Hi Urbie’s! Kalau biasanya kamu cuma melihat Lay’s di rak minimarket sebagai camilan kentang favorit, sekarang brand legendaris itu naik level jauh lebih gila. Bayangkan sebuah restoran full tema Lay’s dengan bangunan warna kuning terang, dekorasi kentang raksasa, sampai menu dessert berbahan kentang yang terdengar absurd tapi bikin penasaran.
Yup, itu bukan konsep di film atau pop-up store sementara.
Lay’s resmi membuka restoran kentang global keduanya di distrik trendy Xintiandi, Shanghai, setelah sebelumnya membuka restoran pertama mereka di Madrid awal tahun ini.
Dan internet langsung heboh.
Banyak netizen menyebut restoran ini sebagai “surga pencinta kentang” karena hampir seluruh elemen di dalamnya dibuat seolah membawa pengunjung masuk ke dunia Lay’s versi nyata.
Bangunannya Langsung Mencuri Perhatian
Hal pertama yang bikin restoran ini viral tentu desainnya.
Gedung dua lantai tersebut tampil mencolok dengan warna kuning khas Lay’s yang sangat ikonik. Dari luar saja, tempat ini sudah terlihat seperti instalasi seni modern dibanding restoran biasa.
Masuk ke dalamnya, pengunjung langsung disambut dekorasi bertema kentang di mana-mana. Ada potato sculpture raksasa, mini potato farm, area display interaktif, hingga ruang makan yang dirancang sangat estetik dan futuristik.
Setiap sudut restoran terasa dibuat khusus agar Instagramable.
Dan memang, restoran ini tampaknya bukan hanya tempat makan biasa. Lay’s seperti ingin menciptakan pengalaman imersif yang membuat pengunjung merasa benar-benar “masuk” ke dalam brand mereka.
Bahkan banyak netizen menyebut konsep ini lebih mirip flagship experience store dibanding restoran fast food.
Menunya Bukan Sekadar Kentang Goreng
Kalau kamu berpikir menu di sini cuma keripik kentang dan french fries, siap-siap kaget, Urbie’s.
Restoran Lay’s di Shanghai menghadirkan lebih dari 50 menu berbasis kentang dengan konsep fine dining modern. Menu tersebut dirancang oleh chef ternama, termasuk chef peraih pengakuan Michelin, Francesco Bonvini dan Tian Shuai.
Hasilnya? Menu-menu yang terdengar aneh tapi menarik.
Mulai dari steak dengan mashed potato premium, seafood berpadu buah tropis dan kentang, dessert berbahan kentang, hingga potato oil chocolate yang langsung bikin netizen penasaran.
Ya, cokelat berbasis minyak kentang memang terdengar seperti eksperimen kuliner yang mustahil, tapi justru itu yang membuat restoran ini ramai diperbincangkan.
Lay’s tampaknya ingin menunjukkan bahwa kentang bukan sekadar makanan ringan, melainkan bahan utama yang bisa diolah menjadi pengalaman gastronomi premium.
Dan konsep itu ternyata berhasil menarik perhatian banyak orang.

Baca Juga:
- Musikal Mar Kembali Digelar di 2026: Jadwal, Cerita, Pemain, dan Fakta Menarik Pergelaran Terbaru
- Film Mother Mary (2026): Drama Musikal Anne Hathaway yang Penuh Misteri
- Mendadak Dibatalkan, Musikal “The Man Who Calls Forth Miracles” Bikin Fans Kecewa
Harga Makan di Sini Bisa Sampai Rp680 Ribu
Meski tampil playful dan penuh nuansa fun, restoran ini ternyata menyasar pasar premium.
Dilansir dari media lokal QQ News, biaya makan di restoran Lay’s Shanghai berkisar antara 200–300 RMB per orang atau sekitar Rp450 ribu hingga Rp680 ribu.
Harga tersebut membuat banyak netizen terkejut karena jauh dari image Lay’s sebagai snack murah merakyat.
Namun jika melihat konsep restoran, desain interior, hingga pengalaman kuliner yang ditawarkan, Lay’s memang tampaknya sedang mencoba masuk ke ranah experiential dining — tren di mana orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga mencari pengalaman unik yang bisa dibagikan di media sosial.
Dan di era TikTok serta Instagram sekarang, strategi seperti ini memang sangat powerful.
Snack Brand Kini Tak Lagi Bertarung di Rak Minimarket
Yang menarik, restoran Lay’s ini sebenarnya menunjukkan perubahan besar dalam strategi brand makanan global.
Dulu, brand snack hanya fokus bersaing di supermarket atau minimarket. Tapi sekarang, mereka mulai membangun pengalaman offline yang membuat konsumen benar-benar terhubung secara emosional dengan brand.
Lay’s bukan lagi sekadar keripik kentang.
Mereka sedang membangun lifestyle.
Konsep seperti ini sebenarnya mulai banyak muncul di berbagai negara. Brand makanan dan minuman kini berlomba membuat flagship cafe, immersive store, hingga restoran tematik demi menciptakan pengalaman yang viral secara visual.
Karena di zaman sekarang, memenangkan perhatian orang jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan rak penjualan.
Dan Lay’s tampaknya sangat memahami hal itu.
Merchandise Eksklusif Jadi Buruan
Bukan cuma makanannya yang bikin penasaran, restoran ini juga menjual merchandise eksklusif bertema Lay’s.
Mulai dari tote bag, aksesori, apparel, hingga item koleksi limited edition tersedia di dalam restoran.
Alhasil, banyak pengunjung datang bukan hanya untuk makan, tapi juga berburu barang unik yang tidak dijual di tempat lain.
Strategi ini membuat restoran Lay’s terasa seperti kombinasi antara cafe, gift shop, dan taman hiburan mini bertema kentang.
Dan tentu saja… internet menyukainya.
Masa Depan Restoran Brand Experience?
Fenomena restoran Lay’s di Shanghai mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang. Tapi sebenarnya, ini adalah gambaran masa depan industri makanan dan retail.
Kini, brand tidak lagi hanya menjual produk. Mereka menjual pengalaman, suasana, dan cerita yang bisa dibagikan di media sosial.
Dan lewat restoran bertema kentang ini, Lay’s berhasil membuat orang membicarakan sesuatu yang sangat sederhana — keripik kentang — menjadi pengalaman premium yang viral secara global.
Jadi Urbie’s, kalau suatu hari kamu jalan-jalan ke Shanghai, mungkin restoran ini wajib masuk wishlist. Karena kapan lagi bisa makan dessert kentang sambil duduk di bawah dekorasi kentang raksasa warna kuning neon?













































