung merasa nggak relate,” ungkapnya sambil tertawa. Mulai dari desain interior, konsep ruang publik, ambience restoran, hingga aktivitas hotel kini semakin dibuat lebih engaging dan Instagramable.
Namun yang menarik, Best Western tetap mempertahankan sentuhan budaya lokal di setiap properti mereka. Jadi meski tampil modern, karakter daerah tempat hotel berada tetap terasa kuat.
Gen Z Suka Hotel yang “Nyambung”
Hal lain yang membuat Gen Z berbeda adalah mereka lebih menyukai brand yang terasa dekat dan relatable. Mereka tidak terlalu tertarik dengan pendekatan formal atau terlalu corporate.
Sebaliknya, mereka suka hotel yang terasa santai, kreatif, dan punya koneksi emosional dengan tamu. Karena itu, hospitality sekarang bergerak ke arah yang lebih personal.
Hotel bukan lagi sekadar bisnis penginapan, tetapi menjadi ruang interaksi sosial, creative hub, bahkan bagian dari lifestyle komunitas urban. Fenomena ini juga membuat banyak hotel sekarang menghadirkan event komunitas, workshop kreatif, live music, hingga konsep wellness experience untuk menarik pasar muda.
Teknologi Jadi Kunci Masa Depan Hotel
Selain experience, Gen Z juga tumbuh bersama teknologi digital. Mereka terbiasa dengan segala sesuatu yang cepat, praktis, dan seamless.
Karena itu, industri hotel masa depan juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Best Western sendiri mulai memanfaatkan teknologi seperti AI untuk data analytics dan customer service, hingga penggunaan bluetooth key yang memungkinkan tamu membuka kamar menggunakan smartphone.
Meski begitu, Rio menegaskan bahwa teknologi tetap tidak bisa menggantikan sentuhan manusia dalam dunia hospitality. Karena pada akhirnya, tamu tetap mencari kehangatan pelayanan dan pengalaman emosional saat menginap.
Masa Depan Hospitality Masih Cerah
Di tengah perubahan perilaku traveler dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Rio tetap optimistis industri hospitality memiliki masa depan yang sangat menjanjikan.
Menurutnya, manusia akan selalu membutuhkan hiburan, refreshing, dan pengalaman baru untuk menjaga keseimbangan hidup. Namun hotel masa depan harus mampu beradaptasi dengan gaya hidup generasi baru.
Mulai dari teknologi, sustainability, hingga experience yang lebih autentik dan personal. Saat diminta mendeskripsikan Best Western dalam tiga kata, Rio memilih: adaptif, terpercaya, dan berkelanjutan.
Dan mungkin, tiga kata itu juga menjadi kunci bagaimana industri hospitality akan bertahan di era Gen Z yang terus mengubah cara dunia traveling bekerja.












































