Home Highlight Gempa NTT: Dompet Dhuafa Siapkan 81 Ton Bantuan

Gempa NTT: Dompet Dhuafa Siapkan 81 Ton Bantuan

1
0
Konferensi Pers Dompet Dhuafa Siapkan Distribusi 81 Ton Logistik Bagi Penyintas Gempa yang digelar di Jakarta, Selasa (18/8/2026). (Foto: Dok. Dompet Dhuafa)
Iklan Top Ad Urbanvibes Banner

Hi Urbie’s! Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat kebutuhan pangan, layanan kesehatan, dan logistik bagi penyintas terus meningkat. Di tengah akses jalan yang masih terganggu longsor serta jaringan listrik dan komunikasi yang belum sepenuhnya pulih, Dompet Dhuafa menyiapkan bantuan logistik hingga 81 ton.

Pada tahap awal, sekitar 9 ton bantuan logistik diberangkatkan melalui jalur laut dari Labuan Bajo dan jalur darat dari Ende menuju sejumlah wilayah terdampak. Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi akses dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Operasi pencarian, pertolongan, dan respons darurat masih berlangsung hingga Selasa (18/8/2026). Sejumlah ruas jalan nasional dilaporkan masih terhambat material longsor, sedangkan pasokan listrik dan jaringan komunikasi belum sepenuhnya pulih di beberapa lokasi.

Bantuan gempa NTT diarahkan ke wilayah dengan akses terbatas

Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa membagi operasi kemanusiaan ke sejumlah titik untuk mempercepat distribusi bantuan.

Pos induk ditempatkan di Mbay, Nagekeo, sementara pos aju berada di Labuan Bajo. Pos bantuan logistik dan layanan kesehatan juga disebar di sejumlah wilayah, antara lain Nagekeo, Reok, Ruteng, Ronting, Maumere, Wera, dan Rota.

Kepala DMC Dompet Dhuafa, Shofa Qudus, mengatakan tim kemanusiaan terus bergerak menuju wilayah yang membutuhkan bantuan. Dari Ende, tim menyiapkan sekitar 6–8 ton logistik untuk dikirim ke Nagekeo.

“Saat ini pergerakan tim akan masuk ke berbagai wilayah. Tim sudah posisi di Ende dan menyiapkan logistik sebanyak 6–8 ton untuk didistribusikan ke Nagekeo,” ujarnya di acara konferensi pers, Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Distribusi juga diarahkan ke Ronting yang menjadi salah satu wilayah fokus penanganan sejak hari pertama. Untuk mendukung distribusi berikutnya, Dompet Dhuafa menyiapkan pos logistik di Labuan Bajo dan Nagekeo.

“Bantuan logistik akan terus kami gulirkan khususnya di wilayah Ronting yang sudah dari hari pertama kami melakukan penanganan. Sementara itu, kami akan membuat pos logistik baik di Labuan Bajo maupun Nagekeo,” kata Shofa.

Pasar mulai beraktivitas, stok kebutuhan pokok masih terbatas

Di Ende, aktivitas ekonomi mulai berangsur berjalan. Namun, ketersediaan barang dan kebutuhan pokok masih terbatas sehingga bantuan dari luar wilayah tetap diperlukan.

Eka, anggota tim DMC Dompet Dhuafa yang berada di Ende, mengatakan sekitar 6 ton bantuan disiapkan untuk diangkut menggunakan truk menuju Mbay, Nagekeo.

“Alhamdulillah pasar sudah buka, namun toko dan kebutuhan lainnya masih sangat terbatas. Bantuan dengan sekitar 6 ton barang untuk diangkut dengan truk menuju Nagekeo (Mbay),” kata Eka.

Selain melalui jalur darat, distribusi logistik dilakukan lewat laut. Chiki Fawzi turut menginisiasi pengiriman sekitar 6 ton bantuan melalui kanal online.

Kondisi geografis NTT sebagai wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan utama dalam penyaluran bantuan. Keterbatasan akses jalan dan transportasi membuat distribusi harus menggunakan kombinasi jalur darat dan laut agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak penyintas.

Baca Juga:

Layanan kesehatan prioritaskan ibu hamil dan balita

Respons kemanusiaan Dompet Dhuafa tidak hanya berupa distribusi logistik. Tim kesehatan juga memberikan pendampingan kepada kelompok yang membutuhkan perhatian khusus, terutama ibu hamil, balita, dan ibu menyusui.

Program Kesehatan Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, MKM., mengatakan tim kesehatan masih menyisir sejumlah wilayah terdampak karena beberapa fasilitas kesehatan dan rumah sakit menghadapi kendala pascabencana.

“Hingga sore ini tim layanan kesehatan terus melakukan pendampingan terutama bagi penyintas ibu hamil, balita dan ibu menyusui. Hal ini menjadi sasaran utama kami,” ujarnya.

Tim kesehatan juga berupaya menjangkau penyintas di wilayah lain agar kebutuhan medis dapat segera ditangani.

Selain layanan kesehatan, respons di lapangan mencakup psychological first aid atau pertolongan pertama psikologis bagi penyintas yang membutuhkan dukungan setelah mengalami bencana.

BNPB dorong bantuan berlanjut hingga tahap pemulihan

Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga kemanusiaan dinilai penting untuk memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah terdampak secara lebih merata.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Pangarso Suryotomo, berharap dukungan Dompet Dhuafa tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi dapat berlanjut hingga masyarakat memasuki tahap pemulihan.

“Kami berharap bantuan dan dukungan dari Dompet Dhuafa bukan hanya pada saat darurat saja, namun diharapkan bantuan dan kolaborasi ini dapat berkesinambungan,” katanya.

Menurut Pangarso, program lanjutan yang memperkuat ketahanan masyarakat terdampak dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan sekaligus menjadi contoh kolaborasi penanggulangan bencana.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi karena karakter geografis NTT sebagai wilayah kepulauan membuat distribusi bantuan menghadapi tantangan transportasi.

“Koordinasi menjadi penting dalam tanggap bencana di seluruh titik NTT sehingga diharapkan dapat menjadi pemerataan bagi bantuan yang tersalurkan. Kendala saat ini karena daerah kepulauan hingga transportasi terbatas,” ujar Pangarso.

Ia menilai keterlibatan sumber daya lokal juga dapat memperkuat penanganan bencana, khususnya di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan akses berbeda-beda.

Lebih dari 3.000 jiwa telah menerima bantuan

Hingga laporan tersebut disusun, respons Dompet Dhuafa telah menjangkau 3.094 jiwa penerima manfaat.

Berdasarkan data yang disampaikan Dompet Dhuafa, sebanyak 1.264 jiwa menerima bantuan logistik, 1.560 jiwa mendapatkan makanan, 105 jiwa memperoleh layanan kesehatan, dan 15 jiwa mendapatkan psychological first aid. Selain itu, 150 jiwa telah mendapatkan layanan evakuasi.

Dengan target distribusi mencapai 81 ton logistik, Dompet Dhuafa menyatakan penyaluran bantuan akan dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kondisi akses di lapangan.

Bagi penyintas gempa NTT, bantuan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Akses terhadap pangan, layanan kesehatan, dukungan psikologis, serta jalur distribusi yang aman menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat setelah bencana.