Hi Urbie’s! Di era serba digital seperti sekarang, satu unggahan bisa langsung menjadi sorotan nasional hanya dalam hitungan menit. Hal itulah yang baru saja dialami oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN setelah poster ucapan Hari Lahir Pancasila yang mereka unggah menuai kritik tajam dari warganet. Bukan karena desainnya yang terlalu sederhana atau warna yang kurang menarik, melainkan karena kesalahan fatal pada Lambang Garuda Pancasila yang dianggap tidak sesuai dengan aturan resmi negara.
Kesalahan tersebut langsung ramai diperbincangkan di media sosial, terutama di platform X. Banyak warganet menyadari bahwa detail pada sayap dan ekor Garuda dalam poster itu tidak sesuai dengan pakem resmi Lambang Negara Indonesia. Dalam poster tersebut, Garuda tampak memiliki 15 dan 16 helai bulu pada bagian sayap, serta hanya 7 helai bulu pada bagian ekor.
Padahal, jumlah bulu pada Lambang Garuda bukan sekadar ornamen biasa, lho, Urbie’s! Setiap detail memiliki makna historis yang berkaitan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia. Garuda Pancasila secara resmi memiliki 17 helai bulu di masing-masing sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 helai bulu di bawah perisai, dan 45 helai bulu di leher. Angka tersebut melambangkan tanggal bersejarah 17 Agustus 1945.
Baca Juga:
- Rahasia Awet Muda Ringo Starr di Usia 85 Tahun? Ternyata Brokoli Jadi Kunci Utamanya!
- Ternyata Ini Pentingnya Susu untuk Semua Usia yang Sering Terlewatkan!
- Kenali Bahaya Obesitas dan Solusi Operasi Bariatrik untuk Hidup Lebih Sehat
Warganet Curiga Poster Dibuat Menggunakan AI
Tak hanya jumlah bulu yang menjadi sorotan, beberapa netizen juga menilai simbol kepala banteng dan pohon beringin di bagian perisai Garuda tampak tidak proporsional dan kurang sempurna. Karena itu, banyak yang menduga poster tersebut dibuat menggunakan bantuan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Dugaan penggunaan AI ini semakin memicu diskusi panjang di media sosial. Sebab, meskipun AI kini banyak digunakan untuk mempercepat proses desain dan produksi konten visual, teknologi tersebut tetap memerlukan proses pengecekan manual. Apalagi jika konten yang dibuat berkaitan dengan simbol negara dan peringatan nasional yang sakral seperti Hari Lahir Pancasila.
Warganet pun mempertanyakan bagaimana poster resmi dari lembaga negara sebesar BRIN bisa lolos tanpa proses verifikasi yang detail. Banyak yang menganggap kesalahan tersebut seharusnya bisa dicegah jika ada tahap pengecekan akhir sebelum konten dipublikasikan ke publik.
BRIN Sampaikan Permintaan Maaf dan Ganti Poster Baru
Setelah kritik terus bermunculan, BRIN akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Melalui akun resmi @brin_indonesia di platform X pada Senin, 1 Juni, BRIN mengakui adanya kekeliruan dalam konten yang telah mereka bagikan.
“BRIN Indonesia menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan dalam tayangan konten peringatan Hari Lahir Pancasila yang telah kami bagikan. Hal ini menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih teliti, cermat, dan berhati-hati dalam proses pembuatan serta penyebaran konten di masa mendatang,” tulis pernyataan tersebut.
Tak lama setelah permintaan maaf itu diunggah, poster lama langsung diturunkan dan diganti dengan desain baru yang telah diperbaiki. Langkah cepat tersebut sedikit meredam kritik, meskipun diskusi mengenai penggunaan AI dalam produksi konten resmi masih terus berlangsung di media sosial.
Jadi Pengingat Penting di Era AI
Fenomena ini juga membuka obrolan baru mengenai tantangan penggunaan AI di era digital. Di satu sisi, AI memang membantu banyak pekerjaan kreatif menjadi lebih cepat dan efisien. Namun di sisi lain, teknologi ini tetap tidak bisa sepenuhnya menggantikan ketelitian manusia, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan identitas nasional, budaya, dan simbol negara.
Kasus yang menimpa BRIN menjadi pengingat bahwa penggunaan AI perlu diimbangi dengan proses quality control yang ketat. Sebab, sekecil apa pun kesalahan pada simbol negara bisa memicu reaksi besar dari masyarakat. Terlebih, Hari Lahir Pancasila bukan hanya seremoni tahunan biasa, tetapi juga momen penting untuk merefleksikan nilai-nilai persatuan dan identitas bangsa Indonesia.
Banyak netizen juga mengingatkan bahwa simbol Garuda Pancasila bukan sekadar ilustrasi desain yang bisa dimodifikasi sesuka hati. Lambang negara memiliki aturan visual dan filosofi yang telah ditetapkan secara resmi. Karena itu, akurasi dalam penggunaannya menjadi hal yang sangat penting.
Di tengah perkembangan teknologi AI yang makin masif, kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi banyak institusi, brand, hingga kreator digital. Teknologi boleh canggih, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi faktor utama untuk memastikan kualitas dan akurasi sebuah karya.
Jadi, bagaimana menurut kamu, Urbie’s? Apakah penggunaan AI dalam desain konten resmi memang perlu dibatasi, atau justru harus diimbangi dengan pengawasan manusia yang lebih ketat?














































