Hi Urbie’s! Beberapa tahun lalu, memilih produk skincare identik dengan kebiasaan membaca daftar kandungan sebelum membeli. Kebiasaan ini kemudian melahirkan tren yang dikenal sebagai skinification—sebuah pendekatan baru dalam merawat tubuh dengan memahami fungsi setiap bahan aktif, bukan sekadar mempercayai klaim pada kemasan. Ceramide untuk memperkuat skin barrier, niacinamide untuk membantu mencerahkan kulit, hingga retinol untuk mendukung proses regenerasi sel kini menjadi istilah yang semakin akrab di telinga banyak orang.
Kini, pola pikir tersebut mulai bergeser ke area yang mungkin belum banyak disadari: perawatan gigi dan mulut.
Semakin banyak konsumen yang tidak lagi hanya mencari pasta gigi dengan sensasi segar atau busa melimpah. Mereka mulai bertanya, kandungan apa yang digunakan? Bagaimana cara kerjanya? Apakah aman digunakan setiap hari?
Fenomena ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap kesehatan mulut mulai berkembang seiring meningkatnya literasi masyarakat mengenai pentingnya perawatan preventif.
Perawatan Gigi Bukan Lagi Sekadar Soal Senyum
Kesadaran tersebut juga dipengaruhi oleh tingginya biaya perawatan gigi.
Laporan WHO’s Oral Health Country Profile 2022 yang dikutip Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi mencapai sekitar US$1.160, termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara.
Data tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan gigi sejak dini sering kali jauh lebih murah dibandingkan harus menjalani tindakan perawatan ketika masalah sudah muncul.
Di sisi lain, perilaku belanja masyarakat juga mulai berubah.
Data Markethac mencatat penjualan kategori pasta gigi untuk gigi sensitif mencapai sekitar 339,3 ribu produk sepanjang Maret hingga Juni 2026. Dominasi transaksi di platform social commerce menunjukkan bahwa konsumen kini aktif mencari informasi sekaligus edukasi mengenai produk yang mereka gunakan setiap hari.
Mengapa Gigi Tetap Bernoda Meski Sudah Rutin Menyikat?
Menurut praktisi kesehatan gigi drg. Zahrah Almira Cita Utami, masih banyak masyarakat yang berharap pasta gigi mampu memberikan hasil instan tanpa mengubah kebiasaan sehari-hari.
“Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain atau noda di gigi akan tetap menempel dengan kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa langkah preventif justru dimulai dari kebiasaan sederhana.
“Kalau kebiasaan tersebut tidak bisa dikurangi, pastikan untuk selalu bilas atau berkumur menggunakan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman berwarna, bisa menggunakan sedotan untuk mengurangi dampak perubahan warna gigi,” katanya.
Selain itu, Zahrah mengingatkan agar masyarakat mulai memperhatikan kandungan produk oral care yang digunakan setiap hari.
“Jangan hanya memilih pasta gigi karena menghasilkan busa banyak. Yang lebih penting adalah produk tersebut memiliki kandungan yang memang bekerja sesuai fungsinya dan telah melalui pengujian.”
Skinification Membawa Cara Pandang Baru dalam Oral Care

Jika skinification pada skincare mengutamakan bahan aktif yang bekerja secara spesifik, konsep serupa kini mulai diterapkan pada produk perawatan gigi.
Alih-alih hanya mengandalkan bahan abrasif untuk mengikis noda, sejumlah formulasi terbaru mulai memanfaatkan kombinasi enzim yang bekerja lebih lembut pada permukaan gigi.
Papain, misalnya, dikenal membantu menguraikan protein penyebab noda dari kopi maupun teh. Dextranase berperan membantu memecah lapisan plak, sedangkan Lysozyme membantu menjaga keseimbangan bakteri alami di dalam rongga mulut.
Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan filosofi perawatan gigi, dari sekadar membersihkan menjadi merawat sekaligus melindungi.
Kesadaran Konsumen Menjadi Awal Perubahan
Michelle, Country Manager usmile Indonesia & Malaysia, menilai meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kandungan produk merupakan perkembangan positif bagi industri oral care.
“Apa yang disampaikan drg. Zahrah menggambarkan bagaimana konsumen kini mulai lebih kritis. Mereka tidak lagi hanya melihat klaim pemutih, tetapi juga mulai memahami pentingnya memilih formulasi yang aman bagi enamel gigi.”
Menurut Michelle, tren skinification membuka peluang lahirnya inovasi yang lebih berorientasi pada kesehatan jangka panjang.
“Melalui pendekatan enzyme complex yang kami gunakan pada usmile Repair White, kami ingin menghadirkan alternatif perawatan yang membantu mengangkat noda tanpa mengandalkan bahan abrasif yang berlebihan. Harapannya, masyarakat semakin memahami bahwa menjaga kesehatan gigi dimulai dari pemilihan produk yang tepat.”
Tren yang Kemungkinan Akan Terus Berkembang
Skinification menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin kritis dalam memilih produk perawatan diri. Setelah memahami pentingnya kandungan dalam skincare, kini perhatian yang sama mulai diberikan pada produk oral care.
Perubahan ini bukan sekadar mengikuti tren kecantikan, melainkan mencerminkan meningkatnya kesadaran bahwa kesehatan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Pada akhirnya, bukan lagi soal memilih pasta gigi yang paling banyak busanya atau paling cepat menjanjikan hasil, tetapi memahami bagaimana kandungan di dalamnya bekerja untuk menjaga kesehatan gigi dalam jangka panjang. Itulah yang perlahan menjadi wajah baru tren skinification di industri oral care.


















































