Hi Urbie’s! Kalau belakangan ini kamu masih sering kehujanan padahal kalender sudah memasuki musim kemarau, ternyata kamu tidak sendirian. Banyak wilayah di Indonesia masih mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, bahkan disertai angin kencang. Fenomena ini membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya, “Bukannya sekarang sudah musim kemarau?”
Jawabannya ada pada kondisi atmosfer yang sedang aktif di wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa musim kemarau bukan berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Dalam situasi tertentu, atmosfer masih mampu memicu pembentukan awan hujan yang menyebabkan cuaca ekstrem terjadi secara lokal.
Untuk Senin, 3 Agustus 2026, BMKG kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan karena sejumlah daerah diprakirakan masih berpotensi mengalami hujan lebat hingga angin kencang.
Musim Kemarau Tetap Bisa Memunculkan Hujan Lebat
Banyak orang menganggap musim kemarau identik dengan langit cerah sepanjang hari. Namun menurut BMKG, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Musim kemarau hanya menunjukkan bahwa curah hujan secara umum mengalami penurunan dibandingkan musim hujan. Artinya, hujan tetap bisa turun apabila terdapat kondisi atmosfer yang mendukung pembentukan awan hujan.
Dalam beberapa hari terakhir, kondisi tersebut masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Hasil pemantauan BMKG pada periode 27–29 Juli 2026 menunjukkan sejumlah daerah masih mengalami hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat.
Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatera Barat mencapai 126 milimeter per hari, disusul Kepulauan Riau sebesar 97 milimeter per hari, Aceh 83,5 milimeter per hari, dan Jawa Barat 53,4 milimeter per hari.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meski musim kemarau telah berlangsung, potensi hujan ekstrem masih perlu diwaspadai.
Gelombang Atmosfer dan Bibit Siklon Jadi Pemicunya
BMKG menjelaskan bahwa hujan yang masih terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor atmosfer.
Salah satunya adalah aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial, dua fenomena atmosfer yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi adanya anomali negatif Outgoing Longwave Radiation (OLR).
Secara sederhana, kondisi ini menunjukkan meningkatnya tutupan awan di atmosfer yang mendukung terbentuknya hujan.
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Faktor lain yang turut memengaruhi adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W di Samudra Pasifik sebelah utara Papua Barat.
Sistem ini membentuk pola konvergensi dan konfluensi di sekitar Laut Filipina serta wilayah di sekitar sirkulasinya. Pertemuan massa udara tersebut menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan awan hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di sejumlah daerah.
Daftar Wilayah Berpotensi Hujan Lebat pada 3 Agustus 2026
Berdasarkan prakiraan BMKG, sejumlah wilayah diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada Senin (3/8/2026), yaitu:
- Riau
- Kepulauan Riau
- Jambi
- Sumatera Selatan
- Bengkulu
- Jawa Barat
- Kalimantan Barat
- Maluku
- Papua
- Pegunungan Papua
Sementara itu, wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat meliputi:
- Aceh
- Sumatera Utara
- Sumatera Barat
Masyarakat di daerah tersebut diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terbaru dan mewaspadai kemungkinan perubahan kondisi secara cepat.
Angin Kencang Juga Perlu Diwaspadai
Selain hujan, BMKG juga memprakirakan adanya peningkatan kecepatan angin permukaan di sejumlah wilayah.
Daerah yang berpotensi mengalami angin kencang pada 3 Agustus 2026 meliputi:
- Aceh
- Bali
- Jawa Timur
- Maluku
- Nusa Tenggara Timur
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Utara
Keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W juga diperkirakan meningkatkan tinggi gelombang di sejumlah perairan utara Indonesia.
Karena itu, nelayan, operator kapal, hingga masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi dan cuaca buruk.
Baca Juga:
- 3 Spot Kuliner Baru di iLLago Grande Gading Serpong yang Wajib Dicoba, Ada Sushi Mulai Rp5.000 hingga Cafe Work From Cafe
- Sinopsis Film Deep Water (2026): Berawal dari Satu Power Bank, Penerbangan Berubah Jadi Neraka di Laut Penuh Hiu
- Bunga di Tepi Jurang Tayang 31 Juli, Kisah Perjuangan Andini Siap Bikin Penonton Ikut Merasakan Setiap Emosinya
Prakiraan Cuaca Ekstrem Berlanjut pada 4 Agustus
BMKG juga telah merilis prakiraan cuaca untuk Selasa (4/8/2026).
Wilayah yang diperkirakan masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat antara lain:
- Aceh
- Sumatera Utara
- Sumatera Selatan
- Papua
- Pegunungan Papua
Sementara itu, untuk kategori hujan lebat hingga sangat lebat, BMKG belum memprakirakan adanya wilayah yang masuk dalam kategori tersebut pada 4 Agustus.
Adapun potensi angin kencang diperkirakan masih terjadi di:
- Aceh
- Maluku
- Maluku Utara
- Nusa Tenggara Timur
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Utara
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
BMKG mengingatkan bahwa cuaca ekstrem masih mungkin terjadi meskipun sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Warga, terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir, tanah longsor, maupun daerah dengan banyak pepohonan besar, diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
Selain itu, masyarakat disarankan untuk selalu memantau informasi cuaca terbaru sebelum melakukan perjalanan atau aktivitas di luar ruangan.
Bagi nelayan dan pelaku aktivitas kelautan, perkembangan informasi mengenai tinggi gelombang dan kecepatan angin juga menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Musim kemarau memang telah tiba, tetapi kondisi atmosfer yang dinamis membuat hujan lebat dan angin kencang masih dapat muncul sewaktu-waktu. Karena itu, kesiapsiagaan menjadi langkah terbaik untuk meminimalkan risiko akibat cuaca ekstrem.


















































