Home Highlight Pameran 1830 Wearing Our Stories Ajak Publik Menelusuri Warisan Pangeran Diponegoro hingga...

Pameran 1830 Wearing Our Stories Ajak Publik Menelusuri Warisan Pangeran Diponegoro hingga Dekolonisasi Mental

17
0
Pengunjung mengamati salah satu karya dalam pameran 1830 Wearing Our Stories di Museum Koleksi Trisno Soemardjo Building, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (5/8/2026). Pameran ini mengangkat kembali kisah Perang Jawa (1825–1830) dan warisan Pangeran Diponegoro melalui karya wearable artefacts. (Foto: Urbanvibes/R Indriani)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Selembar kain bisa menjadi lebih dari sekadar busana. Di tangan para perancang dan sejarawan, ia berubah menjadi medium yang menyimpan jejak sejarah, identitas, sekaligus ingatan sebuah bangsa. Pengalaman itulah yang ditawarkan dalam Pameran 1830 Wearing Our Stories, yang resmi dibuka di Museum Koleksi Trisno Soemardjo Building, Lantai 2, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Rabu (5/8/2026).

Berlangsung hingga 9 Agustus 2026, Pameran 1830 Wearing Our Stories yang merupakan proyek dan karya dari tulisan™, sebuah jenama (brand) kriya dan desain asal Indonesia yang didirikan oleh Melissa Sunjaya, mengajak pengunjung menelusuri kembali salah satu bab paling menentukan dalam sejarah Indonesia, yakni Perang Jawa (1825–1830) dan warisan Pangeran Diponegoro, melalui deretan wearable artefacts yang memadukan desain, kriya, dan narasi sejarah.

Tidak hanya menampilkan karya yang dapat dikenakan, pameran ini juga membuka ruang dialog mengenai memori kolektif, identitas budaya, serta pentingnya dekolonisasi dalam memahami sejarah Indonesia.

Terinspirasi dari publikasi dwibahasa 1830, pameran ini menghadirkan ruang dialog antara sejarah, seni, dan budaya. Alih-alih sekadar mengenang masa lalu, 1830 Wearing Our Stories mengajak masyarakat membaca kembali sejarah dari sudut pandang Indonesia sekaligus merefleksikan bagaimana warisan kolonial masih memengaruhi cara berpikir hingga hari ini.

Kolaborasi lintas disiplin antara desainer Melissa Sunjaya dan sejarawan Peter Carey melahirkan proyek 1830, yang mengajak publik memahami kembali sejarah Perang Jawa dan pentingnya dekolonisasi melalui pendekatan seni, desain, dan budaya. (Foto: Dok. tulisan™)

Menghidupkan Sejarah Lewat Wearable Artefacts

Melissa Sunjaya menjelaskan bahwa proyek 1830 lahir dari keinginan untuk membuka kembali pembahasan mengenai Perang Jawa dan sosok Pangeran Diponegoro kepada masyarakat Indonesia maupun dunia internasional.

“1830 adalah sebuah publikasi dwibahasa yang membuka kembali salah satu bab paling penting dalam sejarah Indonesia, yaitu Perang Jawa (1825–1830) dan kehidupan Pangeran Diponegoro. Dihadirkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, buku ini menjembatani lintas budaya serta menghadirkan perjalanan mendalam tentang akhir dari ‘Jawa Lama’ dan lahirnya era kolonial modern,” ujar Melissa Sunjaya saat membuka pameran “1830 Wearing Our Stories”, Rabu (5/8/2026).

Ia mengatakan, proyek tersebut merupakan hasil kolaborasi bersama Peter Carey, sejarawan asal Britania Raya yang dikenal luas sebagai penulis biografi Pangeran Diponegoro. Dari kolaborasi tersebut lahir tiga keluaran utama, yakni buku 1830, koleksi wearable artefacts, dan pameran yang kini dapat dinikmati publik di Jakarta.

Pameran 1830 Wearing Our Stories menjadi ruang refleksi mengenai sejarah, identitas bangsa, dan dekolonisasi mental melalui kolaborasi karya seni, desain, dan riset sejarah yang dapat dinikmati masyarakat hingga 9 Agustus 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (Foto: Urbanvibes/R Indriani)

Mengapa Tahun 1830 Begitu Penting?

Menurut Melissa, pemilihan angka 1830 bukan tanpa alasan. Tahun tersebut menjadi salah satu tonggak paling menentukan dalam sejarah Nusantara karena menandai penangkapan Pangeran Diponegoro yang kemudian membuka jalan bagi menguatnya sistem kolonial di Pulau Jawa sebelum meluas ke berbagai wilayah Nusantara.

Baca Juga:

“Tahun 1830 menjadi tahun penting bagi sejarah Nusantara. Tahun ditangkapnya Pangeran Diponegoro secara khianat. Penangkapan ini menandai sistem kolonial sesungguhnya di Jawa, lalu setelahnya menyebar ke seluruh Nusantara. 1830 adalah penanda kekalahan, dan kami memilihnya karena tujuan utama proyek ini adalah mendekolonisasi mental,” kata Melissa.

(Foto/Dok: tulisan™)

Ia menambahkan bahwa semangat dekolonisasi yang diusung proyek ini tidak berhenti pada pembacaan ulang sejarah, melainkan menjadi ajakan untuk membangun cara pandang baru terhadap identitas bangsa.

“Meskipun kita sudah merdeka, sisa-sisa kolonialisme masih melekat pekat dalam diri bangsa kita. 1830 ingin kami bawa ke dunia karena kita perlu menceritakan diri kita sendiri sebagai bangsa Indonesia,” ujarnya.

Ruang Refleksi Sejarah dan Identitas Bangsa

Melalui pendekatan seni, desain, dan narasi sejarah, 1830 Wearing Our Stories menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar mengajak pengunjung melihat artefak, tetapi juga memahami bagaimana sejarah dapat dikenakan, dirasakan, dan diterjemahkan kembali dalam kehidupan masa kini.

Tas-tas yang dipamerkan dalam 1830 Wearing Our Stories menjadi bagian dari rangkaian wearable artefacts yang lahir dari kolaborasi riset sejarah dan eksplorasi desain. Setiap koleksi merepresentasikan upaya menghadirkan kembali narasi sejarah Indonesia dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Foto: Urbanvibes/R Indriani)

Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara sejarah dan praktik kreatif kontemporer, sekaligus mengajak generasi muda untuk meninjau kembali peristiwa Perang Jawa dari perspektif Indonesia. Dengan demikian, 1830 Wearing Our Stories tidak hanya menjadi sebuah pameran seni, tetapi juga medium refleksi mengenai ingatan budaya, identitas nasional, dan upaya dekolonisasi yang terus berkembang.

Jadwal dan Informasi Kunjungan

Bagi Urbie’s yang ingin mengunjungi 1830 Wearing Our Stories, pameran ini masih berlangsung hingga 9 Agustus 2026 di Museum Koleksi Trisno Soemardjo Building, Lantai 2, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Kabar baiknya, seluruh pengunjung tidak dikenakan biaya masuk alias gratis. Pameran ini terbuka untuk masyarakat umum sehingga menjadi kesempatan bagi pecinta seni, sejarah, pelajar, mahasiswa, hingga keluarga untuk menikmati karya-karya yang memadukan sejarah, desain, dan kriya sekaligus memahami kembali warisan Pangeran Diponegoro melalui perspektif yang lebih kontekstual.