Home Entertainment Jenenge Sopo? bocoran mengenai Rollerblade Part Two Dari No Na

Jenenge Sopo? bocoran mengenai Rollerblade Part Two Dari No Na

8
0
no na Bawakan Jenege Sopo? - sumber foto instagram
no na Bawakan Jenege Sopo? - sumber foto instagram
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s!, kalau ada satu hal yang sedang berubah dari peta musik Indonesia, mungkin jawabannya bisa ditemukan dari angka monthly listeners sebuah girl group bernama no na. Bukan cuma karena mereka sedang menyiapkan album debut, tetapi karena nama no na kini mulai bergerak semakin jauh dari panggung lokal menuju telinga pendengar global.

Grup yang beranggotakan Baila, Ester, Christy, dan Shaz tersebut mencatat pencapaian baru di Spotify dengan menjadi girl group Indonesia dengan jumlah monthly listeners tertinggi. Berdasarkan data yang dibagikan akun no na Spotify Chart Info, no na kini mencapai sekitar 2,7 juta monthly listeners, unggul cukup jauh dari JKT48 yang berada di angka sekitar 1 juta.

Angka tersebut menjadi semakin menarik jika melihat posisi grup lain dalam daftar lima besar. Cherrybelle berada di angka 648 ribu monthly listeners, disusul Dewi Dewi dengan 491 ribu dan MARBLES dengan 289 ribu pendengar bulanan.

Dari “Rollerblade” ke “Island Girl”

Pertumbuhan pendengar no na tidak datang begitu saja, karena dalam beberapa waktu terakhir mereka aktif memperkenalkan musik baru kepada publik. Lagu seperti “Rollerblade” dan “Honk!” disebut ikut mendorong peningkatan jumlah pendengar mereka di platform streaming.

Namun, perjalanan no na tampaknya baru memasuki babak berikutnya. Mereka tengah menyiapkan album perdana bertajuk “Island Girl”, sebuah rilisan yang akan menjadi penanda penting dalam perjalanan musik grup tersebut.

Album ini dirancang bukan hanya sebagai kumpulan lagu baru. “Island Girl” juga akan merangkum sejumlah lagu yang sebelumnya sudah dikenal pendengar no na, sekaligus menghadirkan materi baru yang memperlihatkan arah musikal mereka.

Salah satu lagu yang paling menarik perhatian adalah “Rollerblade Part Two”. Lagu tersebut semakin membuat penggemar penasaran setelah no na memberikan teaser dalam penampilan terbaru mereka di Head In The Clouds Los Angeles.

Ada Bahasa Jawa di “Rollerblade Part Two”

Penampilan di Los Angeles ternyata tidak hanya menjadi kesempatan bagi no na untuk tampil di hadapan audiens internasional. Dari panggung tersebut, mereka juga memberikan sedikit bocoran mengenai “Rollerblade Part Two” yang ternyata menyisipkan line berbahasa Jawa dalam liriknya “Jenenge Sopo”.

Keputusan memasukkan bahasa Jawa di tengah karya yang ditujukan untuk pendengar global terasa seperti langkah kecil dengan makna besar. Ketika musik semakin mudah melintasi batas negara melalui streaming, identitas lokal justru bisa menjadi sesuatu yang membuat sebuah karya lebih mudah dikenali.

Bahasa Jawa dalam lagu tersebut juga memperlihatkan bahwa menjadi global tidak selalu berarti harus meninggalkan unsur lokal. Sebaliknya, elemen budaya yang khas dapat menjadi bagian dari identitas yang membedakan no na dari banyak grup lain di industri musik internasional.

2,7 Juta Monthly Listeners dan Fenomena Baru

Pencapaian 2,7 juta monthly listeners no na kemudian menjadi bahan perbincangan di media sosial. Unggahan mengenai daftar tersebut telah meraih lebih dari 81 ribu tayangan, menunjukkan bahwa pencapaian mereka tidak luput dari perhatian publik digital.

Yang menarik, angka tersebut bukan hanya menunjukkan popularitas sebuah grup, tetapi juga memperlihatkan bagaimana algoritma dan platform streaming dapat mengubah cara musisi lokal menemukan pendengar. Satu lagu yang berhasil masuk ke telinga audiens baru dapat membawa pendengar tersebut menemukan katalog musik lainnya.

Di titik ini, Spotify tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk mendengarkan lagu. Bagi musisi Indonesia seperti no na, platform digital juga menjadi pintu untuk memperkenalkan karakter musik mereka kepada orang-orang yang mungkin sebelumnya bahkan tidak mengenal nama grup tersebut.

Baca Juga:

“Island Girl” dan Langkah Berikutnya no na

Album debut no na disebut akan membawa 15 lagu dalam satu paket rilisan. Beberapa lagu yang sudah disebut masuk di dalamnya antara lain “Honk!”, “Rollerblade”, dan “Work”, sementara materi baru seperti “Rollerblade Part Two” menjadi salah satu yang paling ditunggu.

Dengan katalog yang semakin bertambah, no na punya ruang lebih besar untuk menunjukkan siapa mereka sebagai grup. Bukan sekadar mengejar satu lagu viral, tetapi membangun identitas musikal yang bisa membuat pendengar bertahan lebih lama.

Di sinilah “Island Girl” menjadi penting. Album debut bukan cuma soal menandai bahwa sebuah grup akhirnya memiliki album penuh, tetapi juga kesempatan untuk menjawab pertanyaan sederhana: seperti apa suara no na ketika mereka diberi ruang untuk bercerita lebih panjang?

Dari New York ke Los Angeles Demi Bertemu no na

Cerita tentang perjalanan no na juga terasa semakin personal ketika muncul kisah seorang penggemar cilik bernama No Na Elsa. Penggemar yang disebut sebagai “Orchids cilik” tersebut bahkan melakukan perjalanan dari New York ke Los Angeles demi mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan Baila, Ester, Christy, dan Shaz.

Perjalanan tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana fandom no na mulai tumbuh melewati batas geografis Indonesia. Bagi seorang penggemar, perjalanan lintas kota bahkan lintas negara bisa terasa sepadan ketika akhirnya dapat berdiri di depan artis yang selama ini hanya ditemui melalui layar.

Momen seperti ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan angka streaming pada akhirnya memiliki cerita manusia di baliknya. Ada pendengar yang menemukan lagu secara acak, ada yang kemudian menjadi penggemar, dan ada pula yang rela melakukan perjalanan jauh untuk bertemu langsung dengan idolanya.

Ketika Musik Lokal Mulai Punya Pasar Global

Fenomena no na menunjukkan bahwa peluang musisi lokal untuk menjangkau pasar global semakin terbuka. Streaming membuat jarak antara Jakarta, Los Angeles, New York, dan kota-kota lain di dunia terasa jauh lebih pendek ketika sebuah lagu berhasil menemukan pendengarnya.

Pertumbuhan tersebut juga memiliki kaitan dengan perkembangan industri kreatif dan SDG 8 tentang Decent Work and Economic Growth. Ketika musisi lokal mampu membangun audiens internasional, semakin terbuka pula peluang ekonomi bagi talenta, kreator, produser, pekerja panggung, hingga ekosistem pendukung industri musik.

Pada akhirnya, “Island Girl” mungkin bukan sekadar album debut bagi no na. Ia bisa menjadi kartu nama baru yang mereka bawa dari Indonesia menuju panggung yang lebih luas, apalagi ketika sebuah lagu mampu membuat pendengar global mendengar sedikit rasa Jawa di dalamnya.

Jadi, Urbie’s, sebelum no na benar-benar membawa “Island Girl” berlayar lebih jauh, ada satu hal yang layak ditunggu: apakah 15 lagu dalam album ini mampu mengubah angka 2,7 juta monthly listeners menjadi komunitas pendengar global yang jauh lebih besar? Jika melihat perjalanan mereka sejauh ini, sepertinya cerita no na baru saja dimulai.