Home Entertainment Jerome Polin Sebut Lelah Lihat Bad News sebagai Privilege, Ajak Publik Jangan...

Jerome Polin Sebut Lelah Lihat Bad News sebagai Privilege, Ajak Publik Jangan Cuma Scroll

13
0
Jerome Polin - sumber foto instagram/jeromepolin
Jerome Polin - sumber foto instagram/jeromepolin
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Ada titik ketika membuka media sosial terasa seperti membuka pintu menuju kabar buruk yang tidak ada habisnya. Kebakaran, kelangkaan BBM, listrik padam, sampai kasus keracunan makanan muncul silih berganti di layar, membuat banyak orang akhirnya memilih berhenti membaca karena merasa mentalnya sudah terlalu lelah.

Perasaan tersebut juga dirasakan Jerome Polin. Namun, melalui sebuah unggahan, Jerome justru mengajak publik melihat kembali posisi mereka sebagai orang yang hanya menyaksikan kabar tersebut dari layar, sementara di luar sana ada orang-orang yang benar-benar mengalami dampaknya secara langsung.

“Capek Lihat Bad News” Ternyata Bisa Jadi Privilege

Jerome mengawali pemikirannya dengan mengakui bahwa dirinya juga sering merasa lelah melihat berbagai kabar buruk. Baginya, rasa jenuh setelah terus-menerus terpapar berita negatif adalah sesuatu yang sangat manusiawi, tetapi ada perspektif lain yang menurutnya perlu dipertimbangkan.

“Aku tahu banyak dari kita yang capek lihat bad news. Aku pun sering merasa seperti itu. Tapi dipikir-pikir lagi, kalau capek ‘cuma’ karena lihat bad news, itu udah bisa dibilang privilege,” ujar Jerome.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi mengandung pertanyaan yang cukup menohok. Ketika seseorang masih bisa menutup aplikasi, meletakkan ponsel, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa, ada orang lain yang mungkin tidak memiliki pilihan tersebut karena berita yang kita lihat adalah kenyataan yang sedang mereka jalani.

Jarak antara “melihat” dan “mengalami” inilah yang menjadi inti pemikiran Jerome. Rasa lelah karena membaca berita buruk tentu valid, tetapi penderitaan orang yang menjadi korban langsung memiliki konsekuensi yang jauh lebih nyata.

Bayangkan Kalau Bad News Itu adalah Kehidupan Kita

Jerome kemudian mengajak masyarakat membayangkan situasi dari sudut pandang korban. Bukan lagi sebagai headline yang lewat di timeline, tetapi sebagai sesuatu yang benar-benar mengubah rutinitas dan kehidupan seseorang.

Kebakaran hutan, misalnya, bukan hanya berita tentang asap dan kualitas udara. Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak, udara berbahaya dapat berarti aktivitas sehari-hari terganggu, kesehatan terancam, bahkan harus meninggalkan tempat tinggal.

Begitu pula dengan kelangkaan BBM. Bagi pengguna media sosial, berita tentang antrean panjang mungkin hanya menjadi sebuah unggahan yang dilihat beberapa detik, tetapi bagi warga yang membutuhkan bahan bakar, antrean berjam-jam dapat berarti kehilangan waktu, penghasilan, dan energi.

Hal serupa berlaku pada pemadaman listrik bergilir maupun kasus keracunan makanan. Di balik setiap informasi yang muncul di layar, ada manusia yang harus menghadapi konsekuensi nyata dari peristiwa tersebut.

Perspektif inilah yang ingin ditekankan Jerome. Ketika kita merasa lelah karena terlalu sering melihat berita buruk, mungkin ada baiknya berhenti sejenak dan menyadari bahwa orang-orang yang berada di pusat berita tersebut menghadapi beban yang jauh lebih berat.

Jangan Berhenti di Doomscrolling

Di era digital, salah satu respons paling mudah terhadap banjir informasi adalah scrolling. Kita membaca satu berita, berpindah ke video lain, melihat komentar, kemudian kembali menemukan kabar buruk berikutnya tanpa benar-benar melakukan sesuatu terhadap informasi yang baru saja diterima.

Fenomena tersebut membuat seseorang bisa merasa sangat emosional sekaligus tidak berdaya. Setelah merasa penuh dengan berbagai masalah di timeline, pilihan paling mudah adalah menutup aplikasi dan berharap berita berikutnya tidak seburuk sebelumnya.

Baca juga:

Jerome menawarkan perspektif berbeda. Menurutnya, jika seseorang memiliki kapasitas untuk membantu, sekecil apa pun kontribusinya, rasa lelah tersebut seharusnya tidak menjadi titik akhir.

“The least we can do adalah bersuara untuk membantu meningkatkan attention, repost berita supaya makin banyak yang aware dengan kondisinya, berdonasi kalau punya rezeki lebih, dan di level yang lebih tinggi, turun langsung untuk membantu,” tulisnya.

Tidak Semua Orang Harus Turun Langsung

Ajakan Jerome bukan berarti setiap orang harus langsung berada di lokasi bencana atau menjadi relawan. Bentuk kontribusi dapat disesuaikan dengan kemampuan, waktu, keamanan, dan sumber daya masing-masing.

Menyebarkan informasi yang kredibel dapat membantu meningkatkan perhatian publik. Berdonasi melalui lembaga atau organisasi yang terpercaya juga dapat menjadi pilihan bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial.

Sementara bagi orang yang mempunyai waktu, keahlian, atau akses yang relevan, keterlibatan langsung bisa menjadi bentuk kontribusi yang lebih besar. Yang penting adalah tidak menganggap informasi berhenti memiliki arti setelah kita selesai membacanya.

Tentu, membagikan informasi juga perlu dilakukan secara bertanggung jawab. Dalam situasi krisis, informasi yang belum terverifikasi justru dapat memperburuk keadaan, sehingga dorongan untuk “membantu” tetap perlu dibarengi dengan kemampuan memilah sumber.

Dari Rasa Lelah Menjadi Kesadaran

Pemikiran Jerome sebenarnya tidak meminta masyarakat untuk terus-menerus mengonsumsi berita buruk sampai kelelahan. Justru sebaliknya, kita tetap membutuhkan batas agar kesehatan mental tidak ikut terkikis oleh arus informasi yang tidak pernah berhenti.

Namun, ada perbedaan antara mengambil jeda dengan menjadi sepenuhnya tidak peduli. Kita boleh berhenti scrolling ketika sudah terlalu penuh, tetapi ketika memiliki energi dan kemampuan untuk membantu, informasi yang kita terima dapat diubah menjadi bentuk kepedulian.

Urbie’s, mungkin kalimat Jerome terasa mengganggu justru karena ada bagian dari kita yang pernah berada di posisi tersebut. Kita mengeluh karena timeline terlalu penuh dengan bad news, sementara bagi sebagian orang, bad news itu bukan sekadar konten yang muncul di layar—melainkan rumah yang terbakar, antrean BBM, listrik yang mati, udara yang tidak bisa dihirup dengan aman, atau tubuh yang jatuh sakit.

Pada akhirnya, privilege yang dimaksud Jerome bukan sesuatu yang harus membuat seseorang merasa bersalah. Ia justru bisa menjadi pengingat bahwa ketika kita memiliki jarak dari sebuah masalah, kita mungkin memiliki ruang untuk melakukan sesuatu bagi mereka yang tidak memiliki jarak tersebut.

Karena mungkin pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak bad news yang sanggup kita lihat?”, tetapi “setelah melihatnya, apa yang bisa kita lakukan?”