
Hi Urbie’s! Melanjutkan kesuksesan rangkaian acara menuju CBD COP17 Armenia, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama The International Climate Initiative (IKI) Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) menggelar aksi edukasi lapangan pada hari kedua peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara, pada Sabtu (23/5/2026) ini berfokus pada penguatan literasi lingkungan generasi muda melalui pengalaman langsung di ekosistem pesisir.
Aksi lapangan ini melibatkan 120 siswa dan guru pendamping yang berasal dari sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Jakarta seperti SMAN 8, SMAN 78, SMAN 34, Yadika 2, SMA 112, dan SMA Islam Islamic Village. Setelah sebelumnya melangsungkan diskusi strategis bersama sektor akademisi di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok, Jawa Barat, penyelenggaraan hari kedua ini dirancang untuk memberikan pemahaman praktis mengenai fungsi penting ekosistem mangrove sebagai benteng pertahanan ekologi perkotaan.
Edukasi Langsung di Hutan Mangrove
Taman Wisata Alam Angke Kapuk dipilih sebagai lokasi kegiatan, karena merepresentasikan salah satu ekosistem mangrove urban yang krusial di ibu kota. Para siswa diajak untuk berinteraksi langsung dengan alam, mengenali berbagai spesies flora dan fauna pesisir, serta memahami mekanisme adaptasi ekosistem mangrove dalam menghadapi perubahan iklim global dan ancaman abrasi.
Langkah ini sejalan dengan salah satu poin dalam tujuh langkah strategis implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045, yakni menempatkan generasi muda sebagai pelopor masa depan konservasi melalui penguatan literasi dan tanggung jawab menjaga ekosistem lingkungan.

Sinergi global ini juga menegaskan pentingnya mempersiapkan generasi penerus sebagai garda depan aksi iklim di tingkat lokal yang berdampak pada keberlanjutan global.
Baca Juga:
- Hampton Square Gading Serpong, Spot Hangout Baru yang Bikin Betah: Kuliner Timur Tengah, Thai Fusion sampai Waffle Crispy Viral
- Satrio Wiratama Jadi Bayi Panda Pertama Lahir di Indonesia, Netizen Heboh Sambut “Rio” di Taman Safari Bogor!
- Sampah Organik Jadi Bom Waktu Emisi, Indonesia Gandeng Korea Selatan Perkuat Aksi Iklim
Gandabhaskara Saputra, Lead Communication Unit for Resilient Nature Cooperation Area, GIZ Indonesia mengatakan, “Kegiatan di TWA Angke Kapuk ini merupakan penutup dari peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional hasil kerja sama GIZ dan Kementerian Lingkungan Hidup dengan memberikan pengalaman dan edukasi pentingnya keanekaragaman hayati bagi generasi muda langsung di lapangan sebagai frontliners menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.”
Melalui pendekatan edukasi interaktif ini, para peserta mendapatkan wawasan baru yang mengubah cara pandang mereka terhadap pelestarian lingkungan. Pengalaman langsung di lapangan terbukti mampu menjembatani teori pengetahuan di sekolah dengan realita upaya konservasi di tingkat tapak.
Membangun Kesadaran Generasi Penerus
Vincent Suhardo, siswa dari SMK Yadika 2, mengungkapkan bahwa kegiatan lapangan ini memberikan banyak pengetahuan baru mengenai fungsi spesifik tanaman mangrove yang sebelumnya belum diketahui. “Saya jadi bisa paham soal mangrove, yang sebelumnya saya tidak tahu. Awalnya saya hanya tahu mangrove itu tumbuh di pinggir laut. Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa mangrove bisa mencegah abrasi, menghadapi perubahan cuaca, dan mampu hidup di tanah berlumpur. Saya juga jadi kenal jenis-jenis mangrove sekaligus bisa bertemu dengan teman-teman baru,” ujar Vincent.
Hal senada juga disampaikan oleh Dhistie Aderusla, siswi dari SMA 112 Jakarta, yang merasa kegiatan ini berhasil menumbuhkan kepedulian yang lebih mendalam terhadap kelestarian ekosistem pesisir. “Dari awal acara kami sudah diajarkan pengetahuan soal biota mangrove. Kami jadi tahu jenis-jenis mangrove, seperti bakau hitam dan jenis lainnya. Pengalaman langsung seperti ini membuat saya menjadi semakin lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Dhistie.
Sebagai mitra pembangunan yang sudah membersamai Indonesia lebih dari 5 dekade, sinergi berkelanjutan seperti yang terjalin antara KLH, GIZ, dan sektor pendidikan, dia kegiatan hari kedua diharapkan dapat melahirkan agen-agen perubahan muda yang siap berkontribusi aktif dalam menjaga keanekaragaman hayati nusantara demi keberlanjutan masa depan bumi dan pembangunan Indonesia yang lebih baik.











































