
Hi Urbie’s! Kalau ngomongin makanan terenak di Indonesia, nama rendang pasti selalu masuk daftar teratas. Hidangan khas Minang ini memang punya daya magis tersendiri. Aroma santan dan rempah yang dimasak perlahan selama berjam-jam mampu bikin siapa pun langsung lapar hanya dari baunya saja.
Tapi ternyata, membuat rendang otentik bukan perkara instan. Dibutuhkan kesabaran, teknik memasak yang tepat, hingga pemilihan rempah yang benar-benar detail supaya menghasilkan rasa rendang yang legit, pekat, dan kaya rasa.
Tim Urbanvibes berkesempatan mewawancarai langsung Luthfi Firdausi, Executive Chef Vasaka Hotel Jakarta, mengenai resep rendang daging sapi autentik yang biasa ia racik. Menariknya, proses memasak rendang ini memakan waktu hingga 6–7 jam demi menghasilkan tekstur dan rasa yang sempurna.
Menurut Chef Luthfi, kunci utama rendang bukan hanya terletak pada rempah, tetapi juga kesabaran selama proses memasak.
“Rendang itu gak bisa buru-buru. Semakin sabar dimasak, rasanya bakal makin keluar,” ujarnya kepada Urbanvibes.
Gunakan Daging Sandung Lamur untuk Hasil Empuk
Dalam resepnya, Chef Luthfi menggunakan daging sapi sandung lamur sebanyak 5 kilogram yang dipotong berbentuk cube besar sekitar 6–7 sentimeter. Jenis daging ini dipilih karena memiliki kombinasi lemak dan serat yang cocok untuk dimasak lama.
Saat direbus berjam-jam bersama santan dan rempah, tekstur daging akan menjadi super empuk tanpa mudah hancur.
Bukan cuma itu, penggunaan santan juga jadi elemen penting dalam rendang. Chef Luthfi memakai dua jenis santan sekaligus, yaitu santan cair sebanyak 7 liter dan santan kental sebanyak 5 liter dari kelapa tua asli.
Penggunaan santan asli ini membuat rasa rendang jauh lebih gurih dan aromanya lebih autentik dibanding santan instan.
Karambia Sangrai Jadi Rahasia Aroma Rendang
Salah satu detail menarik dari resep ini adalah penggunaan “karambia sangrai” atau kelapa parut sangrai khas Minang.
Chef Luthfi menjelaskan bahwa tiga butir kelapa parut disangrai tanpa minyak menggunakan api kecil sambil terus diaduk hingga berubah warna menjadi cokelat tua. Setelah itu, kelapa ditumbuk kasar hingga menghasilkan sekitar 500 gram karambia.
Nah, bagian inilah yang nantinya memberikan warna hitam kecokelatan khas rendang sekaligus aroma smoky yang menggoda.
“Banyak orang kira warna hitam rendang itu gosong, padahal bukan. Itu hasil caramelize dari santan dan kelapa sangrai,” jelasnya.
Rempah Melimpah Jadi Kunci Rasa
Untuk menghasilkan rasa rendang yang dalam dan kompleks, Chef Luthfi menggunakan kombinasi bumbu halus dalam jumlah besar.
Mulai dari cabai merah keriting 800 gram, cabai rawit merah 150 gram, bawang merah 1 kilogram, bawang putih 250 gram, jahe 150 gram, lengkuas 500 gram, hingga kunyit 120 gram.
Tak berhenti di situ, berbagai rempah tambahan seperti ketumbar sangrai, jintan, pala bubuk, kapulaga, cengkeh, hingga bunga lawang juga ikut dimasukkan demi memperkaya aroma.
Sementara untuk bagian perdaunan, terdapat serai geprek, daun kunyit, daun jeruk, daun salam, dan asam kandis yang membuat aroma rendang semakin khas.
Proses Memasak yang Panjang Jadi Penentu
Chef Luthfi memulai proses memasak dengan memanaskan minyak kelapa dan lemak sapi cair menggunakan api kecil.
Setelah itu, rempah-rempah dan daun aromatik ditumis perlahan hingga harum sebelum bumbu halus dimasukkan. Proses menumis ini saja memakan waktu sekitar 35–45 menit supaya semua bumbu benar-benar matang dan aromanya keluar sempurna.
Baca Juga:
- Stroke Bisa Menyerang Tanpa Gejala, Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Bagikan Pengalaman Mengejutkan
- Urat Tangan Terlihat Menonjol Saat Nyetir? Ternyata Bisa Jadi Tanda Tubuh Sedang Bekerja dengan Baik
- Dark Chocolate Ternyata Bisa Bantu Regenerasi Tubuh? Ini Fakta Ilmiahnya, Urbie’s!
Langkah berikutnya adalah memasukkan santan cair sedikit demi sedikit sambil terus diaduk agar santan tidak pecah.
“Ini salah satu bagian paling penting. Kalau santan pecah, hasil rendangnya beda,” kata Chef Luthfi.
Setelah kuah mulai mendidih, daging sapi dimasukkan dan dimasak sekitar dua jam menggunakan api sedang kecil.
Barulah santan kental dimasukkan perlahan sambil sesekali diaduk hingga teksturnya menyerupai gulai.
Jangan Malas Mengaduk!
Saat kuah mulai menyusut sekitar 50 persen, karambia sangrai dimasukkan. Dari titik inilah proses transformasi gulai menjadi rendang dimulai.
Warna kuah perlahan berubah lebih gelap, minyak mulai naik ke permukaan, dan aroma kelapa sangrai semakin kuat.
Chef Luthfi menekankan bahwa proses pengadukan berkala sangat penting agar bumbu tidak gosong dan matang merata.
“Minimal aduk tiap 10–15 menit sekali. Apinya kecil aja. Di situ letak kesabarannya,” ujarnya sambil tertawa.
Semakin lama dimasak, bumbu rendang akan semakin mengental dan menempel sempurna pada daging. Proses inilah yang menciptakan tekstur rendang autentik khas Minang.
Hasil Akhir Rendang yang Autentik
Setelah dimasak selama kurang lebih 6–7 jam, rendang akhirnya mencapai tahap sempurna.
Warnanya hitam kecokelatan, bumbunya pekat menempel pada daging, teksturnya empuk, dan aroma kelapa sangrai langsung tercium kuat begitu tutup panci dibuka.
Chef Luthfi mengatakan bahwa rendang terbaik justru lahir dari proses memasak yang perlahan dan penuh kesabaran.
“Kalau buru-buru, hasilnya bukan rendang. Itu masih kalio,” tutupnya.
Jadi Urbie’s, kalau selama ini mengira rendang cuma soal santan dan cabai, ternyata ada banyak detail kecil yang menentukan rasa akhirnya. Mulai dari teknik mengaduk, tingkat api, hingga proses memasak berjam-jam yang jadi rahasia kelezatan rendang otentik Indonesia.

















































