Iklan
Home Highlight Sony Patenkan Controller Playstation, Ini Bocorannya!

Sony Patenkan Controller Playstation, Ini Bocorannya!

0
3
ilustrasi Sony patenkan controller PlayStation - sumber foto istimewa
ilustrasi Sony patenkan controller PlayStation - sumber foto istimewa
Iklan Urbanvibes Banner
Iklan

Hi Urbie’s! Bayangkan sedang bermain game favorit di PlayStation, tetapi tidak lagi merasakan tombol X, O, Square, Triangle, D-pad, atau thumbstick di bawah jari. Sebagai gantinya, seluruh kontrol muncul secara virtual dan bisa dipindahkan sesuka hati sesuai kenyamananmu. Kedengarannya seperti teknologi dari film fiksi ilmiah, namun konsep tersebut kini benar-benar dipatenkan oleh Sony.

Sony Interactive Entertainment baru saja mendapatkan hak paten di Amerika Serikat untuk sebuah konsep controller PlayStation yang meninggalkan hampir seluruh tombol fisik dan menggantinya dengan permukaan sentuh (touch-sensitive controls) yang dapat dikustomisasi sepenuhnya. Meski belum ada tanda-tanda produk ini akan dipasarkan dalam waktu dekat, paten tersebut memberi gambaran menarik tentang arah masa depan industri gaming.

Lantas, apakah controller PlayStation generasi berikutnya akan benar-benar tanpa tombol fisik?

Sony Bayangkan Controller yang Bisa Berubah Sesuai Game

Selama lebih dari dua dekade, desain controller PlayStation mengalami evolusi tanpa meninggalkan identitas utamanya. Mulai dari DualShock hingga DualSense, Sony tetap mempertahankan konfigurasi tombol yang sudah akrab bagi para gamer.

Namun melalui paten terbaru ini, Sony justru mengusulkan pendekatan yang jauh lebih fleksibel.

Alih-alih menggunakan tombol fisik permanen, controller tersebut memanfaatkan panel sentuh yang dapat menampilkan tombol virtual sesuai kebutuhan permainan. Posisi tombol, ukuran, hingga jumlah kontrol dapat diatur sendiri oleh pemain.

Artinya, tata letak controller tidak lagi bersifat tetap.

Ketika memainkan game balapan, misalnya, pemain dapat memperbesar tombol akselerasi dan rem agar lebih mudah dijangkau. Saat beralih ke game fighting, susunan tombol bisa diubah agar kombo lebih nyaman dilakukan. Bahkan untuk game petualangan yang membutuhkan lebih sedikit input, beberapa tombol dapat dihilangkan agar area genggaman terasa lebih lega.

Konsep ini membuat satu controller mampu menyesuaikan diri dengan berbagai genre game tanpa harus mengubah desain perangkat kerasnya.

Bukan Sekadar Soal Kenyamanan, Tapi Juga Aksesibilitas

Salah satu aspek paling menarik dari paten ini adalah fokus Sony terhadap aksesibilitas.

Setiap gamer memiliki ukuran tangan, kekuatan genggaman, dan kebiasaan bermain yang berbeda. Selama ini, pengguna harus beradaptasi dengan bentuk controller yang sama.

Dengan kontrol virtual yang dapat dipindahkan, pemain bisa menentukan sendiri posisi tombol yang paling nyaman.

Bagi gamer dengan tangan berukuran kecil, tombol dapat dibuat lebih dekat agar tidak perlu meregangkan jari. Sebaliknya, pengguna dengan tangan lebih besar bisa memperlebar jarak antar kontrol sehingga pengalaman bermain terasa lebih natural.

Teknologi ini juga berpotensi memberikan manfaat besar bagi penyandang disabilitas. Mereka dapat menyesuaikan tata letak controller sesuai kebutuhan fisik masing-masing tanpa harus membeli perangkat khusus yang harganya relatif mahal.

Jika benar-benar diwujudkan, konsep tersebut bisa menjadi langkah besar dalam menghadirkan pengalaman bermain yang lebih inklusif.

Baca Juga:

Masih Sebatas Paten, Belum Tentu Jadi Produk

Meski terdengar revolusioner, Urbie’s perlu mengetahui bahwa keberadaan paten tidak selalu berarti sebuah produk akan segera diluncurkan.

Sony sebenarnya telah mengajukan dokumen paten ini sejak 2023, kemudian baru memperoleh persetujuan resmi dari otoritas paten Amerika Serikat pada Januari 2026.

Dalam dunia teknologi, perusahaan besar memang rutin mengajukan ratusan hingga ribuan paten setiap tahun. Sebagian hanya berfungsi sebagai perlindungan terhadap ide dan inovasi agar tidak digunakan kompetitor.

Banyak konsep menarik yang akhirnya tidak pernah diproduksi secara massal.

Artinya, hingga saat ini belum ada konfirmasi bahwa Sony sedang mengembangkan controller tersebut menjadi perangkat komersial.

Meski begitu, paten ini tetap menjadi sinyal bahwa Sony terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan untuk mengubah cara pemain berinteraksi dengan game.

Apakah Gamer Siap Meninggalkan Tombol Fisik?

Pertanyaan terbesar justru datang dari para pemain sendiri.

Selama puluhan tahun, gamer sudah terbiasa merasakan sensasi menekan tombol fisik ketika bermain. Umpan balik mekanis tersebut memberikan kepastian bahwa sebuah perintah telah diterima oleh sistem.

Controller berbasis layar sentuh tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Tanpa adanya tonjolan tombol atau thumbstick, pemain harus mengandalkan memori otot dan visual untuk mengetahui posisi kontrol.

Sony sebenarnya bukan perusahaan baru dalam teknologi haptic. Melalui DualSense, mereka telah membuktikan bagaimana getaran adaptif dan adaptive trigger mampu meningkatkan imersi bermain.

Bukan tidak mungkin, jika konsep controller sentuh ini suatu saat diwujudkan, Sony akan mengombinasikannya dengan teknologi haptic canggih agar pemain tetap dapat merasakan sensasi “menekan” tombol meski permukaannya datar.

Pendekatan seperti ini bahkan berpotensi mengubah cara developer merancang antarmuka game di masa depan.

Masa Depan Controller Bisa Lebih Personal

Industri game terus bergerak menuju pengalaman yang semakin personal. Mulai dari grafis yang realistis, kecerdasan buatan dalam gameplay, hingga perangkat yang mampu menyesuaikan preferensi pemain.

Konsep controller tanpa tombol fisik yang dipatenkan Sony menjadi salah satu contoh bagaimana perangkat gaming mungkin akan berevolusi dalam beberapa tahun ke depan.

Walaupun belum dipastikan menjadi produk nyata, ide ini menunjukkan bahwa controller masa depan tidak harus memiliki bentuk yang sama seperti sekarang. Pengguna mungkin bisa memiliki tata letak kontrol yang benar-benar unik sesuai gaya bermain masing-masing.

Bagi sebagian gamer, perubahan tersebut mungkin terasa asing. Namun bagi yang mengutamakan fleksibilitas dan aksesibilitas, konsep ini bisa menjadi awal dari era baru perangkat gaming yang lebih adaptif.

Yang jelas, paten ini memperlihatkan bahwa Sony tidak hanya memikirkan peningkatan performa konsol, tetapi juga bagaimana pengalaman memegang dan mengendalikan permainan dapat berevolusi seiring berkembangnya teknologi.

Iklan