Home Health Sering Dianggap Masuk Angin, Nyeri Pinggang Bisa Jadi Batu Saluran Kemih, Dokter...

Sering Dianggap Masuk Angin, Nyeri Pinggang Bisa Jadi Batu Saluran Kemih, Dokter Ungkap Tanda Bahayanya

4
0
dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, saat sesi talkshow bersama media dalam kegiatan media gathering RS Premier Bintaro. Ia menjawab berbagai pertanyaan seputar gejala, pengobatan, dan perkembangan teknologi minimal invasif dalam penanganan batu saluran kemih. (Foto: Urbanvibes/Ruli Indaryanti)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Nyeri hebat di bagian pinggang sering kali dianggap sebagai pegal biasa akibat kelelahan atau bahkan masuk angin. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi salah satu tanda batu saluran kemih, penyakit yang diperkirakan dialami sekitar 10–13 persen orang setidaknya sekali sepanjang hidupnya.

Sayangnya, banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika rasa nyeri sudah tidak tertahankan atau batu telah membesar hingga mengganggu fungsi ginjal. Padahal, deteksi dini dapat meningkatkan peluang pengobatan tanpa tindakan invasif.

Hal itu disampaikan Dokter Spesialis Urologi dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS dalam media gathering bertajuk “Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih” yang diselenggarakan RS Premier Bintaro di Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Lebih lanjut ia menuturkan, Indonesia termasuk negara dengan angka kejadian batu saluran kemih yang cukup tinggi. Selain dipengaruhi iklim tropis yang menyebabkan tubuh lebih mudah kehilangan cairan, pola hidup dan kebiasaan kurang minum air putih juga berperan besar terhadap terbentuknya batu.

“Indonesia termasuk negara dengan angka kejadian batu saluran kemih yang cukup tinggi. Selain faktor cuaca, pola hidup dan kurangnya asupan cairan juga menjadi penyebab yang sering ditemukan,” ujar dr. Teguh.

Ia menjelaskan, suhu udara yang panas membuat urine menjadi lebih pekat sehingga mineral lebih mudah mengendap dan membentuk batu di saluran kemih.

Mengapa Batu Saluran Kemih Sering Terjadi?

Batu saluran kemih terbentuk ketika mineral di dalam urine mengendap dan mengeras. Kondisi ini dapat terjadi akibat kurangnya cairan tubuh maupun berbagai faktor metabolik.

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

  • Kurang minum air putih
  • Konsumsi garam berlebihan
  • Pola makan tinggi protein hewani
  • Obesitas
  • Riwayat keluarga
  • Gangguan metabolisme tertentu
  • Infeksi saluran kemih berulang

Menurut dr. Teguh, seseorang yang pernah mengalami batu saluran kemih juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekambuhan apabila faktor penyebabnya tidak diperbaiki.

“Pengobatan bukan hanya menghilangkan batunya, tetapi juga mencari penyebabnya agar tidak terbentuk kembali.”

Risiko Batu Saluran Kemih Bisa Kambuh

Banyak pasien mengira penyakit ini selesai setelah batu berhasil dikeluarkan. Padahal, risiko kekambuhan tetap tinggi.

Dalam beberapa kasus, batu dapat terbentuk kembali hanya dalam hitungan tahun apabila pasien masih kurang minum, mengonsumsi garam berlebihan, atau tidak menjalani pola hidup sehat.

Karena itu, evaluasi penyebab menjadi bagian penting dalam penanganan pasien batu saluran kemih.

Gejala Batu Saluran Kemih yang Perlu Diwaspadai

Gejala batu saluran kemih berbeda pada setiap orang, tergantung ukuran dan lokasi batu.

Keluhan yang paling sering muncul meliputi:

  • Nyeri hebat di pinggang
  • Nyeri menjalar ke perut bawah atau selangkangan
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Anyang-anyangan
  • Urine bercampur darah
  • Mual dan muntah
  • Demam bila sudah disertai infeksi
  • Jumlah urine berkurang

Namun, tidak semua batu langsung menimbulkan keluhan.

“Batu yang masih kecil terkadang tidak bergejala dan baru diketahui saat pasien menjalani pemeriksaan kesehatan,” jelas dr. Teguh.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan, terutama bagi orang yang pernah mengalami batu saluran kemih.

Pemeriksaan Batu Saluran Kemih Kini Semakin Akurat

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Jika hasil pemeriksaan masih memerlukan evaluasi lebih lanjut, pasien dapat menjalani CT scan tanpa kontras.

Pemeriksaan tersebut membantu dokter mengetahui:

  • lokasi batu
  • ukuran batu
  • jumlah batu
  • tingkat kepadatan batu

Informasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan metode pengobatan yang paling sesuai.

Dokter Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, saat memaparkan materi mengenai batu saluran kemih dalam media gathering, Rabu (22/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan pentingnya deteksi dini, pilihan terapi, serta langkah pencegahan untuk menjaga kesehatan saluran kemih. (Foto: Urbanvibes/Ruli Indaryanti)

Apakah Batu Saluran Kemih Harus Dioperasi?

Tidak semua pasien harus menjalani operasi.

Menurut dr. Teguh, batu yang masih berukuran kecil sering kali dapat keluar secara alami dengan bantuan obat-obatan dan memperbanyak konsumsi air putih.

Namun apabila batu sudah menyebabkan penyumbatan, infeksi, nyeri berat, atau mengganggu fungsi ginjal, tindakan medis perlu segera dilakukan.

Saat ini, penanganan batu saluran kemih sudah berkembang menjadi lebih minimal invasif, seperti:

  • Pemecahan batu menggunakan laser
  • Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) atau gelombang kejut
  • Endoskopi saluran kemih

Teknik tersebut membuat pasien tidak lagi memerlukan sayatan besar seperti operasi konvensional sehingga masa pemulihan menjadi lebih singkat.

Baca Juga:

Pilihan Terapi Batu Saluran Kemih Kini Semakin Minim Sayatan

Perkembangan teknologi kedokteran membuat penanganan batu saluran kemih kini semakin beragam. Jika dahulu pasien harus menjalani operasi dengan sayatan besar, saat ini banyak tindakan dapat dilakukan dengan pendekatan minimal invasif sehingga rasa tidak nyaman dan waktu pemulihan pasien dapat diminimalkan.

Untuk memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, RS Premier Bintaro menyediakan berbagai pilihan terapi yang disesuaikan dengan ukuran batu, lokasi batu, hingga tingkat kompleksitas kasus.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Shock Wave Lithotripsy (SWL/ESWL). Prosedur ini dilakukan dengan memanfaatkan gelombang kejut dari luar tubuh untuk memecahkan batu menjadi bagian-bagian kecil sehingga dapat keluar melalui saluran kemih.

Metode ESWL umumnya menjadi pilihan untuk batu dengan ukuran dan lokasi tertentu yang masih memungkinkan dihancurkan tanpa tindakan invasif.

Selain ESWL, dokter juga dapat menggunakan teknik endoskopi seperti Ureteroscopy (URS) dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS).

Pada prosedur tersebut, dokter memasukkan alat khusus melalui saluran kemih alami menuju lokasi batu. Setelah batu ditemukan, penghancuran dilakukan menggunakan teknologi laser tanpa perlu membuat sayatan pada kulit.

Karena tidak memerlukan luka operasi besar, tindakan ini membuat proses pemulihan pasien cenderung lebih cepat dibandingkan metode operasi konvensional.

Sementara itu, untuk batu ginjal berukuran besar atau memiliki bentuk yang lebih kompleks, dokter dapat mempertimbangkan tindakan Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) maupun Mini-PCNL.

Prosedur ini dilakukan melalui lubang kecil pada kulit sebagai akses menuju ginjal. Dengan teknik tersebut, dokter dapat menghancurkan atau mengangkat batu secara lebih efektif dengan tetap mengutamakan prinsip bedah minimal invasif.

Menurut dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, perkembangan teknologi di bidang endourologi turut meningkatkan keberhasilan penanganan batu saluran kemih. Salah satu inovasi yang kini digunakan adalah Thulium Fibre Laser (TFL), teknologi laser generasi terbaru yang mampu membantu proses penghancuran batu secara lebih efektif.

“Teknologi ini memungkinkan penghancuran batu menjadi partikel yang sangat halus sehingga proses tindakan menjadi lebih efisien,” jelas dr. Teguh.

Ia menjelaskan, penggunaan teknologi pendukung seperti sistem suction modern juga membantu menjaga tekanan di dalam ginjal tetap stabil selama prosedur berlangsung.

Kondisi tersebut dinilai dapat membantu menurunkan risiko infeksi, meningkatkan keamanan tindakan, serta mendukung proses pemulihan pasien setelah menjalani terapi.

Dengan pilihan terapi yang semakin berkembang, pasien batu saluran kemih kini memiliki lebih banyak alternatif penanganan yang dapat disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing. Pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter urologi menjadi langkah penting agar terapi yang dipilih benar-benar tepat sasaran.

Cara Mencegah Batu Saluran Kemih

Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik dibandingkan pengobatan.

Dr. Teguh menyarankan beberapa langkah sederhana berikut:

  • Minum air putih sekitar 2–3 liter setiap hari.
  • Batasi konsumsi garam.
  • Perbanyak buah dan sayuran.
  • Jaga berat badan ideal.
  • Rutin berolahraga.
  • Konsumsi buah yang mengandung sitrat, seperti lemon.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu menjaga urine tetap encer sehingga risiko terbentuknya batu menjadi lebih rendah.

Jangan Abaikan Nyeri Pinggang Mendadak

Di akhir paparannya, dr. Teguh mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami nyeri pinggang hebat, terutama jika disertai urine berdarah, demam, atau jumlah urine yang semakin sedikit.

“Jangan menunggu sampai nyerinya berat. Kalau muncul nyeri pinggang yang hebat, disertai demam, urin berdarah, atau jumlah urin berkurang, segera periksa ke dokter. Penanganan yang cepat dapat mencegah kerusakan ginjal yang bersifat permanen,” pungkasnya.

Deteksi dini menjadi kunci agar batu saluran kemih dapat ditangani sebelum menimbulkan komplikasi serius pada ginjal. Mengubah kebiasaan sederhana seperti rutin minum air putih setiap hari juga menjadi investasi penting untuk menjaga kesehatan saluran kemih dalam jangka panjang.